Jumat, 12 Juli 2019

Perihal Hal yang Belum Pasti

Ini bukan ilustrasi tangismu

“Perihal hal yang belum pasti, ada baiknya kamu tak terlalu banyak melibatkan hati.”
            Aku sedang menulis ini sambil sesekali melihat arloji ku yang terus-menerus berdetak merangkak menuju tengah malam. Ditemani suara jangkrik yang bersahutan dan angin yang perlahan bertiup menuju arah tengah kota. Suasana malam ini terasa agak mencekam karena sepi didukung dingin akibat angin yang terus bersahutan masuk melalui sela jendela.
            22.52 yang ditunjukkan arloji ku sama sekali tak mempengaruhi kedua tangan dan jemarinya yang masih bersemangat bercumbu dengan keyboard di depanku ini. Padahal aku baru memulai tapi mataku yang lelah ini mulai memerah. Tapi sudahlah, aku akan menyelesaikan tulisan ini. Aku janji.
            Ah baiklah, kurasa kita mulai dari sini.  Aku tidak sedang membahas satu kalimat pertama dari tulisan ini, percayalah, melainkan tentang hal yang perlu kuceritakan. Entah itu apa, kuharap kau membacanya.
            Hey, apa kabarmu? Semoga kau baik-baik saja. Jika kamu bertanya perihal “kamu” yang kumaksud itu siapa, anggap saja “kamu” itu adalah seseorang yang ada namun sebenarnya tidak ada. Kamu tahu mengapa? Karena tulisan ini menjelaskan bahwa terdapat satu sekat kuat antara fiksi dan realita yang memang tak dapat benar-benar dipisahkan.
            Dan bagaimana kabarmu belakangan ini? Apakah masih tetap menyenangkan seperti yang pernah kau ceritakan dulu padaku? Atau, atau bahkan kau malah sedang bersedih karena perilaku seseorang yang menyakiti hatimu dengan pergi meninggalkanmu demi orang lain? Kuharap tidak demikian. Karena jika itu terjadi, dan aku mengetahui pelakunya, maafkan aku ! Maafkan aku karena tidak banyak membantu untuk membalaskan sedihmu padanya. Aku hanya pria lemah yang tak punya cukup kuasa untuk membuat hidungnya patah. Tapi aku janji, akan kembalikan senyummu seperti saat itu. Seperti senja ketika hujan waktu itu.
            Hey kamu !  Dengarkan baik-baik perkataan pujangga diluar sana ! Terkadang cinta memang lucu. Ia memberi penawar luka, membuatnya sembuh, sebelum ia melukai lagi dengan tangis yang lebih jatuh. Dan untuk apa mencinta jika hanya pahit yang kau rasa?
            Tapi percayalah, cinta tak sebajingan itu ! Jangan lukai dirimu dengan airmata. Airmatamu terlalu suci untuk menangisi kepergian orang yang tak menganggapmu ada. Tersenyumlah ! Hidup terlalu cantik untuk menangisi orang yang tak perlu ku jelaskan kembali.

1 komentar:

  1. Jika memang mereka ada toksik bagi mu, maka lupakan. hidupmu terlalu berharga, jika hanya untuk menangisinya. Yakinlah bahwa kamu tidak seperti bajingan. Ya, diaalah orang yang kini hanya menikmati hidupnya sendiri 🐭💩

    BalasHapus