Cinta tidak mengenal kesabaran .
. . .
Tak bergejolak pun berbatas,
cinta amat memenungkan
Seumpama bintang yang temani
rembulan dalam kelamnya
Tak pernah mengeluh atau
mengerang walaupun tahu ia pasti akan diusir pagi
Cinta menembus ruang dan waktu .
. . .
Pun juga yang jauh, yang dekat,
yang nanti dan yang lalu
Bagai simponi tragedi yang tak
henti-hentinya menyerang semesta
Tak pernah hilang atau terhenti walaupun
alunan nadanya dibasahi cucuran air mata
Cinta menyingkap segala yang
gelap . . . .
Menambah cerah dan buatmu berani
menatap matahari
Tapi entahlah, itupun jika engkau
dapat berhasil dan berubah
Atau, bila tidak ? Hidupmu akan
jadi asap tuk kemudian lenyap
Aku bertanya kepadaNya “Apa makna
baik dan buruk?”
Apa hakikat dari hidup dan mati?
Cinta mendiami jiwa bagai
penglihatan dalam mata
Lantas, Apa itu cinta?
Cinta menembus ruang dan waktu .
. . .
Pun juga yang jauh, yang dekat,
yang nanti dan yang lalu
Janji akhir adalah Cinta,
Dan Dunia-Akhirat adalah
kerajaannya.
