![]() |
| Ini bukan ilustrasi tangismu |
“Perihal hal
yang belum pasti, ada baiknya kamu tak terlalu banyak melibatkan hati.”
Aku
sedang menulis ini sambil sesekali melihat arloji ku yang terus-menerus
berdetak merangkak menuju tengah malam. Ditemani suara jangkrik yang bersahutan
dan angin yang perlahan bertiup menuju arah tengah kota. Suasana malam ini
terasa agak mencekam karena sepi didukung dingin akibat angin yang terus
bersahutan masuk melalui sela jendela.
22.52
yang ditunjukkan arloji ku sama sekali tak mempengaruhi kedua tangan dan
jemarinya yang masih bersemangat bercumbu dengan keyboard di depanku ini.
Padahal aku baru memulai tapi mataku yang lelah ini mulai memerah. Tapi
sudahlah, aku akan menyelesaikan tulisan ini. Aku janji.
Ah
baiklah, kurasa kita mulai dari sini. Aku
tidak sedang membahas satu kalimat pertama dari tulisan ini, percayalah, melainkan
tentang hal yang perlu kuceritakan. Entah itu apa, kuharap kau membacanya.
Hey,
apa kabarmu? Semoga kau baik-baik saja. Jika kamu bertanya perihal “kamu” yang
kumaksud itu siapa, anggap saja “kamu” itu adalah seseorang yang ada namun sebenarnya
tidak ada. Kamu tahu mengapa? Karena tulisan ini menjelaskan bahwa terdapat
satu sekat kuat antara fiksi dan realita yang memang tak dapat benar-benar dipisahkan.
Dan
bagaimana kabarmu belakangan ini? Apakah masih tetap menyenangkan seperti yang
pernah kau ceritakan dulu padaku? Atau, atau bahkan kau malah sedang bersedih
karena perilaku seseorang yang menyakiti hatimu dengan pergi meninggalkanmu
demi orang lain? Kuharap tidak demikian. Karena jika itu terjadi, dan aku
mengetahui pelakunya, maafkan aku ! Maafkan aku karena tidak banyak membantu
untuk membalaskan sedihmu padanya. Aku hanya pria lemah yang tak punya cukup
kuasa untuk membuat hidungnya patah. Tapi aku janji, akan kembalikan senyummu
seperti saat itu. Seperti senja ketika hujan waktu itu.
Hey
kamu ! Dengarkan baik-baik perkataan
pujangga diluar sana ! Terkadang cinta memang lucu. Ia memberi penawar luka,
membuatnya sembuh, sebelum ia melukai lagi dengan tangis yang lebih jatuh. Dan
untuk apa mencinta jika hanya pahit yang kau rasa?
Tapi
percayalah, cinta tak sebajingan itu ! Jangan lukai dirimu dengan airmata.
Airmatamu terlalu suci untuk menangisi kepergian orang yang tak menganggapmu
ada. Tersenyumlah ! Hidup terlalu cantik untuk menangisi orang yang tak perlu
ku jelaskan kembali.
