![]() |
| Kota Pelajar. Tentang Sahabat dan Semua Hal yang Menjadikannya Indah. |
Yang kutulis pada waktu ini, pukul
23.57 WIB tengah malam. Setelah makan malam yang memang terlalu malam menurut
kalian tapi tidak menurutku karena aku tadi kelaparan. Adalah lanjutan dari
kisah sebelumnya, kisah yang mungkin telah kalian lupakan, dan semoga saja tidak
.
Kisah yang diawali dari dua sejoli yang sedang jatuh
hati, dan masing-masing dari mereka saling menyukai. Namun tetap tak bisa
bersama karena alasan-alasan yang aku sendiri pun tetap tak mengerti karena
mereka berdua tak pernah bercerita kepadaku.
Dan kalian yang sempat membaca
ceritaku mungkin bertanya-tanya saat itu. Lantas mengapa mereka tak bisa
bersama? Adakah yang salah? Entahlah ! Aku tak bisa menjawabnya.
Ini terlalu rumit, menurutku. Dan tidak, menurut
mereka yang merasa. Tapi, ah entahlah. Sebenarnya dan memang seharusnya. Tak
pernah ada yang salah ketika kita mempunyai perasaan, hanya saja terkadang
orang yang diberi perasaan itu yang tak mengerti bagaimana memberi arti. Tapi,
aku juga tak yakin dengan kalimat ini. Karena aku juga hanya mengada-ngada
tadi.
Yaaa, tapi ah sudahlah. Biarkan cerita dan semua
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini tetap menjadi rahasia Firman dan Rida. Biarkanlah
takdir dan waktu yang menjawab segalanya.
1
Cerita ini kemudian dilanjutkan
dengan tema yang berbeda. Pemeran utama yang berbeda, yang tentunya bukan
Firman ataupun Rida. Namun tetap berlatar di kota yang sama.
Tentang ke bodoh an seorang wanita
yang tetap mencintai lelakinya. Ah tidak, maksudku, lelaki teman baiknya. Dan
untuk beberapa lama ia memilih bertahan dalam kisah “Secret Admirer” nya hingga akhirnya ia menyerah. Kalah. Dikalahkan
oleh waktu.
Dan begitulah. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Dan
kalaupun kau memaksakan cinta, maka
semua itu takkan pernah berakhir indah. Seperti kata Pidi Baiq yang ku kutip
sendiri dari twitternya“Cinta itu indah.
Jika bagimu tidak, mungkin kamu salah memilih pasangan.” Dan benar saja.
Memang begitu kenyataannya.
Dan, menurutku Cindy mungkin mengerti. Begitupun
Rangga dan Salsa. Cinta selalu memakan korban. Entah itu korban materi ataupun
perasaan. Jika diantara ketiganya belum ada yang menjadi korban, maka waktu
yang akan menjadikan salah satu dari mereka sebagai korban yang akan
“tersakiti” secara perlahan.
Disini, Cindy lah yang menjadi korban. Cindy lah si
pihak yang “tersakiti” karena keteguhannya dalam mempertahankan kisah “Jatuh Cinta Diam-Diam” nya. Tapi, menurutku Cindy pun mengerti.
Bukan ia saja yang mengalami ini.
Cindy mengerti. Semua pernah terluka, semua pernah
kecewa, semua pernah berharap, semua pernah terjatuh, dan semua pernah
tenggelam.
Namun yang membedakan hanya kelanjutan cerita dari kisah masing-masing nya. Ada yang dapat
sembuh dengan cepat dari luka nya. Ada yang kembali tersenyum dalam kecewa nya.
Ada yang tak pernah berhenti berharap ataupun sebaliknya. Ada yang lantas
bangkit dan menjadi lebih baik setelah terjatuh dan tenggelamnya. Dan, ada pula
diantara semua itu yang hanya diam dan lantas terpuruk setelah “kekalahannya”.
Itu semua tergantung pilihan. Dan Cindy, memilih
bangkit. Melepaskan Rangga. Namun tetap menganggapnya teman dalam jarak satu
gapaian. Cindy berubah. Cindy menatap masa depan.
2
Kemudian cerita berlanjut kembali di
Kota Pelajar sana. Tentang kisah setengah mengada-ngada si penulis yang merupakan
cerminan dari kebanyakan orang. Cerminan dari mereka yang selalu berusaha tak
kenal lelah. Cerminan dari mereka yang rela terlihat bodoh demi sang cinta agar
ia tersenyum kepadanya. Cerminan dari mereka, yang tetap berani dan juga takut
untuk menyatakan perasaannya. Dan juga ya. Cerminan dari kebanyakan orang yang
selalu berteriak di dalam hatinya “Aku
mengagumimu, aku menyimpan rasa lebih dari sekedar rasa untuk seorang teman.
Aku menyukaimu sedari dulu !”
Hingga akhirnya, tetap, dan benar
saja. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Dan beberapa dari mereka dikalahkan
oleh keputusan sang lawan mainnya. Cinta
nya tak diterima. Pahit. Dan berakhir begitu saja.
“Lantas, bagaimana bisa rasa ini
ada, tanpa ada kamu didalamnya?” Jerit mereka yang dikalahkan keputusan yang
berakhir penolakan. Namun, ah sudahlah. Lupakan. Biarkan Tuhan yang
menjawabnya. Hidup tak usah dibuat susah. Masih banyak calon kekasih yang
menunggumu diluar sana, menurutku.
Tapi, sudahlah. Aku persingkat dan akhiri saja penjelasan
dalam section ini. Sebenarnya tak singkat kalau penulisnya tak malas menulis.
Namun berhubung penulis cerita ini sedang malas. Maka, sudahlah. Kita akhiri
basa-basi ini. Sekarang. Dan memulai awal dari akhir cerita “Sekelumit Kisah di Kota Pelajar” kita.
3
Sore itu, cuaca terlihat ceria.
Langit nampak cerah tanpa awan dan berwarna biru kemerahan. Suasana khas senja di Kota Pelajar.
Anginnya yang sepoi-sepoi menggerakkan pohon di depan benteng tua itu seakan
tersenyum sambil melambai.
Benteng Vredeburg, begitu yang tertulis di tembok
bagian atas bangunan tersebut. Bangunan khas bergaya kolonial Belanda, benteng
tua yang sungguh mempesona disaat senja. Hanya saja tak cukup mempesona bagi
kebanyakan wisatawan.
Terlihat cuma beberapa wisatawan yang masih
berkeliaran di benteng itu pada senja saat itu. Bisa dihitung dengan jari
jumlahnya. Mungkin hanya sepuluh atau sebelas wisatawan saja yang masih
berkeliaran disana. Termasuk Cindy, Sarah, Aku, dan Silma.
“Dak mulang ah !” Kataku dengan logat khas Sunda nya
yang tak bisa dihilangkan. (Mulang = Pulang)
“Hayu ah bosen oge didieu wae tatadi.” Jawab Cindy
“Yap ah kaluar” Silma pun ikut berbicara.
“Nya yap atuh” Kataku
4
Singkat cerita. 16:19. Kami ber
empat akhirnya keluar dari benteng Vredeburg melalui gerbang utama.
“Ayeuna
bade kamana?” Tanya Sarah.
“Ka
Beus we yuk. Lapar. Wang mawa besek. Aku ngaderegdeg ginih anjir. Kenapa yah
akumah ngaderegdeg wae siah kalo pas lapar. Apakah ini yang dinamakan cinta? Haaah?
Apakah cinta semenderita ini? ))):” Tanyaku kepada mereka. (Ngaderegdeg: Gatau
basa Indonesia nya apa). (Besek: Sama. Gatau juga) )”:
“Maziaaaa
ah pusing akumah ))): . Tapi, ngggh yuk ah ka beus we cangkeul tatadi
leleumpangan wae.” Jawab Cindy
“Enya
mending ka beus yuk. Powerbank abi seep. Urang ngecas heula di bus” Jawab Silma
pula.
“Muhun
hayu ah atuh” Sarah pun ikut berbicara.
Kami pun pergi menuju tempat parkir
dimana bus itu berada yang tentunya kami pun tidak tahu tempatnya dimana.
5
16:27. Aku bersama Silma, Cindy, dan
Sarah pergi menuju bus berdasarkan feeling yang kami rasakan. Kami berjalan
santai dan beriringan. Aku bersama Silma di depan, dan Cindy bersama Sarah
mengikuti dari belakang.
Kami banyak tertawa saat itu, yang
entah menertawakan apa aku pun lupa. Tapi yang aku ingat, kami dihentikan oleh
bapak-bapak tukang parfum yang harganya tiga puluh ribuan. Si bapak itu sangat
sopan dalam menjajakan dagangannya. Ia berbicara dengan bahasa Indonesia namun
dengan logat yang khas orang Jawa. Aku sempat berhenti cukup lama disana. Tapi tidak jadi karena tanganku ditarik oleh
Silma dan Cindy.
Mungkin karena aku terlalu lama
berdiam dan memperhatikan bapak tadi. Dan terlalu menikmati suasana kota ini.
Aku jadi lupa waktu bahwa senja, kini semakin senja !
Dan kemudian. Aku pun tersadar.
Karena tanganku di tarik oleh Silma dan Cindy tadi. Kami pun melanjutkan
perjalanan. Kembali berceloteh tentang apa saja yang tak begitu penting.
Kembali tertawa dan menertawakan apapun yang ada di depan kami. Saat hari
terakhir di Kota Pelajar memang kami merasa ceria dan terlihat bahagia.
Tapi, tiba-tiba. Di seberang jalan sana. Aku melihat
mereka. Terlihat berjalan beriringan. Tiga pasangan yang masing-masingnya
terlihat berpegangan tangan, sesekali. Jelas. Erat sekali. Sesekali terlihat
mereka saling bertatapan. Tatapan yang penuh rasa. Sungguh bahagia.
Kelihatannya.
Dan aku hanya
memperhatikan mereka dari kejauhan. Dari seberang jalan ini. Karena percuma aku
memanggil mereka. Takkan bisa terdengar. Jalan ini terlalu bising oleh
hingar-bingarnya kendaraan. Kalau pun terdengar. Mereka belum tentu akan
menengok ke arahku. Jadi, ya sudahlah.
Kalian mungkin bertanya-tanya saat ini. Mungkin.
Siapa mereka? Siapakah tiga pasangan itu? Dan mengapa mereka berpegangan
tangan? Jika kalian bertanya seperti itu, baiklah. Aku jawab saat ini juga.
6
Pasangan pertama. Firman dan Rida. Jelas sekali
mereka terlihat bahagia. Dan tak perlu kujelaskan lagi kisah cinta mereka di
Kota Pelajar ini. Karena sudah jelas kisahnya di cerita ku yang part pertama.
Pasangan kedua, ialah Rani dan Randy. Keduanya nama
samaran. Pasangan yang memang sejak dulu sudah memadu kasih. Serasi sekali.
Walau terkadang kekanakan dan lucu juga.
Aku salut kepada mereka. Cintanya termasuk kuat.
Yang kalau tidak salah sudah memasuki anniv ke 2 saat itu. 2 tahun cintanya
telah berjalan. Hebat mereka.
Pasangan ketiga. Rangga dan Salsa. Untuk yang satu
ini. Untung Cindy saat itu tak sempat melihatnya. Apabila ia melihatnya, bisa
bahaya. Keselamatannya bisa terancam. Aku takut nanti dia tiba-tiba pura-pura
menjadi polisi tidur di tengah jalan sana. Dan untungnya. Sekali lagi. Cindy
tak melihat mereka, kurasa. Syukurlah.
7
Benar saja. Mereka pergi menuju ke
sana. Jalan yang paling terkenal di Kota Pelajar ini. Jalan yang namanya mirip
merek rokok itu benar-benar menjadi tujuan mereka. Ya. Jalan Marlboro. Ah
tidak. Maksudku jalan Marioboro ! Eh bukan. Yang benar adalah Jalan Maliobor* .
Sengaja tak kutulis lengkap nama jalannya. Biar kalian kebingungan. Hahaha
Mereka ber enam terlihat bahagia.
Tertawa. Dan berlalu begitu saja. Menghilang di ujung persimpangan itu.
Aku pun kembali mengalihkan
perhatianku. Ingin cepat-cepat sampai menuju bus saat itu dan ingin cepat-cepat
menyelesaikan cerita saat ini. Karena aku benar-benar lapar saat itu dan
benar-benar ngantuk saat ini. Sial.
10 menit kemudian. Kami sampai dan
langsung menaiki bus yang kami tumpangi. Tapi aku tidak langsung makan saat
itu. Karena aku sadar. Saat itu aku bau. Aku takut nanti diledek oleh
teman-temanku begini. “Sudah jomblo, jelek, bau lagi.”
Akhirnya aku bersama Silma, Cindy,
dan Sarah memutuskan untuk mandi terlebih dahulu di wc umum sana. Kami ber
empat pun akhirnya mandi. Tapi tidak mandi bersama. Ah euy aingah lah )):
Setelah selesai mandi, kami kembali
menuju bus dengan face yang lebih segar dan perut yang masih lapar. Lantas
langsung memakan makanan yang disediakan oleh panitia saat itu.
Tak perlu waktu lama. Seluruh
makanan itu langsung masuk kedalam sistem pencernaan kami yang mungkin saat itu
sudah memasuki gerak peristaltik di esofagus . Hingga akhirnya memasuki Lamb .
. . Ah syudahlah. Oke skip. ;(
8
17:00. Cindy dan Silma mengajakku
pergi ke jalan Maliobor* itu. Mereka juga mengajak Fandi (nama samaran) si
orang terpandai di kelas kami. Entah ingin membeli apa aku pun tak tahu.
Mungkin baju couple an, celana jin, iblis, atau malaikat, atau daleman booker t,
atau bh berhala ataupun apa saja aku tetap tak tahu dan aku tak ingin
berspekulasi. Itu urusan mereka. Aku akhirnya mengiyakan keinginan mereka. Dan
kemudian mengajak Imam juga (bukan nama samaran) untuk sekedar menemaniku.
Karena aku tau, kalau wanita sedang belanja, pasti tak akan bisa diajak bicara
ataupun diganggu. Bagaimanapun itu.
17.10 WIB. Kami pun sampai di jalan
itu. Cindy, Silma dan Fandi terlihat asyik belanja. Sedangkan aku dan Imam
terlihat asyik ngahuleng. (Ngahuleng = Termenung). Beberapa menit kemudian. Aku
dan Imam pun beranjak pergi dari tempat itu. Membosankan. Kemudian meninggalkan
mereka bertiga di toko itu.
“Mam
balik yap ah” Ajakku kepada Imam
“Yap”
Jawab Imam
“Jajan
deui moal?”
“Moal
Riy”
“Naha?
Duitna geus beak mam? :”>”
“Heeuh
)):”
“Sip.
Sarua :”>”
“Yoi
)):”
* Kami pun cry bersama :”(
9
17:40. Aku dan Imam memutuskan untuk kembali ke bus
karena mengantuk dan kecapekan. Tapi sebelum menuju bus, kami sempatkan juga
untuk membuat kenangan dalam bentuk foto dipersimpangan Kota Pelajar sana. Setelah
dirasa cukup memuaskan dahaga popotoan. Aku dan Imam akhirnya kembali
melanjutkan perjalanan dan sampailah di parkiran tempat dimana bus itu berada.
Beberapa jam setelah senja itu, sisa waktu di kota
Pelajar aku habiskan di dalam bus sambil bermalas-malasan sambil menunggu semua
temanku untuk kembali ke bus.
Hingga akhirnya. Sekitar pukul 21:30 an. Kami
akhirnya pulang ke kota kecil kami yang tercinta. Tasikmalaya. Untuk kembali
melakukan rutinitas yang terkadang membosankan. Untuk kembali mengerjakan
tumpukan tugas yang biasanya memuakkan. Dan untuk kembali menjalankan sisa
hidup kami yang terkadang juga menyenangkan. Seperti saat ini. Saat kami di
Kota Pelajar.
* Tamat *
10
Mohon maaf bila ceritaku ini tidak
memenuhi ekspektasi para pembaca dengan akhir yang tidak mendebarkan. Sudah
kubilang. Cerita ini memang ku ceritakan secara singkat dan tidak menarik.
Tapi untuk
kami yang mengalaminya, itu sangat menarik dan berkesan. Karena apa? Karena
saat itu. Aku bisa tertawa bersama mereka. Memaksimalkan sisa waktu yang ada
dengan berbagai macam kesenangan, kesedihan, atau bahkan mungkin kegilaan.
Bersama teman, sahabat, atau mungkin kekasih, dengan berbagai macam hal yang
menjadikannya indah. Dan aku mensyukuri semua hal itu.
Terima kasih Tuhan. Karena telah
menciptakan manusia-manusia yang menjadikan dirinya teman, sahabat, kekasih untuk
mengisi waktu-waktu kami.
“Aku menyayangi kalian. Sampai jumpa lain waktu.
Mudah-mudahan tidak ada rasa sesal karena kita telah saling mengenal. Harapku,
kita bisa menghabiskan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Terlepas dari
cita-cita dan angan kita yang ditakdirkan berbeda.”
Dariku. Sahabatmu.
