 |
| Kita Adalah Pohon |
Siang ini, dua bulan yang lalu
mungkin aku sedang bercengkrama sembari menikmati kopi yang baru aku beli dari
warung di samping kelasku bersama ke empat teman “putih abu” ku di dalam kelas.
Ya memang. Ini adalah hal biasa yang
sering aku lakukan ketika kelas tak dimasuki guru atau sedang tak ada
pembelajaran waktu itu. Dan memang benar juga aku sering melakukannya bersama
mereka, teman-temanku, nama akrab mereka Fajar, Sani, Nisa, dan Audina.
Aku sendiri bernama Maher Zain. Bukan nama
sebenarnya, hanya mengarang saja karena aku penggemar Maher Zain dan mereka
bukan. Oke perkenalkan aku Fakhriy sebut saja Jackson, tidak, itu terlalu jauh
dari nama asli, oke nama panggilanku Beb dan yang pasti bukan teman kalian
ataupun pacar kalian sekarang, mungkin nanti.
Sekarang aku sedang menulis cerita
ini di tempat yang sama, ah tidak maksudku mengetik cerita ini di tempat yang
sama. Ya benar, ruangan kecil berukuran sekitar 3x2 sama dengan 6 yang kusebut
kamarku. Di kamarku inilah aku biasanya menuangkan isi pikiranku yang begitu
banyaknya menjadi untaian-untaian kata yang indah dan bermakna padahal tidak
juga.
Oke baiklah. Niat awalku sebenarnya
adalah menyelesaikan ceritaku yang saat itu belum aku selesaikan, cerita apa?
Entahlah, mungkin cerita cinta kita ? Ah tidak juga, maksudku cerita yang saat
itu ku beri judul “Sekelumit Kisah di Kota Pelajar”.
Cerita yang ku bagi dalam beberapa part karena
terlalu panjang dan membosankan bila ku susu + n dalam satu part saja. Lagipula
bila cerita itu langsung ku susu + n dalam satu part, pastinya aku yang membuatnya juga akan
mengantuk dan cangkeul (cangkeul : Alat yang biasa digunakan para petani untuk
mengolah tanah). Jadi? Ya begitulah.
Nah tapi aku bingung kelanjutan kisah dari cerita
tersebut, kenapa? Entahlah, mungkin karena aku tidak ingat atau karena memang
aku tidak ingin mengingat kejadian-kejadian saat itu, namun satu yang pasti,
aku bingung mengakhiri cerita tersebut.
Tapi entahlah, mungkin suatu saat nanti aku akan
melanjutkan cerita itu, entah kapan, entah besok, entah lusa, entah minggu
depan, entah bulan depan, entah tahun depan, namun satu lagi yang pasti, aku
tak akan melanjutkan cerita itu hari ini. Jadi? Tunggu saja.
Karena aku belum ingin melanjutkan cerita “Sekelumit
Kisah di Kota Pelajar” ku, akhirnya aku ketik kembali cerita yang baru yang
menurutku menarik tapi menurutmu tidak yang terjadi dua bulan yang lalu, ya
sudahlah, jadilah ini, mari mulai ceritanya.
1
Waktu itu, saat kami masih
berseragam putih abu dan memang sekarangpun masih, bercanda di kelas
membicarakan apa saja yang menurut kami menarik dan asik adalah kegiatan rutin
kami setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu, kecuali Minggu,
karena hari itu hari libur.
Kalau tidak salah hari itu bukan
hari minggu, jadi aku menyempatkan pergi ke sekolah. 6.15, anak-anak rajin
mulai ke luar dari rumahnya untuk bersiap berangkat ke sekolah, menyalami orang
tuanya, menunggu angkutan kota, kemudian pergi menuju sekolah nya tercinta.
Tapi aku tidak karena masih tidur.
Singkat cerita, aku akhirnya
berangkat menuju sekolah tepat pada pukul 6.55, buru-buru, aku memacu motorku
dengan kecepatan yang sangat-sangatlah tinggi, tapi karena aku yang
mengendarainya bertubuh sangat-sangatlah pendek, jadi kecepatan motorku ku
perpendek dan ku perlambat lagi agar motor dan penunggangnya terlihat agak cocok
dan klop. Tapi nyatanya tidak demikian.
2
Akhirnya ku sampai di gerbang
sekolah pada pukul 7.20 dan segera memarkirkan motorku, kemudian langsung
melompati pagar sekolah yang tingginya kurang lebih 1,5 meter dan langsung
berlari sprint menuju kelas sembari berharap guru pun kesiangan sepertiku agar
aku tak dihukum berlari mengelilingi lapangan basket disana.
Tapi . . . . . Tapi . . . . . Tapi
aku tidak sampai di gerbang sekolah, ya, karena sekolah ku memang tidak ada
gerbangnya, aku pun tak melompati pagar yang tingginya 1,5 meter itu karena
sekolahku tak ada pagarnya, dan satu lagi, aku juga tidak berharap guruku
kesiangan pula agar aku tak dihukum berlari mengelilingi lapangan basket.
Kenapa? Yap benar, itu karena sekolahku tak mempunyai lapangan basket. Haahaha
33x. Aku berbohong, dan kalian tertipu.
Baiklah, kembali ke cerita, aku pun
sampai di sekolah pada pukul 7.20, kemudian dengan santai aku memarkirkan
kendaraanku di depan kelasku dan akhirnya memasuki kelas. Beruntung bagiku saat
itu awal bulan, dan sesuai perkiraanku, semua guru sedang rapat bulanan saat
itu.
Aku pun langsung menuju bangku ku
sendiri dan kemudian menyimpan tas ku yang isinya hanya beberapa buku pelajaran
dan powerbank diatas kursi. Oh ya, bangku ku tepat berada di jajaran pertama
dan di sisi paling kanan. Di belakangku ada bangku Iteung, dan di samping
kiriku ada bangku Audina. Oke, kelas ku terdiri dari 15 siswa, dan
Alhamdulillah semuanya manusia, eh tapi tidak juga, ada satu yang bukan dan
kurasa hanya sekedar mirip manusia . . . . . . Tapi entahlah. Aku tidak akan
menyebut namanya, aku takut nanti malah terkena pasal 27 ayat 3 dan dituduh
melakukan pencemaran nama baik. Dia temanku juga, entahlah, kurasa sahabatku
malah. Nama samarannya Iteung, nama aslinya? Kan tadi aku sudah bilang, tak
akan ku sebutkan.
Tapi, ini bukan cerita tentangnya,
bukan cerita tentang Iteung yang mirip manusia, bukan juga cerita tentang
betapa pabalataknya bangku-bangku di kelasku itu. Bukan juga cerita tentang
betapa bau nya whiteboard di depan kelas kami. Ini cerita tentang . . . . .
nggggh tidak tahu, aku pun sedang memikirkannya. Ah sudahlah. Ku tulis saja
semuanya. Baiklah.
3
Saat itu anggota kelas sudah tiba
semuanya, dan aku yang terakhir tiba, seperti biasanya. Setelah menyimpan tas. Untuk
beberapa menit aku terdiam di bangku ku, menatap kosong ke arah jendela.
Menatap rimbunnya pepohonan, merenung, berpikir, tapi tidak jadi. Karena aku
baru sadar aku jarang berpikir. Jadi, ya sudahlah, aku pun akhirnya hanya
menatap kosong keluar jendela, tak memikirkan apa-apa, kemudian bosan.
8.20 WIB, akhirnya ada guru yang
datang dan masuk ke kelas, entah siapa waktu itu aku lupa lagi. Bapak/Ibu itu
hanya datang, kemudian pergi lagi dan meninggalkan tugas yang harus kami
kerjakan.
Karena hal tersebut, salah satu
teman “terpintar” ku pun sedih karena tidak belajar dan mendapatkan pelajaran
dari guru-gurunya. Tapi hanya dia saja yang sedih, sisanya? Ya benar, kami ceria
dan bergembira. Kami sangat gembira, kemudian merayakannya dengan cara
masing-masing.
Ada yang merayakannya dengan berpacaran lah, ada
yang merayakannya dengan pergi ke si Ibi warung hanya untuk membeli beberapa
bungkus kiripik “Sipis” lah , ada yang mengeluarkan headset dan
mendengarkan lagu-lagu yang entah lagu apa itu di handphone-nya, ada juga yang
merayakannya dengan cara memainkan game-game di aplikasi line yang entah
bagaimana cara memainkannya aku pun tak tahu.
Lantas aku bagaimana? Ya, seperti yang telah kusebutkan
diatas di awal cerita ini tepatnya pada paragraf pertama dan kedua bait pertama
hingga ke tujuh. Aku langsung berkumpul dengan kawan-kawanku itu, teman
seperjuanganku, teman karibku, teman seperjombloanku, atau apalah itu
semacamnya.
4
Ku ceritakan dulu kenapa aku dan
teman-temanku itu saat itu hingga sekarang sering berkumpul ketika tidak ada
guru. Waktu itu, kapan tepatnya akupun lupa bukan karena amnesia tapi aku
memang tidak ingin mengingatnya, kami sedang sibuk dengan kepentingannya
masing-masing, entah karena ego kami yang tinggi atau solidaritas kami yang
rendah. Yang pasti, saat itu kami masih berjalan sendiri-sendiri. Hingga suatu
saat, takdir mempersatukan kami dan mengalahkan ego kami yang tinggi.
Fajar, temanku ini berlatar belakang
kisah cinta yang cukup menarik. Tidak bisa berenang. Ia salah satu anggota klan
“Onanymous” :v. Pacaran hobinya, jomblo statusnya.
Sani, temanku yang satu ini adalah
seorang atlit, atlit renang tepatnya. Ia cukup berprestasi, ia pernah menjuarai
kejuaraan renang se Jawa-Bali, dan masih banyak lagi. Hebat. Kisah cintanya?
Cukup menarik pula, tapi aku tidak ingin menceritakannya, nanti saja. Ngojay
hobinya, jomblo statusnya.
Nisa, temanku yang satu ini sudah
berbadan tiga, kasian dia. :( . Ditikung hobinya,:(. Jomblo statusnya. Duh euy,
baiklah, mari kita menundukkan kepala dan mengheningkan cipta sejenak untuk
kebaikan teman kita dan demi kemulusan karir cinta dia kedepannya,
mengheningkan cipta, mulai :(
Audina, dia seorang wanita yang
cukup tinggi, kurasa. Salah satu anggota pengibar bendera Kabupaten Tasikmalaya
entah tahun berapa aku lupa. Mengenang mantan hobinya, jomblo statusnya.
Aku, aku hanya lelaki kurus yang tak
tampan, yang selalu mencintaimu dengan caraku. Lahir di Bandung dan tumbuh di
kota kecil Tasikmalaya. Hobi? Entahlah, mencintaimu mungkin? Status? Yaa,
jomblo ku yakin. :(
Itulah introduksi kita, kami
akhirnya bersama karena mempunyai latar belakang yang sama. Ya, sama-sama
jomblo. Kasian kita :( . Baiklah daaak, tepuk tangan dulu untuk kitaaaaa.
Sudah? Oke baiklah, mari kita lanjut ceritanya. Dan karena perasaan yang sama
rasa sama rata itulah kami pun akhirnya terus bersama menjadi teman
seperjuangan sampai akhir hayat nanti, amin. Jug maraneh tiheula we ah ketang
sampai akhir hayatnya, aku mah nanti aja. :(
5
Singkat cerita, saat itu kami
berkumpul bersama. Saling berdiam diri agak lama. Bukan karena kami saling
terpana, tapi ini lebih karena kami bingung yang pertama kami bicarakan harus
hal apa?
Lalu, timbul lah ide gila yang
keluar dari mulutku. Sebenarnya tidak gila sih, hanya melebih-lebihkan saja
agar terkesan dramatis padahal nyatanya tidak. Ide gila itu apa? Yaaa, ide gila
itu adalah aku menyarankan permainan ToD kepada mereka. Yaa, ToD !
Kalian tahu ToD? Tidak? Kalian hidup
di mana ? Goa? Oh paingan :( . Baiklah, aku ceritakan lagi agar kalian
mengerti. ToD adalah sebuah game yang merupakan akronim dari Truth or Dare.
Cara memainkannya adalah kita harus memutar sebuah alat apapun itu entah botol,
pensil, atau apa saja, lalu orang yang ditunjuk oleh alat itu harus memilih,
memilih “T” atau memilih “D”.
Apabila kamu memilih “T”, maka kamu
harus menjawab jujur satu pertanyaan yang diberikan teman kalian. Pertanyaan
tentang apapun itu, terserah kalian. Pertanyaan ini perlahan akan menguak
rahasia-rahasia kalian, tapi kalian tetap harus menjawab jujur
pertanyaan-pertanyaan itu. What a mother fucker man? Tukang tipu mah akan
kesulitan dalam game ini, pasti. Teu percaya? Tanyakeun jig ka aeeeng :(
Dan apabila kamu memilih “D”, maka
kamu harus melaksanakan apa yang teman kalian perintahkan, biasanya yang mereka
perintahkan adalah hal-hal yang memalukan dan merugikan kalian sendiri. Hingga
akhirnya integritas dan nama baik kalian amburacak pabalatak teu puguh judul.
Biasanya inimah biasanya, kaleum :( .
Mereka
setuju. Kemudian permainan pun kami mulai.
6
Ahiya, alat yang kami gunakan saat
itu untuk diputar dan menunjuk salah satu dari kami adalah sebuah handphone.
Yaaa, handphone ! Hadphone ku ! Handphone Blackberry Gemini 8250 ku ! :( . Kami
sepakat menggunakan handphone itu karena handphone ku mudah diputar. Ya, itu
juga karena baterai handphone ku yang sedang hamil. Entah hamil berapa bulan
saat itu, tapi satu yang pasti, aku tak mengetahui siapa bapak dari anak yang
handphone ku kandung. Dasar bapak tak bertanggung jawab ! Bisanya hanya
menghancurkan masa depan handphone ku saja. Dasar bedebah, tak
berperikehandphonan ! Ingin enaknya saja ! Yaa sudahlah, begitulah. Kasian dia.
Jadinya begitu, salah dia sendiri. Korban pergaulan bebas. Anaknya akan lahir
tanpa bapak dan akan dianggap anak haram disekitarnya. :( Apalah ini? Gatau. :(
Handphone ku pun di putar oleh
Fajar, berputar cukup lama, mengarah kepada kami semua dan seakan memilih-memilah
rahasia siapa yang harus dikuak terlebih dahulu. Hingga akhirnya, alat itu
memilih Nisa. Yaa Nisa. Kami tertawa, bukan karena menertawakannya. Tapi lebih
karena merasa lega alat itu tidak menunjuk ke arah kami. Dan Nisa sendiri mulai
merasa tidak nyaman karena tersadar rahasianya akan mulai terkuak, mukanya
bersemu merah, badannya melebar, pori-porinya membesar, lubang hidungnya
merekah, dan masih banyak lagi, ia menimang-nimang hal apakah yang harus ia
pilih. “T”, ataukah “D” ? Cukup lama ia berfikir, kira-kira 2x45 menit ia
berfikir, kemudian akan dilanjutkan extra time 2x15 menit apabila hasil laga
berjalan imbang. Dan akhirnya, Nisa pun memilih Truth !
Bersambung
:v . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .