Minggu, 22 November 2015

Ketika Cinta Menjadi Sebuah Kata

Cinta ?

            Terkadang, perpisahan tak benar-benar mengakhiri segalanya. Karena sosok yang sangat harus kau lupakan, begitu menetap abadi dalam ingatan. Kupikir, aku berhasil melupakanmu. Tapi persetan ! Berani-beraninya kenangan itu kembali datang tersenyum sumringah, meskipun jalan kita tak bertemu, tapi bagiku, kau tetap indah.
            Entah sudah berapa puluh jam waktu ku terbuang untuk memperhatikanmu disini. Iya, hanya memperhatikan, sekedar memandang. Tak lebih. Sebab kau tak hargai hadirku sama sekali.
            Padahal jarak kita cukup dekat? Ah iya, kita tak pernah benar-benar bicara meskipun jarak kita tak bersekat. Kita tak pernah benar-benar tertawa meskipun bersama. Kita tak pernah benar-benar saling menatap meskipun berada dalam satu atap. Ya, kita sama-sama menetap bersama dalam satu langit. Satu semesta.
            Kita adalah dua yang tak mungkin disatukan. Kita adalah tanaman layu yang tak mungkin lagi dimekarkan.
             Kita merindu dalam hening, saling mendo’akan masing-masing, menikmati luka, berpura-pura tidak suka. Rasa tak pernah salah, mungkin waktu lah yang bermasalah. Padahal, harapku kita berjalan beriringan, berdampingan, setapak demi setapak. Bukan kau di depan, aku dibelakang, bukan kau berlari, aku tertatih. Bukan kau pergi, aku tergeletak perih.
            Bukan itu ! Bukan kisah seperti itu yang aku inginkan. Percayalah, sayang ! Bukanlah itu ! Untuk apa kamu melakukannya? Menguji besarnya cintaku? Menguji berapa besar kepedulianku terhadapmu? Mempermainkanku? Atau, kau hanya ingin membuatku bosan, kemudian memilih pergi? Kau pasti berada di salah satunya.
            Bisakah kita saling menyingkirkan ego, dan membiarkan rindu ini dilebur dalam satu dekap panjang tanpa perlu banyak berbincang, sayang? Bisakah kamu tak menganggap dirimu terlalu berharga untukku? Bisakah? Aku jenuh, sayang. Dan, aku juga berharga.
            Mau berkata jika itu tidak patut? Lalu apakah kau patut membuatku luka? Kau lucu ! Se-egois itu.
            Tapi benar tentang apa yang dikatakan pujangga diluar sana, kamu tak bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta. Meskipun tahu tak seharusnya mencintai dia, kadang kamu tetap akan mencintainya. Itu semua benar. Aku tak bisa menyangkalnya.
            Karena, jatuh cinta yang baik bukanlah yang direncanakan. Cinta akan mendatangimu, membuatmu jatuh, sebelum kamu sadar apa yang sedang terjadi. Tapi begitulah, namanya “Jatuh Cinta”, bukan “Meletakkan Cinta”. Jadi, ya harap maklum kalau jatuhnya bisa dimana saja.
            Tetapi, perasaan sayang menyelamatkanku dari jenuhnya kesabaran. Juga cinta dalam dada yang menjadikanmu lebih berharga dari rasa egoisku di kepala. Pergilah ! Jika aku memang bukan pintamu. Mari lakukan hal yang semestinya kita lakukan. Lenyapkan rasa jenuhmu, lenyapkan rasa bersalahmu. Aku akan membunuh cintaku. Tak usah memikirkan perasaanku.
            Aku cukup tabah, aku sudah pernah patah sebegitu parahnya. Menurutku, patah hati terparah adalah ketika yang terpercaya berubah arah. Lepaskan saja jika memang ingin kau lepas. Pergilah saja jika memang ingin kau pergi. Perihal sesaknya, biarlah itu menjadi urusanku.
            Satu yang pasti dan mesti kau tahu, sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi. Dan satu lagi, sebelum kita saling mengabaikan, kita pernah saling mendo’akan. Tapi, ah entahlah. Sialan ! Cinta membuatku keras kepala. Meski tak ditakdirkan bersama, aku tetap meminta hal yang sama dalam setiap do’a.
            Dan satu yang pasti dan yang ku yakini. Tak saling mengungkap rasa, tak saling mempertemukan rindu, tak saling memberi kabar. Tak berarti semua cintanya telah hilang. Aku yakin itu !
            Semua orang tentunya ingin serius, tapi serius saja tidaklah cukup. Hubungan cinta tak bisa selamanya mengalir seperti air. Dan pada akhirnya, realita akan selalu menang, karena wujudnya lebih nyata dari pengharapan.
            Kita hanyalah dua orang yang gagal, gagal bersabar, gagal saling mendengarkan. Kita adalah dua yang tak dipisahkan namun tak pula disatukan. Namun ketahuilah, Sayang, apa-apa yang telah kau buang, kau tak kan pernah bisa pulang. Pikirkan dengan kepalamu, tanyakan pada hatimu, apa kita memang harus berakhir begini? Sebab apa yang kau sudahi, tak kan pernah bisa diulang kembali.
            Satu hal yang harus kamu tahu, aku mencintaimu tidak seperti dia, mereka atau mantanmu. Aku mencintaimu dengan caraku.
            Adakah yang lebih luka, saat kau mencoba tersenyum di hadapan orang yang pernah kau cinta, sementara kau bukan siapa-siapa lagi di hatinya? Adakah yang lebih perih dari nyanyian cinta sambil berdansa di atas piringan serpih? Sedangkan bayangannya telah berubah menjadi ribuan keping yang berserak bertumpuk pedih?
            Teruntuk bodohku. Pergilah. Kau telah tertusuk tajamnya duri sekuntum mawar. Sembuhkan lukamu !
            Dan teruntuk kamu cintaku, kamu ibarat hujan. Awalnya sangat menyenangkan. Tetapi kemudian berubah menjadi dingin tanpa bisa kembali menghangatkan. Untukmu, terima kasih.

Selasa, 17 November 2015

Sekelumit Kisah di Kota Pelajar III


Ini masih cerita lanjutan dari kisah sebelumnya. Masih bercerita tentang Sekelumit Kisah di Kota Pelajar. Masih tidak berisi. Masih tidak penting. Dan masih tetap tak menarik. Tapi maaf, maaf kalau cerita yang ini sudah tidak garing lagi. Cerita ini sudah basah. Iya. Cerita ini sudah basah, sangatlah basah. Cerita ini dibasahi air mata seseorang yang titajong cingir (cingir:kelingking) nya ke salah satu ujung kaki meja. Siapa? Aku ! Tapi, ah sudahlah, aku skip bagian ini. Meski ku ceritakan pun kalian mungkin takkan peduli. Karena siapa aku untukmu? Aku bukan siapa-siapa.
1
            Eh tapi tunggu dulu, sebelum aku memulai cerita ini, aku ingin makan terlebih dahulu. Aku teramat lapar malam ini. Ohiya, ngomong-ngomong kamu yang disana sudah makan belum? Makan dulu sana ! Entar sakit loh, kalau kamu sakit nanti yang mau nyakitin aku lagi siapa coba? Jadi, makan yaa ! Oke? Teu ! Sip.
            Ah iya, aku hampir lupa. Part ini bukan cerita tentang Rida dan Firman. Bukan pula cerita tentang Cindy, Salsa dan Rangga. Part ini ku khususkan untuk salah satu temanku yang lainnya. Salah satu temanku yang menjadi sahabat dari sahabat temanku yang mempunyai sahabat, sahabat dari sahabat sahabatnya temanku ini akhirnya menjadi sahabatku juga. Siapa? Silma. Siapa dia? Jika kamu menyimak cerita sebelumnya kamu pasti sudah mengenal Silma yang ku ceritakan waktu itu. Iya, ini cerita tentang aku dan Silma.
2
            Saat itu, Kota Pelajar, jam nya aku kurang tahu karena memang tidak tahu. Aku, Cindy, Silma dan Sarah menyusuri ruangan Taman Pintar. Satu persatu, senti demi senti, inci demi inci. Hampir tak ada satu titik pun yang kita lewatkan. Tapi, ah tidak juga, maksudku hampir tidak ada titik yang mereka lewatkan. Karena aku melewatkan semuanya. Kenapa? Karena saat itu aku sibuk mengecek dunia maya yang memang sedang rame-ramenya. Iya, TL twitter saat itu lagi rame-ramenya (TL: Timeline), mulai dari adanya tukang online shop peninggi badan, tukang online shop pemutih wajah, tukang promot, tukang retweetin tweet orang, tukang retweetin tweet orang yang sudah di retweet temannya, tukang skill cewek orang, tukang jawab pertanyaan dari akun yang mengadakan kuis, tukang harkos, tukang phpin anak orang, tukang tikung. Ah banyak deh pokoknya.
            Tapi saat kita sampai di suatu tempat yang kalau tak salah ingat tempat itu banyak ikannya, aku mulai menyadari, bahwa aku telah membuang waktu-waktu berhargaku di kota ini. Seharusnya aku menikmatinya. Bukan membuang-buang waktu ku dengan tertawa sendiri. Seharusnya aku tertawa bersama. Iya, tertawa bersama orang-orang disekitarku. Bersama teman-temanku. Dan akhirnya, aku pun menyimpan ponsel ku di saku baju Silma, ah tidak, maksudku, saku bajuku.
            Setelah itu , eh tunggu dulu, sepertinya aku haus, aku ingin beli orson dulu ke warung Ceu Beti. (orson: minuman yang terkenal pada zamannya). Oke, ku lanjut lagi, tapi gak tahu harus mulai dari mana. Ahiya, mungkin aku akan mulai dari ciri fisik Silma saja. Silma ini orang Tasik bukan orang utan, cantik tapi aku tidak mencintainya, mungkin belum karena disini ada yang lebih dulu menyukainya, siapa? Sebut saja Rian, bukan temanku, aku tidak tahu nama aslinya tapi namanya tetap ku samarkan. Agar ia tidak meminta royalty nantinya.
            Singkat cerita, setelah aku memasukkan ponselku ke saku bajuku, aku tidak sengaja dan tidak sadar menatap wajah Silma. Begitu lama, entah berapa lama waktu itu, mungkin dua kali empat puluh lima menit lamanya. Tapi entahlah. Aku lupa. Aku sadar, ternyata Silma memang benar-benar mempunyai wajah yang cukup menarik, dan cantik. (maaf aku bohong, Silma yang minta). Daaaan, ah sial, tatapannya benar-benar merusak iman. Dan lebih sialnya lagi, imanku yang memang hanya sa tai kukueun Pak Agus (guru Pai) ku di sekolah sana akhirnya runtuh dan luluh. Aku malah keasikan berada didekatnya. Seolah-olah Kota Pelajar ini merupakan tempat dua dari banyak kepala bertemu untuk kemudian dipersatukan rasa yang sama. Padahal sebenarnya tidak.
            Seperti kata Payung Teduh di salah satu lagunya, ia berkata “Adaaaa yang tak sempat tergambarkan, oleh kata ketika kita berduaaa ~”
            Seperti itulah, padahal aslinya tidak. Kita disana berjalan berempat, ah tidak, maksudku ber enam. Karena Cindy dihitung tiga. Mungkin jika ditambah satu orang lagi kita akan resmi menjadi girlband dengan aku sebagai manajer nya.
3
            Di salah satu ruangan yang banyak ikannya di Taman Pintar itu terlihat Silma digoda oleh penjaga tiket disana, tapi tidak jadi. Mungkin karena ia takut kepadaku yang memang kebetulan berada di dekat Silma. Atau mungkin karena ia yang iba kepadaku, melihat mukaku yang teu puguh judul ini. Entahlah, aku tidak tahu, aku tidak bertanya kepadanya waktu itu. Aku lupa, lagipula, kalaupun aku ingat, aku tidak mau bertanya kepadanya.
Tapi akhirnya, setelah melalui berbagai macam gangguan yang tidak penting kami pun melakukan sesi pengabadian moment di tempat itu. Satu, dua, tiga, empat, jepretan telah dilakukan. Setelah kami lihat hasilnya, akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan sesi pemotretan. Kenapa? Ternyata rarai kami hinyai dan tak enak dipandang. Ah sial what a mother fucker men? Eh astagfirullah )):
Selanjutnya, kami pun melanjutkan jalan ke ruangan selanjutnya. Dan sampailah kami di satu ruangan dimana aku merasa berada di zaman yang tak asing lagi bagiku. Yup tepat sekali. Aku masuk ke ruangan prasejarah. Disini banyak sekali sudut-sudut yang perlu diabadikan lewat kamera. Akhirnya sesi pemotretan dilanjutkan disini, mulai dari gaya jongkok ala Pithecanthropus, gaya seram ala Tyrannosaurus, hingga gaya ala madog endog dinosaurus. Banyak sekali gaya yang kami lakukan.
Setelah kami puas menambah ilmu dan berfoto disana, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, dan kami masuk ke ruangan besar yang menceritakan tentang seluk beluk ruang angkasa. Scene disini akan ku skip dan takkan ku ceritakan. Mengapa? Karena kurasa disini terlampau membosankan bagi kalian. Menurutku begitu. Entahlah.
4
            Singkat cerita, aku, Silma, Sarah, dan Cindy masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan Scientist, entah apa itu artinya, tapi di tempat inilah, aku bersama ke lima temanku kecapean. Ya, lima (Sarah, Silma, Cindy, Cindy, Cindy).
            Aku menjadikan moment ini sebagai ajang modus ku kepada Silma. Yap modus. Entah apa itu artinya, tapi teman-temanku bilang itu artinya adalah modol na dus, entahlah. Aku kurang mengerti.
            Dengan beberapa trick skill ku dan omong kosong yang kurasa tidak terlalu penting, akhirnya aku makin dekat dan makin rapet dengan Silma. Iya makin rapet. Bukan karena aku dan silma meminum jamu sari rapet untuk merapetkan…. Ngggh ah sudahlah aku lupa mau bicara apa tadi, tapi bukan karena itu. Ini murni karena semua omong kosong ku berhasil membuat Silma sedikit tersenyum.
“Ohiya Silma !” Ucapku membuka percakapan
“Euy” Jawab Silma.
“Tadi pagi kamu mandi pake sabun lekboy gak?”
“Gak !”
“Ohiya atuh oke, ngggh Silma !”
“Euy”
“Teu”
“Sip”
“Kamu suka Persib gak?”
“Gak !”
“Anjis dejek ):”
“Bae” (Biarin)
“Ngggh Silma !”
“Naon atuh? Talapung geura ku aing !” (Apa sayang? Diem ih, nanti di cium geura ku aku)
“Oke-oke siap ):”
“Sip”
“Nggh Silma !”
“Nyaan ieu budak ngajak ribut !” (Bener ini anak cakep banget)
“Hehehe ampun atuh ih ):”
“Deuleu siah mun sakali deui” (Liat aja kalau sekali lagi)
“Oke nyaan ieu mah” (Oke, beneran kalau sekarang mah)
“Ngggh Silma”
“Naon aisia Sarkojaaaaaa ! )):” (Apa ganteng?)
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”
“Kamu punya apa?”
“Aku punya motor mio orisinil, bukan punyaku sih, tapi punya si bapa yang akan selalu mengajakmu pergi ke tempat yang kau sukai”
“Lalu?”
“Aku punya dua tangan yang akan selalu menjagamu dari godaan tukang kiridit yang terkutuk”
“Hmmm . . .”
“Dan aku punya cinta yang tulus dari dasar hati yang paling dalam sedalam legok di jalan Cintaraja hareupeun Dishub sana”
“Oh. . .”
“Jadi kamu mau kan jadi pacar aku?”
“Enggak”
“ :’’’(((  ”
             
Bersambung . . . . . . . . . . . .

Selasa, 10 November 2015

Sekelumit Kisah di Kota Pelajar II


Part II ; Fotonya juga 2
            Ini cerita lanjutan dari kisah sebelumnya, masih tetap garing dan tak menarik, tapi tetap harus dibaca karena ini bukanlah lagu ataupun film drama korea. Aku lupa sampai mana waktu itu aku cerita, yang jelas aku tetap seperti biasa, dan biasanya aku tampan, hanya hari ini saja aku terlihat jelek, bukan karena apa-apa, tapi karena ada kamu disampingku. Siapa? Pacar temanku. Ah sudahlah. Apalah ini. Aku potong dulu bagian ini dan berusaha fokus ke kamu. Maksudku cerita kita. Bukan, maksudku ceritaku yang kan ku ceritakan kepadamu.
1
            Tasikmalaya, 04:00 WIB aku terbangun dari lelapku. Dibangunkan oleh dering ponsel. Lebih tepatnya alarm ponsel. Alarm ponsel makin berdering nyaring, cukup lama sehingga memaksa tidurku terjaga. Tapi aaah, sial ! Mataku terasa berat dan enggan terangkat. Kenapa ini Tuhan? Apakah ini yang dinamakan cinta ? Apakah ini yang dinamakan rindu ? Apakah ini yang dinamakan sayang? Oke skip. Apa cenah ieu teh? Gatau )):
            Sampai mana tadi ? Ahiya, sampai mataku terasa berat. Oke, balik ke cerita. Mataku terasa berat dan enggan terangkat. Pantas saja, itu mungkin karena tadi malam aku tertidur pulas tepat pada pukul satu lewat dua belas. Aku sulit tertidur, bukan karena apa-apa. Itu pasti karena sisa kopi tadi malam ! Bukan, itu karena aku keasikan stalking (baca: kepo-in) timeline gebetan orang lain hingga akhirnya lupa waktu di twitter. Siapa? Rahasia.
            Aku pergi menuju kamar mandi, bukan untuk berwudhu. Bukan itu, aku tak se religius itu. Percayalah. Aku hanya ingin membuat pancuran berwarna kuning keemasan di kamar mandi, membuat gayung dan ember berinteraksi disana, yang tentu ada air didalamnya.
2
            Tapi, ceritaku yang ini agak berbeda dari cerita sebelumnya. Kenapa? Karena ini bukan cerita tentang Firman, maaf Man, bagianmu sudah ku ceritakan waktu itu dan sekarang bagian teman ku yang lain yang mungkin kamu kenal. Dialah Cindy. Sudah kubilang ini hanyalah nama samaran dan orang lain tidak peduli. Tapi, jika kamu menyimak cerita sebelumnya kamu pasti sudah mengenal Cindy yang ku ceritakan satu bait waktu itu. Ini cerita tentang kasih asmara yang dia belum ceritakan kepadaku, tapi aku tahu karena temannya bercerita kepadaku dimalam itu.
Cindy ini pemeran utama dalam ceritaku, padahal kalau aku mau, aku sendirilah yang jadi pemeran utamanya. “Tapi ceritamu tak se seru ceritaku” kata Cindy saat membaca cerita ini, mungkin. Entahlah. Karena saat aku menulis cerita ini, maksudku mengetik cerita ini dia sudah tidur. Entahlah, aku takut salah, aku tidak tahu karena tidak satu rumah, kalau satu atap iyah. Karena kita sama-sama tinggal di bawah langit.
            Sebenarnya aku masih ingin bercerita banyak tentang Firman dan Rida. Tapi buat apa? Cerita cinta mereka bahkan sampai sekarang tidak ada perkembangan. Masih tetap begitu. Masih di dominasi dengan diam. Diam-diam memandang, diam-diam tersenyum, diam-diam sedih, diam-diam hitut, diam-diam busiat. Selalu saja begitu. Kasian yah? Iyah )):
            Jadi akhirnya, dengan berat hati aku menceritakan temanku yang lainnya. Sebenarnya gak berat sih, hanya pura-pura saja agar cerita ini ada sedihnya padahal enggak. Kisah ini aku tulis, maksudku aku ketik karena aku mendapat sebuah request dari seorang teman. Jangan bertanya siapa namanya, kalian tak perlu tahu, dan aku tak ingin membahasnya, maklum dia cantik. Siapa? Sudah ku bilang jangan diceritakan, nanti dia baca, yang ada dia ke geer an, dan aku malas jika dia tiba-tiba mengirimkan pesan lewat bbm “makasih, karena aku ada di ceritamu dan kamu bilang aku cantik.”
3
            Aku lupa awal ceritanya bagaimana, yang aku ingat waktu itu pagi hari dan cuaca sedang cerah, entah bagaimana rasanya yang jelas aku merasa masih berada di Tasikmalaya sana, namun suasana disini agak berbeda, apalagi saat bangun subuh tadi, saat ku lihat kanan kiri ternyata sedang berbaring empat temanku yang lainnya. Lengkap dengan nada khas paduan suaranya.
Pagi itu, kita di jadwalkan makan pagi di tempat yang sama persis di tempat kita makan tadi malam. Hanya saja tidak diiringi nyanyian penyanyi berdada besar itu. Ah tidak, maksudku penyanyi yang di tali pita di pinggangnya itu. Tapi, ketika semua orang sudah berada di tempat itu, aku malah masih berada di dalam kamar hotel. Dan sialnya Firman malah curhat kepadaku padahal aku sendiri sama seperti dia, iyah lapar.
Disitu lah aku kembali bertemu dengan Cindy, ia sudah berada disana dari tadi. Mungkin sejak dua puluh menit yang lalu. Dia makan bersama ke sembilan kawannya. Tak kan kusebutkan siapa saja kawannya, karena terlalu banyak. Kalau kusebutkan, nanti malah aku yang kebingungan memikirkan nama samaran untuk mereka semua. Dan aku tak ingin kebingungan ketika mengetik cerita ini, cukup matematika saja yang membuat aku kebingungan, cerita ini jangan !
Kulihat dia tidak benar-benar fokus makan, walaupun tangan dan mulutnya berinteraksi, tapi jelas-jelas tatapan matanya malah menatap ke lelaki yang berada di meja ujung sana. Lelaki yang sedang bercanda mesra dengan wanita lainnya. Lelaki yang sedang tertawa dengan wanitanya. Maksudku lelaki yang sedang tertawa dengan wanita yang berada di sampingnya. Dan wanita itu sebenarnya sahabat baiknya. Salsa, nama samaran. Dan lelaki yang sedang tertawa dengan Salsa bernama Rangga, nama samaran juga.
Dari pandangan matanya terlihat jelas, bahwa ia lapar. Bukan, dia cemburu. Dia cemburu melihat lelaki yang ia cintai malah mencintai sahabatnya dan cinta yang ia punya tak dibalas cinta lagi oleh Rangga.
Wajar saja Cindy cemburu, kenapa? Karena ialah yang lebih dulu dekat dengan Rangga. Bahkan jauh-jauh hari sebelum Rangga dekat dengan Salsa. Tapi entah bagaimana ceritanya, Rangga justru malah berpacaran dengan Salsa, ah tidak juga, maksudku terlihat berpacaran dengan Salsa. Maaf kalau aku terdengar plin plan, aku takut salah. Karena aku tak pernah melihat Rangga menembak Salsa. Yang kurasa belum pernah, karena sampai saat aku mengetik cerita ini pun Salsa masih berhembus nafasnya dan terlihat sehat wal’afiat. Tapi entahlah, biarkan itu menjadi urusan Tuhan dan malaikat. Aku tidak ingin ikut campur.
4
            Sampai mana tadi? Aku lupa. Ahiya, sampai makan pagi. Setelah makan pagi, aku pun bersama Cindy dan yang lainnya pergi menuju destinasi selanjutnya. Dan yang aku ingat kami pergi menuju sebuah benteng pertahanan bekas jajahan dulu. Entah apa itu namanya, kurasa Benteng Gedebrug. Kalau tidak salah. Dan maaf kalau aku salah. Sudah kubilang aku bukan orang sana.
            Benteng Gedebrug, 14:00 WIB aku sampai setelah duduk ber jam-jam di Bis berwarna hijau yang dipinggirnya ada kalimat Karunia Bakti, bis itu ber AC dan aku kedinginan. Andai saja ada kamu mungkin aku akan sedikit merasa hangat, tapi ah percuma karena sikap mu pun masih dingin terhadapku. Oh ya, aku dan kawanku sudah turun dari bis yang kurasa dingin tapi kawanku tidak, karena dia masih merasa kepanasan setelah tahu calon pacarnya diambil orang, siapa? Cindy. Yang ku ceritakan tadi.
            Singkat cerita, kami semua sudah turun dari bis, dan kami diberi dua pilihan oleh panitia. Memilih pergi menelusuri Benteng Gedebrug itu dulu atau langsung pergi ke Taman Pintar? Wajar saja kami diberi pilihan itu, Benteng Gedebrug dan Taman Pintar ternyata berdiri berdampingan, bukan di pelaminan ! Bukan juga di nikahan teman ! Bukan itu ! Karena keduanya bukan orang, mereka berdiri berdampingan di Kota Pelajar sana. Keduanya sama-sama luas, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengeksplorasi keduanya. Dan dengan berbagai pertimbangan yang lama serta cukup berat karena telah berdebat dengan perasaan dan pikiran, aku akhirnya memutuskan, diantara Benteng Gedebrug dan Taman Pintar, aku lebih memilih pergi ke toilet.
            Sialnya, setelah aku kembali dari toilet, semua temanku termasuk panitia sudah berpencar pergi. Entah kemana. Namun satu yang pasti, mereka semua meninggalkanku, teman macam apa itu? Apakah itu yang dinamakan teman?  Apakah itu yang dinamakan persahabatan? Haaaah ? Oke skip. Ini baper.
            Beda cerita dengan Cindy, Sarah, dan Silma. Mereka masih di tempat semula dan masih asik mengobrol satu sama lainnya. Ohiya, aku lupa, Sarah adalah teman dekat Cindy, bukan nama asli. Silma juga, bukan nama asli pula.
            Mereka bertiga, ah tidak. Maksudku, mereka berlima. Karena Cindy dihitung tiga, mereka berlima sedang asik bercanda di dekat patung disekitaran benteng Gedebrug itu, Entah tentang apa mereka bercanda, tapi satu yang pasti, kurasa secara tidak sadar mereka tidak meninggalkanku dan sengaja menungguku. Aku terharu karena itu, kalau mereka membaca ceritaku ini, aku ingin berkata terima kasih kepada Cindy, Sarah, dan Silma ! “Cindy, Sarah, Silma, terima kasih karena telah menungguku waktu itu !” Baiklah sudah, balik lagi ke cerita. Dan dengan segala keberanianku akhirnya aku mendekati mereka.
“Siga nu rame yeuh, keur naraon euy?” (Kayaknya seru nih, lagi ngapain nih?) tanyaku
“Katingalina?” (Kelihatannya?) sahut Cindy ketus
“Teuing” (Gatau)  jawabku
“Heug atuh” (Yaudah) jawab Silma singkat.
“Ih ): ” ucapku
“Naon?” (apa?) Tanya Silma
“Teu ! ))):” (Enggak !) Jawabku singkat.
            Dan dengan segala basa-basi yang kulakukan, akhirnya aku bergabung bersama mereka. Kami pun sepakat untuk mengeksplorasi taman pintar itu terlebih dahulu, lantas nantinya akan kami lanjutkan menuju benteng gedebrug itu.
5
            Baiklah, disini banyak sekali cerita yang cukup seru, menurutku. Tapi tunggu, aku mau beli kopi dan segenggam kasih sayang yang tulus dulu.
Oke, aku lanjut lagi, tapi ga tau harus mulai dari mana yang pasti saat itu kami diarahkan menuju satu ruangan yang didalamnya terdapat banyak foto presiden mulai dari Soekarno sampai Soesilo Bambang Yudhoyono. Joko Widodo? Entahlah, gak tau ada atau tidak, aku lupa dan aku tidak peduli.
            Di sana ternyata sudah ada Rangga dan Salsa yang sedang bercanda mesra. Dan itu kembali membuat Cindy agak sedikit bete meski ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikannya. Tapi aku tahu dia cemburu, karena matanya berkata begitu kepadaku. Berdasarkan rasa peduliku yang tinggi terhadap teman akhirnya aku menghibur ia dengan cara yang biasanya asik menurut mereka para wanita. Cara apa? Yap benar, popotoan.
Aku berdua dengan Silma yang difoto dan Cindy yang pangmotokeun. Mulai dari bergaya gagah ala Soekarno, bergaya bolotot ala BJ Habibie, hingga bergaya tersenyum lebar ala Megawati. Tapi entah kenapa, caraku ini ternyata tidak berhasil untuk Cindy, dia jelas masih terlihat bete. Entah kanapa. Aku tak mengerti.
Mungkin ada yang salah dengan caraku tapi aku tak tahu itu. Atau mungkin juga ini karena memang Cindy yang salah karena tetap bertahan pada konsep “Jatuh Cinta Diam-Diamnya?” Atau juga mungkin ini karena Cindy yang terlalu bodoh, karena berharap terlalu banyak dari lelaki yang ia cintai? Entahlah, namun satu yang pasti dan kalian harus tahu itu, saat ini aku ngantuk. Sudah itu saja.
6
            Dan andai Cindy membaca ini, aku hanya ingin bilang “Cindy kawanku, Beginilah hidup”. Karena hidup tak selamanya bahagia ! Kadang ditikung, kadang diharkos, kadang diselingkuhin, dan kadang di kamu terlalu baik-in. Watir yah? Iyah )):. Dan ketahuilah Cindy, ketahuilah bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami pengalaman sepertimu. Setidaknya sekali dalam hidupnya. Pasti mereka pernah mengalami bogoh ka kabogoh batur. (kabogoh batur: pacar orang yang nantinya jadi pacar ku)
Tapi, dibalik semua itu, aku kagum padanya. Ia tetap tulus mencintai dan tetap setia mendo’akan meski dia tahu dia tak dicintai. Dan dibalik kekagumanku padanya, aku juga merasa agak sedikit kasian kepadanya. Kenapa? Karena seharusnya dia segera berpaling dari Rangga, tapi entah kenapa dia malah panceg di Rangga. (panceg: gatau artinya apa) . Dan satu lagi, menurutku Cindy belegug. (belegug: Pintar yang tak jadi).
Namun memang benar kata orang, belegug is awesome. Cindy lebih memilih tetap bertahan pada kisah “Jatuh Cinta Diam-diam” nya dibanding mencari orang baru yang mungkin lebih dapat membuatnya bahagia. Tapi percayalah, pada akhirnya, yang datang secara tiba-tiba, akan selalu pergi secara tiba-tiba pula. Begitupun cinta.

Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . .

Jumat, 06 November 2015

Sekelumit Kisah di Kota Pelajar

          
  Sore itu, langit, suhu udara, dan cuaca terasa lebih berbeda dari biasanya. Mendung ! Agak aneh, namun yang jelas aku merasa ada beberapa hal yang sama dengan suasana sore kemarin. Tapi satu yang pasti, suasana disini agak sedikit berbeda. Walaupun di satu sisi aku tetap menganggap suasana sore itu tak berbeda sama sekali dengan sore kemarinnya.
            Tapi aku tidak ingin bercerita tentang semua itu, karena aku bukan pekerja BMKG. Aku ingin bercerita tentang dia, satu dari ribuan orang yang kuanggap kawanku. Kawan baikku, dan entah dia menganggapku apa, itu tidak penting sekarang.
            Malam ini, pukul 22:42 WIT (Waktu Indonesia Tasikmalaya), aku sedang menulis cerita tentangnya, tentang kisah di kota Pelajar. Perkenalkan, namaku Fakhriy, cukup nama saja yang kalian tahu, karena ini bukan cerita tentangku. Ini cerita tentang kawanku. Namanya Firman, itu hanya nama samaran, disini aku tidak ingin memberitahu nama yang sebenarnya. Aku takut di akhir cerita dia malah meminta royalty atas penggunaan namanya.
            Jika kalian ingin tahu, fisiknya cukup tinggi, mungkin agak sepantaran dengan penulis terkenal itu, yang karya-karyanya sangat unik dan keren, aaaah siapa itu namanya? Ohiya Raditya Dika ! Iya kurasa ia memiliki tinggi yang sama dengan Raditya Dika. Cukup tinggi bukan? Oke, itu tidak penting. Tulisan ini akan aku lanjutkan, sampai mana tadi? Ohiya, ciri fisik ! Kulitnya putih, matanya dua, dan dua telinga yang dilengkapi dengan lubangnya. Tidak heran perangainya tak terdengar asing oleh kalian, mungkin itu karena dia manusia atau mungkin hanya sekedar mirip. Entahlah hanya dia, Tuhan, dan orang tuanya yang tahu.
            Sebelumnya, maaf kalau ceritaku tak terstruktur dan terkesan ngaler ngidul, mungkin itu karena aku bukanlah seorang penulis, cerita ini pun aku ketik bukan ku tulis. Baiklah langsung pada awal cerita, eh tapi aku tidak akan memulainya dengan kata “Pada Zaman Dahulu”, karena ini bukan cerita tentang Tutur Tinular ataupun Jaka Tingkir. Lagipula cerita ini terjadi beberapa tahun lalu, di sebuah tempat yang memang sudah disiapkan untuk aku dan mereka kunjungi. Tidak perlu ku sebutkan tempat apa, dan lagipula tempat itu sudah sangat terkenal. Bahkan pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia beberapa tahun ke belakang. Dan menurutku aku tak perlu memaparkan tempat itu secara jelas, aku malas.
1
            Di tempat itu, dia bertemu dengan seorang gadis, bukan gitaris, bukan pula pria berbaju gamis ! Hanya seorang gadis ! Gadis yang sering ia temui pula di sekolahnya. Yang kebetulan ketika berangkat menuju tempat itu mereka masuk dalam satu bus yang sama. Ah tidak ! Maksudku, itu bukan suatu kebetulan. Itu sudah direncanakan. Direncanakan Tuhan dan pihak sekolah yang telah merencanakan hal ini jauh-jauh hari sebelum aku mengetik cerita ini.  Gadis itu bernama Rida, nama samaran juga, nama aslinya tidak tahu. Lagipula kalian pun tak perlu tahu.
Sebenarnya mereka sudah saling kenal, di dunia maya. Dunia nyata juga. Saat itu aku dan banyak temanku termasuk dia dan Rida baru sampai di tempat yang cukup luas. Entah pukul berapa waktu itu, aku malas mengingatnya.
Di sana kami dikumpulkan di satu tempat, entah apa itu namanya, namun yang pasti di tempat tersebut banyak sekali bus dan mobil pribadi yang sedang berhenti. Orang-orang sana bilang tempat itu biasa dinamakan tempat parkir. Entahlah, aku tak tau mengapa tempat tersebut dinamakan tempat parkir. Aku bukan orang sana yang tahu asal-usul tempat itu.
Setelah dikumpulkan dan diberi pengarahan, kami diarahkan untuk langsung pergi berjalan kaki menuju tempat wisata yang terkenal itu. Belum beberapa kaki aku langkahkan. Terlihat ada sepasang kekasih yang kebetulan mereka bule, ah tidak juga, maksudku dua orang bule ! Maaf. Aku takut salah menyebutkan. Aku tak tahu kalau mereka itu pasangan atau bukan. Karena aku sama sekali tak mengenal mereka. Siapa tahu kalau mereka itu sebenarnya hanya sebatas dua orang yang melakukan hubungan pertemanan biasa tapi salah satunya mencinta? Apa itu nama kerennya? Ahiya, friendzone. Atau, siapa tahu kalau mereka itu sebenarnya keluarga, sepasang adik kakak? Atau sepasang teman yang terjebak cerita adik kakak-an? Atau juga mungkin saja mereka memang pasangan? Hanya saja sudah menjadi mantan? Apalah ini. Lanjut ke cerita. Mereka berdua sedang pacatrok huntu (baca: unjuk gigi). Itu hanya ungkapan, jangan diperpanjang nanti kalian makin penasaran, dan heran kenapa aku malah cerita tentang ini.
2
            Setelah melihat fenomena sosial itu, ku bermaksud untuk kembali melanjutkan jalan kaki lagi. Namun betapa kagetnya saat aku melanjutkan jalan, sebenarnya tak kaget sih, hanya pura-pura saja agar cerita ini ada klimaksnya padahal belum. Disana Firman sedang asik mengobrol , dengan siapa kalian pasti tahu. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas itu bukan tentang tulisan yang sedang aku buat ini, karena belum jadi. Oh ya, saat tulisan ini aku buat, playlist musik ku Sheila On 7, dan lagu yang sedang melantun ini judulnya “Yang Terlewatkan” mungkin cocok buat soundtrack ceritaku jika dijadikan film.
            Sampai mana tadi? Maaf barusan aku kehausan, aku harus pergi ke depan sebentar untuk mengambil minum, dan akhirnya ketiduran di depan. Sekarang aku lanjutkan lagi ceritanya. Aku tinggalkan mereka yang sedang asik mengobrol. Makin menjauh ke depan dan akhirnya menghilang dari pandangan mereka. Sampai akhirnya aku sampai di tempat tujuan, disana tak lupa aku mengeluarkan kamera digital ku yang dulu dan kebetulan sekarang sudah hilang untuk melakukan kegiatan yang biasa anak-anak muda lakukan. Yap, popotoan. Karena aku terlalu keasikan popotoan, sampai-sampai aku tak sadar bahwa Firman sudah ada disampingku lagi.
“Man, pangmotokeun aing lah ! Geuwat.” (Man, tolong fotoin saya ! Cepat) pintaku
“Heeuh hok atuh geuwat sia geura ngagaya !” (Iya, yaudah cepat kamu bergaya !) sahut Firman
“Oke” timpal aku lagi sembari bergaya ala pria cool dan keren padahal tidak.
            Waktu kami menikmati hari di tempat itu hampir habis, dan aku bersama mereka yang tadi pagi pergi bersamaku bersiap untuk pergi ke hotel. Jika kalian belum tahu, kami akan melakukan kegiatan yang biasa kami sebut check in. Tidak ditemani wanita, tidak pula ditemani pemandu lagu di sana. Tapi kami beramai-ramai dalam satu kamar. Lima orang dalam satu kamar. Kurang lebih ! Entahlah, aku lupa lagi, tapi aku akan berusaha mengingatnya untuk kalian. Kalau aku tidak lupa, aku akan revisi kalimat pada bagian ini. Jadi kalau kalian kebetulan sedang membaca cerita pada bagian ini, tolong ingatkan aku untuk merevisinya. Itu pun kalau kalian bersedia.
            Aku satu kamar dengan empat orang lainnya, semuanya laki-laki ! Tapi itu bukan berarti kami homo alami, hanya saja kami terpaksa karena penghuni kamar sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan dan pihak sekolah. Ya sudahlah, kami pun pasrah dengan takdir ini. Lagipula kami semua kawan akrab. Ohiya, maaf di cerita ini aku sengaja melewatkan moment dimana aku meluangkan waktu beberapa menit untuk mengobrol dan bercanda ria dengan Cindy, namanya ku samarkan lagi.
3
            Malam hari di kota Pelajar, tepatnya pukul 19:00 itupun kalau tak salah. Aku bersama beberapa kawanku pergi menuju salah satu ruangan di hotel tersebut yang tak ku ketahui namanya. Yang jelas, tujuan kami sama ! Makan malam.  Setibanya di tempat tersebut, ternyata sudah mengantri jejeran orang yang tampak lapar. Aku tidak ikut,karena belum.
            Seperti kata pepatah, sambil berenang tikereleup ! Kami makan sambil dihibur oleh seorang penyanyi yang tidak terkenal. Entah siapa itu, aku pun tak tahu karena tak kenal. Penyanyi itu berjenis kelamin wanita, muda, tapi tak cukup muda untuk aku pacari ! Pakaian yang ia kenakan bagus, warna kuning, ah tidak, maksudku itu berwarna oren. Ah tidak juga, hijau itu. Pakaian yang ia kenakan cukup ketat, bahkan pinggang nya di tali oleh pita yang bagus. Sehingga bagian dadanya terlihat lebih besar. Ah entahlah. Aku tak tahu apakah penyanyi itu merasa sesak atau tidak, tapi satu yang pasti, aku yang sekedar melihatnya saja menjadi sesak.
            Di tempat tadi, teman-temanku dengan lahapnya memakan apa saja yang ada di depannya. Hanya saja mereka tidak memakan meja, gelas dan piringnya, mungkin itu karena mereka sudah wareug (wareug: kenyang) dan takut kabeureuyan awi meja (kabeureuyan: keselek). Sebagian temanku lagi berceloteh tentang apa saja, aku tak tahu, karena tak memerhatikannya. Dan sebagian lagi ikut berjoget bersama penyanyi tadi dan berfoto di depan.
            Aku sendiri asik berbincang dengan Ihza, Nisa dan Imam walau hanya pura-pura agar mereka senang, sedangkan Firman dan Rida tidak membuka percakapan sama sekali, mungkin itu yang dinamakan “Jatuh Cinta Diam-Diam”, “Jatuh Cinta Sendirian”, “Secret Admirer” atau apapun namanya. Kami asik berbincang sampai larut malam, dan datang seseorang, tak akan ku sebut namanya, karena lupa ! Dia telihat bete mungkin karena cape. Lalu berlalu begitu saja.
4
            Waktu itu pukul 22:45 WIB, sebagian orang sudah banyak yang kembali ke kamarnya masing-masing. Sementara kami masih berbincang menikmati suasana dan mendengarkan teman kami yang dengan sejuta kelebihannya pergi ke depan untuk menyumbangkan lagu. Dialah Aco, nama aslinya Putra Fajar. Sengaja tak kusamarkan namanya agar dia bangga nantinya. Dia berduet dengan seorang kawan yang kebetulan merangkap jabatan sebagai guru di sekolah kami. Pak Angga namanya. Daaan, pantas saja mereka ingin sekali menyumbangkan lagu di malam itu, ternyata suara mereka benar-benar sumbang. Kasian mereka.
            Berjam-jam kami disana menghabiskan waktu untuk berbincang dan tertawa. Berbincang tentang apa saja sambil menertawakan sumbangnya suara ke dua teman kami. Ku lihat mata Rida memperhatikan Firman, tapi Firman sendiri malah memperhatikan Aco dan pak Angga. Mata Rida tidak lepas memperhatikan Firman, lalu Firman melirik balik, mata mereka bertemu. Aku tersenyum, bukan karena melihat mereka, tapi aku menguping pembicaraan wanita yang bersama pacarnya itu, kalian tahu lelaki itu bukan pacarnya. Aku senang, tapi buat apa? Hingga akhirnya malam makin malam. Perbincangan kami menemui titik jenuh, dan Aco bersama pak Angga pun sedari tadi sudah tamat memamerkan suaranya. Kami pun akhirnya kembali ke kamar masing masing entah untuk apa, mungkin untuk terlelap. Padahal kami tak ingin terlelap saat itu, setidaknya belum.
            Singkat cerita kami pergi ke kamar masing-masing. Aku diajak oleh beberapa kawanku untuk pergi ke luar hotel, entah untuk apa. Aku tak mau, aku pun ketiduran, tapi tidak jadi karena dibangunkan lagi.
            Malam semakin larut, sebagian banyak orang lebih memilih terlelap di saat langit makin menggelap. Namun tidak dengan aku, Firman, Rida, dan tiga orang lainnya. Kami lebih memilih berdiam di luar kamar, lebih tepatnya di depan kamarku. Tak melakukan perbincangan, hanya memakan beberapa bungkus good time dan meminum kopi yang baru kami beli di loby.
            Tapi ada sedikit cerita tentang Firman dan Rida. Entah mengapa mereka selalu diam saat bertemu, hanya saja selalu dekat. Tak terpisahkan jarak. Tidak seperti di sms dan chat bbm antara mereka. Mereka selalu terbuka, mungkin mereka canggung atau mungkin memang mereka tidak ditakdirkan untuk saling berbincang. Namun ku yakin hati mereka saling bertemu di peraduan rindu. Kuharap. Mereka kelak akan menjadi sepasang kekasih, walau ku tahu Rida masih teringat mantannya di Tasikmalaya sana. Tapi dia bukan orang bego, yang terkadang memang iya. Rida bisa menyembunyikan kesakitannya untuk menjaga perasaan Firman. Firman sendiri ku kira memang lelaki istimewa. Dia memang tidak menunjukan kecemburuannya atau mungkin dia memang tidak cemburu sama sekali. Entahlah, itu rahasia mereka.
            Kuharap malam ini saat ku tulis cerita tentang mereka, Tuhan mendengar apa yang aku harapkan. Iya aku berharap cerita ini cepat selesai, karena aku ngantuk.
5
            Cerita ini memang ku ceritakan singkat dan tidak menarik. Tapi untuk kami yang mengalaminya itu sangat berkesan. Karena apa ? Karena malam itu mengajarkan bahwa jika ingin di foto jangan di malam hari, karena itu terlalu gelap untuk kamera BB Gemini 8250 ku. Kawan saat aku selesai menulis cerita ini, percayalah aku tidak langsung tidur, karena aku harus cuci muka dan cuci kaki dulu. Tidak, percayalah saat aku selesai menulis cerita ini aku sedang mengumpulkan puing-puing kenangan yang sudah berceceran karena tidak langsung kurangkai. Maaf jika tulisan ini tidak bisa mewakili perasaan kalian yang dalam. Sudah kubilang aku bukanlah penulis.

            Ini hanya sebuah cerita monolog. Mungkin. Karena aku tidak mengerti. Maklum aku bukan anak sastra B. Indonesia. Nilai ulangan Indonesia ku pun yang terakhir tak lebih dari 57. Tak seperti mereka. Cerita aslinya sengaja aku simpan rapat agar menjadi rahasia kita. Terima kasih.