Selasa, 22 Desember 2015

Kita Adalah Pohon

Kita Adalah Pohon

            Siang ini, dua bulan yang lalu mungkin aku sedang bercengkrama sembari menikmati kopi yang baru aku beli dari warung di samping kelasku bersama ke empat teman “putih abu” ku di dalam kelas.
            Ya memang. Ini adalah hal biasa yang sering aku lakukan ketika kelas tak dimasuki guru atau sedang tak ada pembelajaran waktu itu. Dan memang benar juga aku sering melakukannya bersama mereka, teman-temanku, nama akrab mereka Fajar, Sani, Nisa, dan Audina.
Aku sendiri bernama Maher Zain. Bukan nama sebenarnya, hanya mengarang saja karena aku penggemar Maher Zain dan mereka bukan. Oke perkenalkan aku Fakhriy sebut saja Jackson, tidak, itu terlalu jauh dari nama asli, oke nama panggilanku Beb dan yang pasti bukan teman kalian ataupun pacar kalian sekarang, mungkin nanti.
            Sekarang aku sedang menulis cerita ini di tempat yang sama, ah tidak maksudku mengetik cerita ini di tempat yang sama. Ya benar, ruangan kecil berukuran sekitar 3x2 sama dengan 6 yang kusebut kamarku. Di kamarku inilah aku biasanya menuangkan isi pikiranku yang begitu banyaknya menjadi untaian-untaian kata yang indah dan bermakna padahal tidak juga.
            Oke baiklah. Niat awalku sebenarnya adalah menyelesaikan ceritaku yang saat itu belum aku selesaikan, cerita apa? Entahlah, mungkin cerita cinta kita ? Ah tidak juga, maksudku cerita yang saat itu ku beri judul “Sekelumit Kisah di Kota Pelajar”.
Cerita yang ku bagi dalam beberapa part karena terlalu panjang dan membosankan bila ku susu + n dalam satu part saja. Lagipula bila cerita itu langsung ku susu + n dalam satu part,  pastinya aku yang membuatnya juga akan mengantuk dan cangkeul (cangkeul : Alat yang biasa digunakan para petani untuk mengolah tanah). Jadi? Ya begitulah.
Nah tapi aku bingung kelanjutan kisah dari cerita tersebut, kenapa? Entahlah, mungkin karena aku tidak ingat atau karena memang aku tidak ingin mengingat kejadian-kejadian saat itu, namun satu yang pasti, aku bingung mengakhiri cerita tersebut.
Tapi entahlah, mungkin suatu saat nanti aku akan melanjutkan cerita itu, entah kapan, entah besok, entah lusa, entah minggu depan, entah bulan depan, entah tahun depan, namun satu lagi yang pasti, aku tak akan melanjutkan cerita itu hari ini. Jadi? Tunggu saja.
Karena aku belum ingin melanjutkan cerita “Sekelumit Kisah di Kota Pelajar” ku, akhirnya aku ketik kembali cerita yang baru yang menurutku menarik tapi menurutmu tidak yang terjadi dua bulan yang lalu, ya sudahlah, jadilah ini, mari mulai ceritanya.
1
            Waktu itu, saat kami masih berseragam putih abu dan memang sekarangpun masih, bercanda di kelas membicarakan apa saja yang menurut kami menarik dan asik adalah kegiatan rutin kami setiap hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu, kecuali Minggu, karena hari itu hari libur.
            Kalau tidak salah hari itu bukan hari minggu, jadi aku menyempatkan pergi ke sekolah. 6.15, anak-anak rajin mulai ke luar dari rumahnya untuk bersiap berangkat ke sekolah, menyalami orang tuanya, menunggu angkutan kota, kemudian pergi menuju sekolah nya tercinta. Tapi aku tidak karena masih tidur.
            Singkat cerita, aku akhirnya berangkat menuju sekolah tepat pada pukul 6.55, buru-buru, aku memacu motorku dengan kecepatan yang sangat-sangatlah tinggi, tapi karena aku yang mengendarainya bertubuh sangat-sangatlah pendek, jadi kecepatan motorku ku perpendek dan ku perlambat lagi agar motor dan penunggangnya terlihat agak cocok dan klop. Tapi nyatanya tidak demikian.
2
            Akhirnya ku sampai di gerbang sekolah pada pukul 7.20 dan segera memarkirkan motorku, kemudian langsung melompati pagar sekolah yang tingginya kurang lebih 1,5 meter dan langsung berlari sprint menuju kelas sembari berharap guru pun kesiangan sepertiku agar aku tak dihukum berlari mengelilingi lapangan basket disana.
            Tapi . . . . . Tapi . . . . . Tapi aku tidak sampai di gerbang sekolah, ya, karena sekolah ku memang tidak ada gerbangnya, aku pun tak melompati pagar yang tingginya 1,5 meter itu karena sekolahku tak ada pagarnya, dan satu lagi, aku juga tidak berharap guruku kesiangan pula agar aku tak dihukum berlari mengelilingi lapangan basket. Kenapa? Yap benar, itu karena sekolahku tak mempunyai lapangan basket. Haahaha 33x. Aku berbohong, dan kalian tertipu.
            Baiklah, kembali ke cerita, aku pun sampai di sekolah pada pukul 7.20, kemudian dengan santai aku memarkirkan kendaraanku di depan kelasku dan akhirnya memasuki kelas. Beruntung bagiku saat itu awal bulan, dan sesuai perkiraanku, semua guru sedang rapat bulanan saat itu.
            Aku pun langsung menuju bangku ku sendiri dan kemudian menyimpan tas ku yang isinya hanya beberapa buku pelajaran dan powerbank diatas kursi. Oh ya, bangku ku tepat berada di jajaran pertama dan di sisi paling kanan. Di belakangku ada bangku Iteung, dan di samping kiriku ada bangku Audina. Oke, kelas ku terdiri dari 15 siswa, dan Alhamdulillah semuanya manusia, eh tapi tidak juga, ada satu yang bukan dan kurasa hanya sekedar mirip manusia . . . . . . Tapi entahlah. Aku tidak akan menyebut namanya, aku takut nanti malah terkena pasal 27 ayat 3 dan dituduh melakukan pencemaran nama baik. Dia temanku juga, entahlah, kurasa sahabatku malah. Nama samarannya Iteung, nama aslinya? Kan tadi aku sudah bilang, tak akan ku sebutkan.
            Tapi, ini bukan cerita tentangnya, bukan cerita tentang Iteung yang mirip manusia, bukan juga cerita tentang betapa pabalataknya bangku-bangku di kelasku itu. Bukan juga cerita tentang betapa bau nya whiteboard di depan kelas kami. Ini cerita tentang . . . . . nggggh tidak tahu, aku pun sedang memikirkannya. Ah sudahlah. Ku tulis saja semuanya. Baiklah.
3
            Saat itu anggota kelas sudah tiba semuanya, dan aku yang terakhir tiba, seperti biasanya. Setelah menyimpan tas. Untuk beberapa menit aku terdiam di bangku ku, menatap kosong ke arah jendela. Menatap rimbunnya pepohonan, merenung, berpikir, tapi tidak jadi. Karena aku baru sadar aku jarang berpikir. Jadi, ya sudahlah, aku pun akhirnya hanya menatap kosong keluar jendela, tak memikirkan apa-apa, kemudian bosan.
            8.20 WIB, akhirnya ada guru yang datang dan masuk ke kelas, entah siapa waktu itu aku lupa lagi. Bapak/Ibu itu hanya datang, kemudian pergi lagi dan meninggalkan tugas yang harus kami kerjakan.
            Karena hal tersebut, salah satu teman “terpintar” ku pun sedih karena tidak belajar dan mendapatkan pelajaran dari guru-gurunya. Tapi hanya dia saja yang sedih, sisanya? Ya benar, kami ceria dan bergembira. Kami sangat gembira, kemudian merayakannya dengan cara masing-masing.
Ada yang merayakannya dengan berpacaran lah, ada yang merayakannya dengan pergi ke si Ibi warung hanya untuk membeli beberapa bungkus kiripik “Sipis” lah , ada yang mengeluarkan headset dan mendengarkan lagu-lagu yang entah lagu apa itu di handphone-nya, ada juga yang merayakannya dengan cara memainkan game-game di aplikasi line yang entah bagaimana cara memainkannya aku pun tak tahu.
Lantas aku bagaimana? Ya, seperti yang telah kusebutkan diatas di awal cerita ini tepatnya pada paragraf pertama dan kedua bait pertama hingga ke tujuh. Aku langsung berkumpul dengan kawan-kawanku itu, teman seperjuanganku, teman karibku, teman seperjombloanku, atau apalah itu semacamnya.
4
            Ku ceritakan dulu kenapa aku dan teman-temanku itu saat itu hingga sekarang sering berkumpul ketika tidak ada guru. Waktu itu, kapan tepatnya akupun lupa bukan karena amnesia tapi aku memang tidak ingin mengingatnya, kami sedang sibuk dengan kepentingannya masing-masing, entah karena ego kami yang tinggi atau solidaritas kami yang rendah. Yang pasti, saat itu kami masih berjalan sendiri-sendiri. Hingga suatu saat, takdir mempersatukan kami dan mengalahkan ego kami yang tinggi.
            Fajar, temanku ini berlatar belakang kisah cinta yang cukup menarik. Tidak bisa berenang. Ia salah satu anggota klan “Onanymous” :v. Pacaran hobinya, jomblo statusnya.
            Sani, temanku yang satu ini adalah seorang atlit, atlit renang tepatnya. Ia cukup berprestasi, ia pernah menjuarai kejuaraan renang se Jawa-Bali, dan masih banyak lagi. Hebat. Kisah cintanya? Cukup menarik pula, tapi aku tidak ingin menceritakannya, nanti saja. Ngojay hobinya, jomblo statusnya.
            Nisa, temanku yang satu ini sudah berbadan tiga, kasian dia. :( . Ditikung hobinya,:(. Jomblo statusnya. Duh euy, baiklah, mari kita menundukkan kepala dan mengheningkan cipta sejenak untuk kebaikan teman kita dan demi kemulusan karir cinta dia kedepannya, mengheningkan cipta, mulai :(
            Audina, dia seorang wanita yang cukup tinggi, kurasa. Salah satu anggota pengibar bendera Kabupaten Tasikmalaya entah tahun berapa aku lupa. Mengenang mantan hobinya, jomblo statusnya.
            Aku, aku hanya lelaki kurus yang tak tampan, yang selalu mencintaimu dengan caraku. Lahir di Bandung dan tumbuh di kota kecil Tasikmalaya. Hobi? Entahlah, mencintaimu mungkin? Status? Yaa, jomblo ku yakin. :(
            Itulah introduksi kita, kami akhirnya bersama karena mempunyai latar belakang yang sama. Ya, sama-sama jomblo. Kasian kita :( . Baiklah daaak, tepuk tangan dulu untuk kitaaaaa. Sudah? Oke baiklah, mari kita lanjut ceritanya. Dan karena perasaan yang sama rasa sama rata itulah kami pun akhirnya terus bersama menjadi teman seperjuangan sampai akhir hayat nanti, amin. Jug maraneh tiheula we ah ketang sampai akhir hayatnya, aku mah nanti aja. :(
5
            Singkat cerita, saat itu kami berkumpul bersama. Saling berdiam diri agak lama. Bukan karena kami saling terpana, tapi ini lebih karena kami bingung yang pertama kami bicarakan harus hal apa?
            Lalu, timbul lah ide gila yang keluar dari mulutku. Sebenarnya tidak gila sih, hanya melebih-lebihkan saja agar terkesan dramatis padahal nyatanya tidak. Ide gila itu apa? Yaaa, ide gila itu adalah aku menyarankan permainan ToD kepada mereka. Yaa, ToD !
            Kalian tahu ToD? Tidak? Kalian hidup di mana ? Goa? Oh paingan :( . Baiklah, aku ceritakan lagi agar kalian mengerti. ToD adalah sebuah game yang merupakan akronim dari Truth or Dare. Cara memainkannya adalah kita harus memutar sebuah alat apapun itu entah botol, pensil, atau apa saja, lalu orang yang ditunjuk oleh alat itu harus memilih, memilih “T” atau memilih “D”.
            Apabila kamu memilih “T”, maka kamu harus menjawab jujur satu pertanyaan yang diberikan teman kalian. Pertanyaan tentang apapun itu, terserah kalian. Pertanyaan ini perlahan akan menguak rahasia-rahasia kalian, tapi kalian tetap harus menjawab jujur pertanyaan-pertanyaan itu. What a mother fucker man? Tukang tipu mah akan kesulitan dalam game ini, pasti. Teu percaya? Tanyakeun jig ka aeeeng :(
            Dan apabila kamu memilih “D”, maka kamu harus melaksanakan apa yang teman kalian perintahkan, biasanya yang mereka perintahkan adalah hal-hal yang memalukan dan merugikan kalian sendiri. Hingga akhirnya integritas dan nama baik kalian amburacak pabalatak teu puguh judul. Biasanya inimah biasanya, kaleum :( .
Mereka setuju. Kemudian permainan pun kami mulai.
6
            Ahiya, alat yang kami gunakan saat itu untuk diputar dan menunjuk salah satu dari kami adalah sebuah handphone. Yaaa, handphone ! Hadphone ku ! Handphone Blackberry Gemini 8250 ku ! :( . Kami sepakat menggunakan handphone itu karena handphone ku mudah diputar. Ya, itu juga karena baterai handphone ku yang sedang hamil. Entah hamil berapa bulan saat itu, tapi satu yang pasti, aku tak mengetahui siapa bapak dari anak yang handphone ku kandung. Dasar bapak tak bertanggung jawab ! Bisanya hanya menghancurkan masa depan handphone ku saja. Dasar bedebah, tak berperikehandphonan ! Ingin enaknya saja ! Yaa sudahlah, begitulah. Kasian dia. Jadinya begitu, salah dia sendiri. Korban pergaulan bebas. Anaknya akan lahir tanpa bapak dan akan dianggap anak haram disekitarnya. :( Apalah ini? Gatau. :(
            Handphone ku pun di putar oleh Fajar, berputar cukup lama, mengarah kepada kami semua dan seakan memilih-memilah rahasia siapa yang harus dikuak terlebih dahulu. Hingga akhirnya, alat itu memilih Nisa. Yaa Nisa. Kami tertawa, bukan karena menertawakannya. Tapi lebih karena merasa lega alat itu tidak menunjuk ke arah kami. Dan Nisa sendiri mulai merasa tidak nyaman karena tersadar rahasianya akan mulai terkuak, mukanya bersemu merah, badannya melebar, pori-porinya membesar, lubang hidungnya merekah, dan masih banyak lagi, ia menimang-nimang hal apakah yang harus ia pilih. “T”, ataukah “D” ? Cukup lama ia berfikir, kira-kira 2x45 menit ia berfikir, kemudian akan dilanjutkan extra time 2x15 menit apabila hasil laga berjalan imbang. Dan akhirnya, Nisa pun memilih Truth !
Bersambung :v . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

7 komentar: