Jumat, 12 Juli 2019

Perihal Hal yang Belum Pasti

Ini bukan ilustrasi tangismu

“Perihal hal yang belum pasti, ada baiknya kamu tak terlalu banyak melibatkan hati.”
            Aku sedang menulis ini sambil sesekali melihat arloji ku yang terus-menerus berdetak merangkak menuju tengah malam. Ditemani suara jangkrik yang bersahutan dan angin yang perlahan bertiup menuju arah tengah kota. Suasana malam ini terasa agak mencekam karena sepi didukung dingin akibat angin yang terus bersahutan masuk melalui sela jendela.
            22.52 yang ditunjukkan arloji ku sama sekali tak mempengaruhi kedua tangan dan jemarinya yang masih bersemangat bercumbu dengan keyboard di depanku ini. Padahal aku baru memulai tapi mataku yang lelah ini mulai memerah. Tapi sudahlah, aku akan menyelesaikan tulisan ini. Aku janji.
            Ah baiklah, kurasa kita mulai dari sini.  Aku tidak sedang membahas satu kalimat pertama dari tulisan ini, percayalah, melainkan tentang hal yang perlu kuceritakan. Entah itu apa, kuharap kau membacanya.
            Hey, apa kabarmu? Semoga kau baik-baik saja. Jika kamu bertanya perihal “kamu” yang kumaksud itu siapa, anggap saja “kamu” itu adalah seseorang yang ada namun sebenarnya tidak ada. Kamu tahu mengapa? Karena tulisan ini menjelaskan bahwa terdapat satu sekat kuat antara fiksi dan realita yang memang tak dapat benar-benar dipisahkan.
            Dan bagaimana kabarmu belakangan ini? Apakah masih tetap menyenangkan seperti yang pernah kau ceritakan dulu padaku? Atau, atau bahkan kau malah sedang bersedih karena perilaku seseorang yang menyakiti hatimu dengan pergi meninggalkanmu demi orang lain? Kuharap tidak demikian. Karena jika itu terjadi, dan aku mengetahui pelakunya, maafkan aku ! Maafkan aku karena tidak banyak membantu untuk membalaskan sedihmu padanya. Aku hanya pria lemah yang tak punya cukup kuasa untuk membuat hidungnya patah. Tapi aku janji, akan kembalikan senyummu seperti saat itu. Seperti senja ketika hujan waktu itu.
            Hey kamu !  Dengarkan baik-baik perkataan pujangga diluar sana ! Terkadang cinta memang lucu. Ia memberi penawar luka, membuatnya sembuh, sebelum ia melukai lagi dengan tangis yang lebih jatuh. Dan untuk apa mencinta jika hanya pahit yang kau rasa?
            Tapi percayalah, cinta tak sebajingan itu ! Jangan lukai dirimu dengan airmata. Airmatamu terlalu suci untuk menangisi kepergian orang yang tak menganggapmu ada. Tersenyumlah ! Hidup terlalu cantik untuk menangisi orang yang tak perlu ku jelaskan kembali.

Sabtu, 13 Mei 2017

Karaha Punya Cerita


            Saat malam hampir mencapai puncaknya, aku bersembunyi dari lomba lari yang diselenggarakan oleh debar jantungku sendiri. Sebab, aku ingin menceritakan sebuah cerita tentang kamu, tentang kita, dan tentang rasa yang tiap baitnya akan menjadi frasa atas ketegangan tiap nadi yang berdenyut semakin kencang dari detik ke detik.
            Terus terang, aku bingung bagaimana memulai cerita ini, entah kenapa. Mungkin ini memang karena aku yang bukan seorang penulis. Atau, mungkin ini karena aku yang memang payah dalam mengumpulkan puing-puing kenangan yang sudah berceceran karena tidak langsung kurangkai saat itu. Atau, mungkin ini karena fokus otak ku yang kini telah terbelah menjadi dua.
Satu ke tulisan ini. Dua ke Steven, nama samaran pemeran utama dalam cerita ini. Yang anehnya, dia sendirilah yang membuat nama samaran ini untuk dirinya sendiri. Dan perihal itu aku sangat menentang keras usulannya, jelas. Sorry Steve. Nama samaranmu dan parasmu terlalu diluar dugaan, tak logis, tak bermartabat, tak menjelaskan keparalelan sebab akibat, bahkan sama sekali tak menunjukkan itikad baik.   
            Tapi, tapi yang jelas dalam menulis cerita aku tetap seperti biasa, dan biasanya aku tampan, aku tetap menerima permintaan-permintaan teman yang namanya masuk ke dalam ceritaku ini. Terkecuali perihal royalty. Oke teu guys? Teu ! Sip ):
            Sampai mana tadi?  Aku lupa. Ahiyaaa, sampai royalty. Pokoknya jangan meminta royalty padaku ! “Titik”, gapake “dua bintang” ! Kalau tetap saja meminta, maaf-maaf lads aku ek baeud dugika wisuda S2 ! ):
            Oke, sudah dicukupkan dulu intro tak bermoral nya, kita langsung saja masuk ke cerita. Cek dis awt ~
1
            Mungkin kalian saat ini sedang bertanya-tanya di dalam lubuk hati yang paling dalam dan penuh luka akibat sayatan sang masa lalu itu.
“Siapa Steven? Di cerita-ceritamu dahulu tidak ada yang bernama Steven !”
            Mungkin seperti itu pertanyaan yang muncul di dalam benak kalian.
            Iya, memang tidak ada yang namanya Steven dalam ceritaku yang sebelumnya. Tapi sebenarnya dia pernah ku ceritakan beberapa bait dalam ceritaku yang berjudul Sekelumit Kisah di Kota Pelajar IV. Hanya saja, saat itu namanya tidak kusamarkan. Dia adalah orang yang sama yang menemaniku untuk menemani para wanita berbelanja di jalan merk rokok itu. Kamu tahu? M*li*b*r* ! Sengaja kusamarkan nama jalannya biar kalian makin kebingungan.
2
“Daks, besok libur. Hayu ah daks udah lama gak hayu!” Kataku dalam sidang rapat pleno di dalam kelas itu.
“Kamana?” Serentak mereka menjawab.
“Etiopia Barat Daya lah caaaw berangkat ayeuna keneh! ):” Jawabku
“BALEG !!!” Mereka menjawab lagi dengan nada meninggi.
“Karaha atuh Karahaaaa maraneh teh ih kaleum garalak kitu, keur pms kalian teh? ))))”:” Jawabku baeud.
“Dimana eta teh Riy?” Kata Firman salah satu temanku yang pernah ku ceritakan di ceritaku dulu.
“Apal Republik Rakyat China? Tah tidinya ka lebak saalit a! ):”
“Xianjing”
*kemudian aku di smack Booker T oleh Firman * Soblog si Firman mah mangprang wae ih ngeri aku mah da aslina )):
“Udaah cukup-cukup, kalian berantem terus kaya ucing jeung lauk hiu tutul atulaaah apanan sieun dong gue!” Teriak Cindy bermaksud memisahkan.
“Gandeng bisi dikamehameha super saiyan opat!” Kata Firman kepada Cindy
“Iya atuh iyaa ih jangan ampun, serem tau ! Gue mah mau i'tidal we lah disentak terus daritadi perasaan ):” Cindy pun i'tidal sambil melangsingkan diri, sieuneun.
            Aku pun dan Firman kembali melanjutkan kegiatan smackdown kami dugika negara api menyerang warung nasi yang buka pada siang hari di bulan puasa. Tamat.
3
            Eh teu ketang can tamat, ada lanjutannya aikalian. Ulah waka marulang atuih can raramena yeuh. Belum klimaks. Kalau udah klimaks mah mangga berhenti juga. Kita istirahat dulu aja kan bisa. Mongnaon sih ieu? Teuing atulaah konten dewasa ieumah ketang jangan dibaca guys baru nisyfu sya'ban ! ):
“Jadi kumaha Riy? Besok jadi ke Karaha?” kata Steven
“Jadi guys kaleum” Jawabku singkat.
“Jam baraha berangkat na bro besok?” Tanya Firman
“Siap-siap we ti jam 2 janari, febrari, maret, april, mei . . . . ):” Timpalku
“Maxiaaaa bro maxiaaa, bebas ):” Firman pun baeud
4
*Keesokan harinya*
            08.30. Sebuah pesan singkat melalui ponsel telah dikirimkan ke kawan-kawan terkasih)))):
            “Guys, dimarana? Hayu kumpul. Kita ziarah ka makam Presiden Afrika Barat Daya tea!”
            Eh enggak bukan gitu ketang guys asanamah pesannya teh, typo etamah ): . Pokoknya mah gini kurang lebih pesannya teh kalau gak salah, kalau salah ge meunang salapan ketang bae ah.
            “Dak ! Daki ! Hayu kumpul. Jadi moal ngetrip teh? Urang geus siap yeuh, geura marandi. Bisi seungit Naudzubilahimindzalik ! Pokoknya mah aku tunggu kalian yah intinyamah gitu we. geuwat geura ngumpul dak ! Landak ! Kita otw beberapa saat lagi. 4x4 =16. Sempat gak sempat harus dibalas #Sendall” ):
             Kemudian pesan dikirimkan ke khalayak ramai. Beberapa menit setelah itu dan membiarkan diri ditertawakan jam dinding, akhirnya hadirlah jawaban dari orang yang ditunggu-tunggu.
            “Y” Gitu cenah jawabannya teh sanyeeeng nyeri hate tau gak digituin teh ih hati aku tersayat-sayat. *cry *rain* ));
            Lantas, setelah hadir perdebatan hebat di chat room yang melebihi rapat para wakil rakyat anggota DPR dan DPD serta DPRD beberapa saat perihal tempat berkumpul dan waktu berkumpulnya dimana secara tepat. Kami pun sepakat untuk berkumpul di desa Sunagakure pada saat si Gaara diculik Bima sakti untuk dinikahkan dengan nini-nini yang suka nyebut Demi Dewa dina pilem Anandhi nu di antv dan membawanya ke planet Namek. ):
            Akhirnya, beberapa saat setelah itu. Gaara pun teu jadi diculik da Bima Sakti na maot diserang geng cobra. Tapi tak apalah. Kami tetap berkumpul di planet Namek untuk lawas tilawas bersama si Piccolo balad kami ngurek dahulu keur jaman kerajaan siliwangi (ngurek=nyari belut). Si gablag beuki ngacapruk ):
5
            09.00. Aku bersama Steven dan beberapa kawan-kawanku telah berkumpul di halaman depan rumah nya si Uvuvevwe Onyetenyevwe Ugwemubwem Osas (nama samaran) )):. Sembari menunggu kawan lainnya, kami akhirnya memulai perjalanan menuju rumah kawan kami selanjutnya yang rumahnya teh masih sejalur dengan tujuan kami yakni Karaha tea.
            Namun, setelah sampai di rumah kawan kami tersebut, kawan kami yang ditunggu-tunggu belum datang, karena kami sadar kami berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terkenal dengan julukan Negeri Demokrasi, kami pun mulai melakukan musyawarah darurat untuk mencapai mufakat di rumah kawan kami itu dengan mengangkat tema dan garis besar “Langkah Selanjutnya yang Harus Dilakukan Ketika Rerencangan yang Ditunggu-Tunggu Gak Dateng-Dateng dan yang Menunggu Mulai Kehilangan Kesabaran.”
            Mufakat telah tercapai. Kami menemukan kata sepakat. Kami sepakat untuk berangkat terlebih dahulu meninggalkan mereka dalam gelapnya masa lalu yang selalu membayangi waktu dibalik kaca jendela rumah nya saat gulita menyerang semesta.
6
            09.15. (Awal Perjalanan yang Menegangkan dan Menyenangkan)
 . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .

(to be continued)

Kamis, 18 Agustus 2016

Lantas, Apa Itu Cinta?



Cinta tidak mengenal kesabaran . . . .
Tak bergejolak pun berbatas, cinta amat memenungkan
Seumpama bintang yang temani rembulan dalam kelamnya
Tak pernah mengeluh atau mengerang walaupun tahu ia pasti akan diusir pagi

Cinta menembus ruang dan waktu . . . .
Pun juga yang jauh, yang dekat, yang nanti dan yang lalu
Bagai simponi tragedi yang tak henti-hentinya menyerang semesta
Tak pernah hilang atau terhenti walaupun alunan nadanya dibasahi cucuran air mata

Cinta menyingkap segala yang gelap . . . .
Menambah cerah dan buatmu berani menatap matahari
Tapi entahlah, itupun jika engkau dapat berhasil dan berubah
Atau, bila tidak ? Hidupmu akan jadi asap tuk kemudian lenyap

Aku bertanya kepadaNya “Apa makna baik dan buruk?”
Apa hakikat dari hidup dan mati?

Cinta mendiami jiwa bagai penglihatan dalam mata
Lantas, Apa itu cinta?

Cinta menembus ruang dan waktu . . . .
Pun juga yang jauh, yang dekat, yang nanti dan yang lalu

Janji akhir adalah Cinta,

Dan Dunia-Akhirat adalah kerajaannya.

Kamis, 28 April 2016

Sekelumit Kisah di Kota Pelajar IV

Kota Pelajar. Tentang Sahabat dan Semua Hal yang Menjadikannya Indah.

    Yang kutulis pada waktu ini, pukul 23.57 WIB tengah malam. Setelah makan malam yang memang terlalu malam menurut kalian tapi tidak menurutku karena aku tadi kelaparan. Adalah lanjutan dari kisah sebelumnya, kisah yang mungkin telah kalian lupakan, dan semoga saja tidak .
Kisah yang diawali dari dua sejoli yang sedang jatuh hati, dan masing-masing dari mereka saling menyukai. Namun tetap tak bisa bersama karena alasan-alasan yang aku sendiri pun tetap tak mengerti karena mereka berdua tak pernah bercerita kepadaku.
            Dan kalian yang sempat membaca ceritaku mungkin bertanya-tanya saat itu. Lantas mengapa mereka tak bisa bersama? Adakah yang salah? Entahlah ! Aku tak bisa menjawabnya.
Ini terlalu rumit, menurutku. Dan tidak, menurut mereka yang merasa. Tapi, ah entahlah. Sebenarnya dan memang seharusnya. Tak pernah ada yang salah ketika kita mempunyai perasaan, hanya saja terkadang orang yang diberi perasaan itu yang tak mengerti bagaimana memberi arti. Tapi, aku juga tak yakin dengan kalimat ini. Karena aku juga hanya mengada-ngada tadi.
Yaaa, tapi ah sudahlah. Biarkan cerita dan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini tetap menjadi rahasia Firman dan Rida. Biarkanlah takdir dan waktu yang menjawab segalanya.
1
            Cerita ini kemudian dilanjutkan dengan tema yang berbeda. Pemeran utama yang berbeda, yang tentunya bukan Firman ataupun Rida. Namun tetap berlatar di kota yang sama.
            Tentang ke bodoh an seorang wanita yang tetap mencintai lelakinya. Ah tidak, maksudku, lelaki teman baiknya. Dan untuk beberapa lama ia memilih bertahan dalam kisah “Secret Admirer” nya hingga akhirnya ia menyerah. Kalah. Dikalahkan oleh waktu.
Dan begitulah. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Dan kalaupun kau memaksakan  cinta, maka semua itu takkan pernah berakhir indah. Seperti kata Pidi Baiq yang ku kutip sendiri dari twitternya“Cinta itu indah. Jika bagimu tidak, mungkin kamu salah memilih pasangan.” Dan benar saja. Memang begitu kenyataannya.
Dan, menurutku Cindy mungkin mengerti. Begitupun Rangga dan Salsa. Cinta selalu memakan korban. Entah itu korban materi ataupun perasaan. Jika diantara ketiganya belum ada yang menjadi korban, maka waktu yang akan menjadikan salah satu dari mereka sebagai korban yang akan “tersakiti” secara perlahan.
Disini, Cindy lah yang menjadi korban. Cindy lah si pihak yang “tersakiti” karena keteguhannya dalam mempertahankan kisah “Jatuh Cinta Diam-Diam”  nya. Tapi, menurutku Cindy pun mengerti. Bukan ia saja yang mengalami ini.
Cindy mengerti. Semua pernah terluka, semua pernah kecewa, semua pernah berharap, semua pernah terjatuh, dan semua pernah tenggelam.
Namun yang membedakan hanya kelanjutan cerita dari kisah masing-masing nya. Ada yang dapat sembuh dengan cepat dari luka nya. Ada yang kembali tersenyum dalam kecewa nya. Ada yang tak pernah berhenti berharap ataupun sebaliknya. Ada yang lantas bangkit dan menjadi lebih baik setelah terjatuh dan tenggelamnya. Dan, ada pula diantara semua itu yang hanya diam dan lantas terpuruk setelah “kekalahannya”. 
Itu semua tergantung pilihan. Dan Cindy, memilih bangkit. Melepaskan Rangga. Namun tetap menganggapnya teman dalam jarak satu gapaian. Cindy berubah. Cindy menatap masa depan.
2
            Kemudian cerita berlanjut kembali di Kota Pelajar sana. Tentang kisah setengah mengada-ngada si penulis yang merupakan cerminan dari kebanyakan orang. Cerminan dari mereka yang selalu berusaha tak kenal lelah. Cerminan dari mereka yang rela terlihat bodoh demi sang cinta agar ia tersenyum kepadanya. Cerminan dari mereka, yang tetap berani dan juga takut untuk menyatakan perasaannya. Dan juga ya. Cerminan dari kebanyakan orang yang selalu berteriak di dalam hatinya Aku mengagumimu, aku menyimpan rasa lebih dari sekedar rasa untuk seorang teman. Aku menyukaimu sedari dulu !”
            Hingga akhirnya, tetap, dan benar saja. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Dan beberapa dari mereka dikalahkan oleh keputusan sang lawan mainnya.  Cinta nya tak diterima. Pahit. Dan berakhir begitu saja.
            “Lantas, bagaimana bisa rasa ini ada, tanpa ada kamu didalamnya?” Jerit mereka yang dikalahkan keputusan yang berakhir penolakan. Namun, ah sudahlah. Lupakan. Biarkan Tuhan yang menjawabnya. Hidup tak usah dibuat susah. Masih banyak calon kekasih yang menunggumu diluar sana, menurutku.
Tapi, sudahlah. Aku persingkat dan akhiri saja penjelasan dalam section ini. Sebenarnya tak singkat kalau penulisnya tak malas menulis. Namun berhubung penulis cerita ini sedang malas. Maka, sudahlah. Kita akhiri basa-basi ini. Sekarang. Dan memulai awal dari akhir cerita “Sekelumit Kisah di Kota Pelajar” kita.
3
            Sore itu, cuaca terlihat ceria. Langit nampak cerah tanpa awan dan berwarna biru  kemerahan. Suasana khas senja di Kota Pelajar. Anginnya yang sepoi-sepoi menggerakkan pohon di depan benteng tua itu seakan tersenyum sambil melambai.  
Benteng Vredeburg, begitu yang tertulis di tembok bagian atas bangunan tersebut. Bangunan khas bergaya kolonial Belanda, benteng tua yang sungguh mempesona disaat senja. Hanya saja tak cukup mempesona bagi kebanyakan wisatawan.
Terlihat cuma beberapa wisatawan yang masih berkeliaran di benteng itu pada senja saat itu. Bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Mungkin hanya sepuluh atau sebelas wisatawan saja yang masih berkeliaran disana. Termasuk Cindy, Sarah, Aku, dan Silma.
“Dak mulang ah !” Kataku dengan logat khas Sunda nya yang tak bisa dihilangkan. (Mulang = Pulang)
“Hayu ah bosen oge didieu wae tatadi.” Jawab Cindy
“Yap ah kaluar” Silma pun ikut berbicara.
“Nya yap atuh” Kataku
4
            Singkat cerita. 16:19. Kami ber empat akhirnya keluar dari benteng Vredeburg melalui gerbang utama. 
“Ayeuna bade kamana?” Tanya Sarah.
“Ka Beus we yuk. Lapar. Wang mawa besek. Aku ngaderegdeg ginih anjir. Kenapa yah akumah ngaderegdeg wae siah kalo pas lapar. Apakah ini yang dinamakan cinta? Haaah? Apakah cinta semenderita ini? ))):” Tanyaku kepada mereka. (Ngaderegdeg: Gatau basa Indonesia nya apa). (Besek: Sama. Gatau juga) )”:
“Maziaaaa ah pusing akumah ))): . Tapi, ngggh yuk ah ka beus we cangkeul tatadi leleumpangan wae.”  Jawab Cindy
“Enya mending ka beus yuk. Powerbank abi seep. Urang ngecas heula di bus” Jawab Silma pula.
“Muhun hayu ah atuh” Sarah pun ikut berbicara.
            Kami pun pergi menuju tempat parkir dimana bus itu berada yang tentunya kami pun tidak tahu tempatnya dimana.
5
            16:27. Aku bersama Silma, Cindy, dan Sarah pergi menuju bus berdasarkan feeling yang kami rasakan. Kami berjalan santai dan beriringan. Aku bersama Silma di depan, dan Cindy bersama Sarah mengikuti dari belakang.
            Kami banyak tertawa saat itu, yang entah menertawakan apa aku pun lupa. Tapi yang aku ingat, kami dihentikan oleh bapak-bapak tukang parfum yang harganya tiga puluh ribuan. Si bapak itu sangat sopan dalam menjajakan dagangannya. Ia berbicara dengan bahasa Indonesia namun dengan logat yang khas orang Jawa. Aku sempat berhenti cukup lama disana.  Tapi tidak jadi karena tanganku ditarik oleh Silma dan Cindy.
            Mungkin karena aku terlalu lama berdiam dan memperhatikan bapak tadi. Dan terlalu menikmati suasana kota ini. Aku jadi lupa waktu bahwa senja, kini semakin senja !
            Dan kemudian. Aku pun tersadar. Karena tanganku di tarik oleh Silma dan Cindy tadi. Kami pun melanjutkan perjalanan. Kembali berceloteh tentang apa saja yang tak begitu penting. Kembali tertawa dan menertawakan apapun yang ada di depan kami. Saat hari terakhir di Kota Pelajar memang kami merasa ceria dan terlihat bahagia.
Tapi, tiba-tiba. Di seberang jalan sana. Aku melihat mereka. Terlihat berjalan beriringan. Tiga pasangan yang masing-masingnya terlihat berpegangan tangan, sesekali. Jelas. Erat sekali. Sesekali terlihat mereka saling bertatapan. Tatapan yang penuh rasa. Sungguh bahagia. Kelihatannya.
 Dan aku hanya memperhatikan mereka dari kejauhan. Dari seberang jalan ini. Karena percuma aku memanggil mereka. Takkan bisa terdengar. Jalan ini terlalu bising oleh hingar-bingarnya kendaraan. Kalau pun terdengar. Mereka belum tentu akan menengok ke arahku. Jadi, ya sudahlah.
Kalian mungkin bertanya-tanya saat ini. Mungkin. Siapa mereka? Siapakah tiga pasangan itu? Dan mengapa mereka berpegangan tangan? Jika kalian bertanya seperti itu, baiklah. Aku jawab saat ini juga.
6
Pasangan pertama. Firman dan Rida. Jelas sekali mereka terlihat bahagia. Dan tak perlu kujelaskan lagi kisah cinta mereka di Kota Pelajar ini. Karena sudah jelas kisahnya di cerita ku yang part pertama.
Pasangan kedua, ialah Rani dan Randy. Keduanya nama samaran. Pasangan yang memang sejak dulu sudah memadu kasih. Serasi sekali. Walau terkadang kekanakan dan lucu juga.
Aku salut kepada mereka. Cintanya termasuk kuat. Yang kalau tidak salah sudah memasuki anniv ke 2 saat itu. 2 tahun cintanya telah berjalan. Hebat mereka.
Pasangan ketiga. Rangga dan Salsa. Untuk yang satu ini. Untung Cindy saat itu tak sempat melihatnya. Apabila ia melihatnya, bisa bahaya. Keselamatannya bisa terancam. Aku takut nanti dia tiba-tiba pura-pura menjadi polisi tidur di tengah jalan sana. Dan untungnya. Sekali lagi. Cindy tak melihat mereka, kurasa. Syukurlah.
7
            Benar saja. Mereka pergi menuju ke sana. Jalan yang paling terkenal di Kota Pelajar ini. Jalan yang namanya mirip merek rokok itu benar-benar menjadi tujuan mereka. Ya. Jalan Marlboro. Ah tidak. Maksudku jalan Marioboro ! Eh bukan. Yang benar adalah Jalan Maliobor* . Sengaja tak kutulis lengkap nama jalannya. Biar kalian kebingungan. Hahaha
            Mereka ber enam terlihat bahagia. Tertawa. Dan berlalu begitu saja. Menghilang di ujung persimpangan itu.
            Aku pun kembali mengalihkan perhatianku. Ingin cepat-cepat sampai menuju bus saat itu dan ingin cepat-cepat menyelesaikan cerita saat ini. Karena aku benar-benar lapar saat itu dan benar-benar ngantuk saat ini. Sial.
            10 menit kemudian. Kami sampai dan langsung menaiki bus yang kami tumpangi. Tapi aku tidak langsung makan saat itu. Karena aku sadar. Saat itu aku bau. Aku takut nanti diledek oleh teman-temanku begini. “Sudah jomblo, jelek, bau lagi.”
            Akhirnya aku bersama Silma, Cindy, dan Sarah memutuskan untuk mandi terlebih dahulu di wc umum sana. Kami ber empat pun akhirnya mandi. Tapi tidak mandi bersama. Ah euy aingah lah )):
            Setelah selesai mandi, kami kembali menuju bus dengan face yang lebih segar dan perut yang masih lapar. Lantas langsung memakan makanan yang disediakan oleh panitia saat itu.
            Tak perlu waktu lama. Seluruh makanan itu langsung masuk kedalam sistem pencernaan kami yang mungkin saat itu sudah memasuki gerak peristaltik di esofagus . Hingga akhirnya memasuki Lamb . . . Ah syudahlah. Oke skip. ;(
8
            17:00. Cindy dan Silma mengajakku pergi ke jalan Maliobor* itu. Mereka juga mengajak Fandi (nama samaran) si orang terpandai di kelas kami. Entah ingin membeli apa aku pun tak tahu. Mungkin baju couple an, celana jin, iblis, atau malaikat, atau daleman booker t, atau bh berhala ataupun apa saja aku tetap tak tahu dan aku tak ingin berspekulasi. Itu urusan mereka. Aku akhirnya mengiyakan keinginan mereka. Dan kemudian mengajak Imam juga (bukan nama samaran) untuk sekedar menemaniku. Karena aku tau, kalau wanita sedang belanja, pasti tak akan bisa diajak bicara ataupun diganggu. Bagaimanapun itu.
            17.10 WIB. Kami pun sampai di jalan itu. Cindy, Silma dan Fandi terlihat asyik belanja. Sedangkan aku dan Imam terlihat asyik ngahuleng. (Ngahuleng = Termenung). Beberapa menit kemudian. Aku dan Imam pun beranjak pergi dari tempat itu. Membosankan. Kemudian meninggalkan mereka bertiga di toko itu.
“Mam balik yap ah” Ajakku kepada Imam
“Yap” Jawab Imam
“Jajan deui moal?”
“Moal Riy”
“Naha? Duitna geus beak mam? :”>”
“Heeuh )):”
“Sip. Sarua :”>”
“Yoi )):”
            * Kami pun cry bersama :”(
9
17:40. Aku dan Imam memutuskan untuk kembali ke bus karena mengantuk dan kecapekan. Tapi sebelum menuju bus, kami sempatkan juga untuk membuat kenangan dalam bentuk foto dipersimpangan Kota Pelajar sana. Setelah dirasa cukup memuaskan dahaga popotoan. Aku dan Imam akhirnya kembali melanjutkan perjalanan dan sampailah di parkiran tempat dimana bus itu berada.
Beberapa jam setelah senja itu, sisa waktu di kota Pelajar aku habiskan di dalam bus sambil bermalas-malasan sambil menunggu semua temanku untuk kembali ke bus.
Hingga akhirnya. Sekitar pukul 21:30 an. Kami akhirnya pulang ke kota kecil kami yang tercinta. Tasikmalaya. Untuk kembali melakukan rutinitas yang terkadang membosankan. Untuk kembali mengerjakan tumpukan tugas yang biasanya memuakkan. Dan untuk kembali menjalankan sisa hidup kami yang terkadang juga menyenangkan. Seperti saat ini. Saat kami di Kota Pelajar.
* Tamat *
10
            Mohon maaf bila ceritaku ini tidak memenuhi ekspektasi para pembaca dengan akhir yang tidak mendebarkan. Sudah kubilang. Cerita ini memang ku ceritakan secara singkat dan tidak menarik.
 Tapi untuk kami yang mengalaminya, itu sangat menarik dan berkesan. Karena apa? Karena saat itu. Aku bisa tertawa bersama mereka. Memaksimalkan sisa waktu yang ada dengan berbagai macam kesenangan, kesedihan, atau bahkan mungkin kegilaan. Bersama teman, sahabat, atau mungkin kekasih, dengan berbagai macam hal yang menjadikannya indah. Dan aku mensyukuri semua hal itu.
            Terima kasih Tuhan. Karena telah menciptakan manusia-manusia yang menjadikan dirinya teman, sahabat, kekasih untuk mengisi waktu-waktu kami.

“Aku menyayangi kalian. Sampai jumpa lain waktu. Mudah-mudahan tidak ada rasa sesal karena kita telah saling mengenal. Harapku, kita bisa menghabiskan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Terlepas dari cita-cita dan angan kita yang ditakdirkan berbeda.” Dariku. Sahabatmu.



Selasa, 22 Desember 2015

Kita Adalah Pohon

Kita Adalah Pohon

            Siang ini, dua bulan yang lalu mungkin aku sedang bercengkrama sembari menikmati kopi yang baru aku beli dari warung di samping kelasku bersama ke empat teman “putih abu” ku di dalam kelas.
            Ya memang. Ini adalah hal biasa yang sering aku lakukan ketika kelas tak dimasuki guru atau sedang tak ada pembelajaran waktu itu. Dan memang benar juga aku sering melakukannya bersama mereka, teman-temanku, nama akrab mereka Fajar, Sani, Nisa, dan Audina.
Aku sendiri bernama Maher Zain. Bukan nama sebenarnya, hanya mengarang saja karena aku penggemar Maher Zain dan mereka bukan. Oke perkenalkan aku Fakhriy sebut saja Jackson, tidak, itu terlalu jauh dari nama asli, oke nama panggilanku Beb dan yang pasti bukan teman kalian ataupun pacar kalian sekarang, mungkin nanti.
            Sekarang aku sedang menulis cerita ini di tempat yang sama, ah tidak maksudku mengetik cerita ini di tempat yang sama. Ya benar, ruangan kecil berukuran sekitar 3x2 sama dengan 6 yang kusebut kamarku. Di kamarku inilah aku biasanya menuangkan isi pikiranku yang begitu banyaknya menjadi untaian-untaian kata yang indah dan bermakna padahal tidak juga.
            Oke baiklah. Niat awalku sebenarnya adalah menyelesaikan ceritaku yang saat itu belum aku selesaikan, cerita apa? Entahlah, mungkin cerita cinta kita ? Ah tidak juga, maksudku cerita yang saat itu ku beri judul “Sekelumit Kisah di Kota Pelajar”.
Cerita yang ku bagi dalam beberapa part karena terlalu panjang dan membosankan bila ku susu + n dalam satu part saja. Lagipula bila cerita itu langsung ku susu + n dalam satu part,  pastinya aku yang membuatnya juga akan mengantuk dan cangkeul (cangkeul : Alat yang biasa digunakan para petani untuk mengolah tanah). Jadi? Ya begitulah.
Nah tapi aku bingung kelanjutan kisah dari cerita tersebut, kenapa? Entahlah, mungkin karena aku tidak ingat atau karena memang aku tidak ingin mengingat kejadian-kejadian saat itu, namun satu yang pasti, aku bingung mengakhiri cerita tersebut.
Tapi entahlah, mungkin suatu saat nanti aku akan melanjutkan cerita itu, entah kapan, entah besok, entah lusa, entah minggu depan, entah bulan depan, entah tahun depan, namun satu lagi yang pasti, aku tak akan melanjutkan cerita itu hari ini. Jadi? Tunggu saja.
Karena aku belum ingin melanjutkan cerita “Sekelumit Kisah di Kota Pelajar” ku, akhirnya aku ketik kembali cerita yang baru yang menurutku menarik tapi menurutmu tidak yang terjadi dua bulan yang lalu, ya sudahlah, jadilah ini, mari mulai ceritanya.
1
            Waktu itu, saat kami masih berseragam putih abu dan memang sekarangpun masih, bercanda di kelas membicarakan apa saja yang menurut kami menarik dan asik adalah kegiatan rutin kami setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu, kecuali Minggu, karena hari itu hari libur.
            Kalau tidak salah hari itu bukan hari minggu, jadi aku menyempatkan pergi ke sekolah. 6.15, anak-anak rajin mulai ke luar dari rumahnya untuk bersiap berangkat ke sekolah, menyalami orang tuanya, menunggu angkutan kota, kemudian pergi menuju sekolah nya tercinta. Tapi aku tidak karena masih tidur.
            Singkat cerita, aku akhirnya berangkat menuju sekolah tepat pada pukul 6.55, buru-buru, aku memacu motorku dengan kecepatan yang sangat-sangatlah tinggi, tapi karena aku yang mengendarainya bertubuh sangat-sangatlah pendek, jadi kecepatan motorku ku perpendek dan ku perlambat lagi agar motor dan penunggangnya terlihat agak cocok dan klop. Tapi nyatanya tidak demikian.
2
            Akhirnya ku sampai di gerbang sekolah pada pukul 7.20 dan segera memarkirkan motorku, kemudian langsung melompati pagar sekolah yang tingginya kurang lebih 1,5 meter dan langsung berlari sprint menuju kelas sembari berharap guru pun kesiangan sepertiku agar aku tak dihukum berlari mengelilingi lapangan basket disana.
            Tapi . . . . . Tapi . . . . . Tapi aku tidak sampai di gerbang sekolah, ya, karena sekolah ku memang tidak ada gerbangnya, aku pun tak melompati pagar yang tingginya 1,5 meter itu karena sekolahku tak ada pagarnya, dan satu lagi, aku juga tidak berharap guruku kesiangan pula agar aku tak dihukum berlari mengelilingi lapangan basket. Kenapa? Yap benar, itu karena sekolahku tak mempunyai lapangan basket. Haahaha 33x. Aku berbohong, dan kalian tertipu.
            Baiklah, kembali ke cerita, aku pun sampai di sekolah pada pukul 7.20, kemudian dengan santai aku memarkirkan kendaraanku di depan kelasku dan akhirnya memasuki kelas. Beruntung bagiku saat itu awal bulan, dan sesuai perkiraanku, semua guru sedang rapat bulanan saat itu.
            Aku pun langsung menuju bangku ku sendiri dan kemudian menyimpan tas ku yang isinya hanya beberapa buku pelajaran dan powerbank diatas kursi. Oh ya, bangku ku tepat berada di jajaran pertama dan di sisi paling kanan. Di belakangku ada bangku Iteung, dan di samping kiriku ada bangku Audina. Oke, kelas ku terdiri dari 15 siswa, dan Alhamdulillah semuanya manusia, eh tapi tidak juga, ada satu yang bukan dan kurasa hanya sekedar mirip manusia . . . . . . Tapi entahlah. Aku tidak akan menyebut namanya, aku takut nanti malah terkena pasal 27 ayat 3 dan dituduh melakukan pencemaran nama baik. Dia temanku juga, entahlah, kurasa sahabatku malah. Nama samarannya Iteung, nama aslinya? Kan tadi aku sudah bilang, tak akan ku sebutkan.
            Tapi, ini bukan cerita tentangnya, bukan cerita tentang Iteung yang mirip manusia, bukan juga cerita tentang betapa pabalataknya bangku-bangku di kelasku itu. Bukan juga cerita tentang betapa bau nya whiteboard di depan kelas kami. Ini cerita tentang . . . . . nggggh tidak tahu, aku pun sedang memikirkannya. Ah sudahlah. Ku tulis saja semuanya. Baiklah.
3
            Saat itu anggota kelas sudah tiba semuanya, dan aku yang terakhir tiba, seperti biasanya. Setelah menyimpan tas. Untuk beberapa menit aku terdiam di bangku ku, menatap kosong ke arah jendela. Menatap rimbunnya pepohonan, merenung, berpikir, tapi tidak jadi. Karena aku baru sadar aku jarang berpikir. Jadi, ya sudahlah, aku pun akhirnya hanya menatap kosong keluar jendela, tak memikirkan apa-apa, kemudian bosan.
            8.20 WIB, akhirnya ada guru yang datang dan masuk ke kelas, entah siapa waktu itu aku lupa lagi. Bapak/Ibu itu hanya datang, kemudian pergi lagi dan meninggalkan tugas yang harus kami kerjakan.
            Karena hal tersebut, salah satu teman “terpintar” ku pun sedih karena tidak belajar dan mendapatkan pelajaran dari guru-gurunya. Tapi hanya dia saja yang sedih, sisanya? Ya benar, kami ceria dan bergembira. Kami sangat gembira, kemudian merayakannya dengan cara masing-masing.
Ada yang merayakannya dengan berpacaran lah, ada yang merayakannya dengan pergi ke si Ibi warung hanya untuk membeli beberapa bungkus kiripik “Sipis” lah , ada yang mengeluarkan headset dan mendengarkan lagu-lagu yang entah lagu apa itu di handphone-nya, ada juga yang merayakannya dengan cara memainkan game-game di aplikasi line yang entah bagaimana cara memainkannya aku pun tak tahu.
Lantas aku bagaimana? Ya, seperti yang telah kusebutkan diatas di awal cerita ini tepatnya pada paragraf pertama dan kedua bait pertama hingga ke tujuh. Aku langsung berkumpul dengan kawan-kawanku itu, teman seperjuanganku, teman karibku, teman seperjombloanku, atau apalah itu semacamnya.
4
            Ku ceritakan dulu kenapa aku dan teman-temanku itu saat itu hingga sekarang sering berkumpul ketika tidak ada guru. Waktu itu, kapan tepatnya akupun lupa bukan karena amnesia tapi aku memang tidak ingin mengingatnya, kami sedang sibuk dengan kepentingannya masing-masing, entah karena ego kami yang tinggi atau solidaritas kami yang rendah. Yang pasti, saat itu kami masih berjalan sendiri-sendiri. Hingga suatu saat, takdir mempersatukan kami dan mengalahkan ego kami yang tinggi.
            Fajar, temanku ini berlatar belakang kisah cinta yang cukup menarik. Tidak bisa berenang. Ia salah satu anggota klan “Onanymous” :v. Pacaran hobinya, jomblo statusnya.
            Sani, temanku yang satu ini adalah seorang atlit, atlit renang tepatnya. Ia cukup berprestasi, ia pernah menjuarai kejuaraan renang se Jawa-Bali, dan masih banyak lagi. Hebat. Kisah cintanya? Cukup menarik pula, tapi aku tidak ingin menceritakannya, nanti saja. Ngojay hobinya, jomblo statusnya.
            Nisa, temanku yang satu ini sudah berbadan tiga, kasian dia. :( . Ditikung hobinya,:(. Jomblo statusnya. Duh euy, baiklah, mari kita menundukkan kepala dan mengheningkan cipta sejenak untuk kebaikan teman kita dan demi kemulusan karir cinta dia kedepannya, mengheningkan cipta, mulai :(
            Audina, dia seorang wanita yang cukup tinggi, kurasa. Salah satu anggota pengibar bendera Kabupaten Tasikmalaya entah tahun berapa aku lupa. Mengenang mantan hobinya, jomblo statusnya.
            Aku, aku hanya lelaki kurus yang tak tampan, yang selalu mencintaimu dengan caraku. Lahir di Bandung dan tumbuh di kota kecil Tasikmalaya. Hobi? Entahlah, mencintaimu mungkin? Status? Yaa, jomblo ku yakin. :(
            Itulah introduksi kita, kami akhirnya bersama karena mempunyai latar belakang yang sama. Ya, sama-sama jomblo. Kasian kita :( . Baiklah daaak, tepuk tangan dulu untuk kitaaaaa. Sudah? Oke baiklah, mari kita lanjut ceritanya. Dan karena perasaan yang sama rasa sama rata itulah kami pun akhirnya terus bersama menjadi teman seperjuangan sampai akhir hayat nanti, amin. Jug maraneh tiheula we ah ketang sampai akhir hayatnya, aku mah nanti aja. :(
5
            Singkat cerita, saat itu kami berkumpul bersama. Saling berdiam diri agak lama. Bukan karena kami saling terpana, tapi ini lebih karena kami bingung yang pertama kami bicarakan harus hal apa?
            Lalu, timbul lah ide gila yang keluar dari mulutku. Sebenarnya tidak gila sih, hanya melebih-lebihkan saja agar terkesan dramatis padahal nyatanya tidak. Ide gila itu apa? Yaaa, ide gila itu adalah aku menyarankan permainan ToD kepada mereka. Yaa, ToD !
            Kalian tahu ToD? Tidak? Kalian hidup di mana ? Goa? Oh paingan :( . Baiklah, aku ceritakan lagi agar kalian mengerti. ToD adalah sebuah game yang merupakan akronim dari Truth or Dare. Cara memainkannya adalah kita harus memutar sebuah alat apapun itu entah botol, pensil, atau apa saja, lalu orang yang ditunjuk oleh alat itu harus memilih, memilih “T” atau memilih “D”.
            Apabila kamu memilih “T”, maka kamu harus menjawab jujur satu pertanyaan yang diberikan teman kalian. Pertanyaan tentang apapun itu, terserah kalian. Pertanyaan ini perlahan akan menguak rahasia-rahasia kalian, tapi kalian tetap harus menjawab jujur pertanyaan-pertanyaan itu. What a mother fucker man? Tukang tipu mah akan kesulitan dalam game ini, pasti. Teu percaya? Tanyakeun jig ka aeeeng :(
            Dan apabila kamu memilih “D”, maka kamu harus melaksanakan apa yang teman kalian perintahkan, biasanya yang mereka perintahkan adalah hal-hal yang memalukan dan merugikan kalian sendiri. Hingga akhirnya integritas dan nama baik kalian amburacak pabalatak teu puguh judul. Biasanya inimah biasanya, kaleum :( .
Mereka setuju. Kemudian permainan pun kami mulai.
6
            Ahiya, alat yang kami gunakan saat itu untuk diputar dan menunjuk salah satu dari kami adalah sebuah handphone. Yaaa, handphone ! Hadphone ku ! Handphone Blackberry Gemini 8250 ku ! :( . Kami sepakat menggunakan handphone itu karena handphone ku mudah diputar. Ya, itu juga karena baterai handphone ku yang sedang hamil. Entah hamil berapa bulan saat itu, tapi satu yang pasti, aku tak mengetahui siapa bapak dari anak yang handphone ku kandung. Dasar bapak tak bertanggung jawab ! Bisanya hanya menghancurkan masa depan handphone ku saja. Dasar bedebah, tak berperikehandphonan ! Ingin enaknya saja ! Yaa sudahlah, begitulah. Kasian dia. Jadinya begitu, salah dia sendiri. Korban pergaulan bebas. Anaknya akan lahir tanpa bapak dan akan dianggap anak haram disekitarnya. :( Apalah ini? Gatau. :(
            Handphone ku pun di putar oleh Fajar, berputar cukup lama, mengarah kepada kami semua dan seakan memilih-memilah rahasia siapa yang harus dikuak terlebih dahulu. Hingga akhirnya, alat itu memilih Nisa. Yaa Nisa. Kami tertawa, bukan karena menertawakannya. Tapi lebih karena merasa lega alat itu tidak menunjuk ke arah kami. Dan Nisa sendiri mulai merasa tidak nyaman karena tersadar rahasianya akan mulai terkuak, mukanya bersemu merah, badannya melebar, pori-porinya membesar, lubang hidungnya merekah, dan masih banyak lagi, ia menimang-nimang hal apakah yang harus ia pilih. “T”, ataukah “D” ? Cukup lama ia berfikir, kira-kira 2x45 menit ia berfikir, kemudian akan dilanjutkan extra time 2x15 menit apabila hasil laga berjalan imbang. Dan akhirnya, Nisa pun memilih Truth !
Bersambung :v . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Minggu, 06 Desember 2015

Lantas Aku Harus Bagaimana ?


            Ku hanya membiarkan diriku tersembunyi, berada di sisi gelap, tak nampak, dan tak terlalu terlihat olehmu. Tujuanku? Lupakan soal tujuan, ini hanya masalah antara kita. Ya, kita ! Aku dan waktu !
            Dan benar saja, tidak ada yang benar-benar betah saat menunggu. Tidak ada yang benar-benar betah saat menanti. Namun, entahlah. Ia tak tahu seberapa lama waktu menunggunya, ia tak tahu sampai kapan lama penantiannya. Yang ia tahu, penantiannya tak dibatasi pertanyaan sampai kapan.
            Tapi, selalu saja, entah mengapa. Akhir cerita cinta seorang pemuja rahasia selalu saja begini. Tak pernah berbeda, selalu saja kecewa di akhir cerita. Seolah perjuangannya tak berharga. Seolah kau tak hargai hadirku. Seolah kau sengaja acuhkan harapku. Seolah segala penantiannya hanya sebatas permainan yang perlu dilihat, diamati, kemudian ditinggalkan.
            Bahkan, sampai detik ini. Aku masih mengejar dan terus mengejar, kau berlari dan tetap saja berlari, kau selalu berada pada ambang pandang, tetapi dalam jarak tak mungkin lagi tergapai teriak.
            Hey ! Kamu ! Iya kamu ! Kamu yang dinanti jangan seakan tidak peduli ! Yang kukorbankan memang bukan materi. Tetapi waktu yang tak bisa kembali. Tak usah membalas perasaan ini jika memang tak bisa. Cukup katakan saja sebaiknya aku harus bersikap bagaimana. Tetap menunggumu, atau meneruskan langkah meninggalkanmu.
            Tapi begitulah hidup, beginilah cinta. Ada yang terus menunggu meski ia tahu yang dia tunggu tak akan datang. Dan ada juga yang terus datang, meski ia tahu ia sama sekali tidak ditunggu. Begitulah, tapi, ah entahlah.
            Satu yang perlu dan mesti kau tahu, bertahan dalam tunggu di waktu yang tidak sebentar, itu bukanlah sebuah prestasi, sayang ! Itu sama sekali bukanlah sebuah kebanggaan. Jangan menyia-nyiakan hidup seseorang terlalu lama. Banyak hal yang sebenarnya bisa aku dapatkan, namun memilih membuangnya. Lebih memilih tuk menanti. Penantian atas nama cinta.
            Tapi, ya begitulah. Selamat datang acuh, hadirmu telah beri warna baru dalam corak kehidupan dunia fana ! Dan, baru kusadari, ternyata cinta se-kacida ini ! Ooh cinta !
            Ya ! Aku tahu ! Aku tahu mungkin memang tak akan pernah ada ketepatan waktu untuk mendapatkanmu ! Dan semua itu hanya harapan semu semata. Yaa benar ! Harapan semu !
            Dan, sayang, terkadang aku sangat lelah. Ingin sekali menyerah. Namun ketika kulihat lagi ke belakang, sudah berapa lama aku mengorbankan waktuku untukmu, hatiku seakan menegaskan, “Jangan berhenti sekarang, mungkin harapmu sebentar lagi menjadi nyata !” Sehingga aku memilih, bertahan dalam keterpaksaan.
Tapi, seperti kata pepatah yang tak ku ketahui asalnya dari mana, mereka pernah berkata, “Berhati-hatilah dengan hati, karena hati sering sakit hati oleh hati yang kurang hati-hati.” Mungkin pepatah tersebut sangat pas untuk disematkan kepadamu. Tapi sudahlah, percuma.
Selalu sabar disaat kamu tidak ada kabar, selalu bertahan disaat aku kau abaikan, itulah aku, iya, aku ! Memang begitulah, selalu saja, “serba salah mun nyaah ka jelema anu salah !” Tapi, ah sudahlah !
Bukan aku mengharapkan balasan. Bukan aku tak ikhlas menunggumu. Tetapi, bayangkan saja bila kau menjadi aku. Tunggumu tak dihargai. Korbanmu tak dilihat sama sekali. Dan waktumu terbuang sia-sia. Menurutmu bagaimana? Indah? Mudah? Tak perlu dijawab. Cukup rasakan saja. Bahwa kau seberharga itu. Sedangkan aku semenyedihkan ini.
Andai saja seorang pedagang melewatiku malam ini, tak peduli pedagang apapun itu, mungkin aku dengan berat hati akan dengan ringannya berkata “Mas, aku pesan bakso urat hati dengan kuah air mata. Tolong kirimkan tidak tepat waktu, biar dia tahu lelahnya menunggu.” Mungkin begitulah.
Satu lagi yang mesti kau ketahui, ditiap malam yang melelapkanku, aku dan doa selalu bekerja bersama-sama, untukmu.
Terkadang logika ku mempertanyakan, untuk apa aku melakukan semua ini? Untuk apa aku bertahan dalam diam? Untuk apa aku mengalah kepada sebuah pengacuhan? Untuk apa? Sudahlah, menyerahlah ! Tapi, benar, kadang perasaan jauh lebih unggul dari apapun. Logika ku kalah begitu saja hanya oleh pembelaan lewat sebuah kata, cinta ! Tapi, sayang, satu lagi, hanya satu pesanku untukmu saat ini, “Yang kamu sakiti itu, mungkin sering mendo’akanmu, dengan cinta sebelum dan setelah lelapnya”. Lantas, kamu ingin menyia-nyiakannya begitu saja? Tak perlu dijawab. Cukup pikirkan.
            Dan memang, sayang ! Do’a adalah caraku untuk menjagamu dari kemungkinan terburuk, di luar jangkauan tanganku yang hanya ada dua. Dan memang begitulah, mendo’akanmu adalah sebaik-baiknya caraku menjagamu. Dengan hanya sedikit walau, kau yang saat ini masih belum kumiliki.
            Jadi, sayang. Kali ini aku harus bagaimana? Tetap bertahan atau harus pergi dari hidupmu? Bantu aku memecahkan persoalan ini. Apapun jawabmu, aku terima sepenuhnya. Jangan terbebani dengan rasa takut menyakiti. Hidup kita masih panjang. Masih banyak yang perlu kita urusi. Jadi pastikan pilihanmu tidak berbuah penyesalan. Tapi, ah sudahlah. Selamat tidur, sayang. Semoga esok kita tak ragu untuk saling menegur.