![]() |
Saat malam hampir mencapai
puncaknya, aku bersembunyi dari lomba lari yang diselenggarakan oleh debar
jantungku sendiri. Sebab, aku ingin menceritakan sebuah cerita tentang kamu,
tentang kita, dan tentang rasa yang tiap baitnya akan menjadi frasa atas
ketegangan tiap nadi yang berdenyut semakin kencang dari detik ke detik.
Terus terang, aku bingung bagaimana
memulai cerita ini, entah kenapa. Mungkin ini memang karena aku yang bukan
seorang penulis. Atau, mungkin ini karena aku yang memang payah dalam
mengumpulkan puing-puing kenangan yang sudah berceceran karena tidak langsung
kurangkai saat itu. Atau, mungkin ini karena fokus otak ku yang kini telah
terbelah menjadi dua.
Satu ke tulisan ini. Dua ke Steven, nama samaran pemeran
utama dalam cerita ini. Yang anehnya, dia sendirilah yang membuat nama samaran
ini untuk dirinya sendiri. Dan perihal itu aku sangat menentang keras usulannya,
jelas. Sorry Steve. Nama samaranmu dan parasmu terlalu diluar dugaan, tak
logis, tak bermartabat, tak menjelaskan keparalelan sebab akibat, bahkan sama sekali tak
menunjukkan itikad baik.
Tapi, tapi yang jelas dalam menulis
cerita aku tetap seperti biasa, dan biasanya aku tampan, aku tetap menerima
permintaan-permintaan teman yang namanya masuk ke dalam ceritaku ini. Terkecuali
perihal royalty. Oke teu guys? Teu ! Sip ):
Sampai mana tadi? Aku lupa. Ahiyaaa, sampai royalty. Pokoknya
jangan meminta royalty padaku ! “Titik”, gapake “dua bintang” ! Kalau tetap
saja meminta, maaf-maaf lads aku ek baeud dugika wisuda S2 ! ):
Oke, sudah dicukupkan dulu intro tak
bermoral nya, kita langsung saja masuk ke cerita. Cek dis awt ~
1
Mungkin kalian saat ini sedang
bertanya-tanya di dalam lubuk hati yang paling dalam dan penuh luka akibat
sayatan sang masa lalu itu.
“Siapa
Steven? Di cerita-ceritamu dahulu tidak ada yang bernama Steven !”
Mungkin seperti itu pertanyaan yang
muncul di dalam benak kalian.
Iya, memang tidak ada yang namanya
Steven dalam ceritaku yang sebelumnya. Tapi sebenarnya dia pernah ku ceritakan
beberapa bait dalam ceritaku yang berjudul Sekelumit
Kisah di Kota Pelajar IV. Hanya saja, saat itu namanya tidak kusamarkan.
Dia adalah orang yang sama yang menemaniku untuk menemani para wanita
berbelanja di jalan merk rokok itu. Kamu tahu? M*li*b*r* ! Sengaja kusamarkan
nama jalannya biar kalian makin kebingungan.
2
“Daks,
besok libur. Hayu ah daks udah lama gak hayu!” Kataku dalam sidang rapat pleno
di dalam kelas itu.
“Kamana?”
Serentak mereka menjawab.
“Etiopia
Barat Daya lah caaaw berangkat ayeuna keneh! ):” Jawabku
“BALEG
!!!” Mereka menjawab lagi dengan nada meninggi.
“Karaha
atuh Karahaaaa maraneh teh ih kaleum garalak kitu, keur pms kalian teh? ))))”:”
Jawabku baeud.
“Dimana
eta teh Riy?” Kata Firman salah satu temanku yang pernah ku ceritakan di
ceritaku dulu.
“Apal
Republik Rakyat China? Tah tidinya ka lebak saalit a! ):”
“Xianjing”
*kemudian
aku di smack Booker T oleh Firman * Soblog si Firman mah mangprang wae ih ngeri
aku mah da aslina )):
“Udaah
cukup-cukup, kalian berantem terus kaya ucing jeung lauk hiu tutul atulaaah
apanan sieun dong gue!” Teriak Cindy bermaksud memisahkan.
“Gandeng
bisi dikamehameha super saiyan opat!” Kata Firman kepada Cindy
“Iya
atuh iyaa ih jangan ampun, serem tau ! Gue mah mau i'tidal we lah disentak terus daritadi perasaan ):” Cindy pun i'tidal sambil melangsingkan diri, sieuneun.
Aku pun dan Firman kembali
melanjutkan kegiatan smackdown kami dugika negara api menyerang warung nasi
yang buka pada siang hari di bulan puasa. Tamat.
3
Eh teu ketang can tamat, ada
lanjutannya aikalian. Ulah waka marulang atuih can raramena yeuh. Belum
klimaks. Kalau udah klimaks mah mangga berhenti juga. Kita istirahat dulu aja kan bisa. Mongnaon sih ieu? Teuing
atulaah konten dewasa ieumah ketang jangan dibaca guys baru nisyfu sya'ban ! ):
“Jadi
kumaha Riy? Besok jadi ke Karaha?” kata Steven
“Jadi
guys kaleum” Jawabku singkat.
“Jam
baraha berangkat na bro besok?” Tanya Firman
“Siap-siap
we ti jam 2 janari, febrari, maret, april, mei . . . . ):” Timpalku
“Maxiaaaa
bro maxiaaa, bebas ):” Firman pun baeud
4
*Keesokan
harinya*
08.30. Sebuah pesan singkat melalui
ponsel telah dikirimkan ke kawan-kawan terkasih)))):
“Guys,
dimarana? Hayu kumpul. Kita ziarah ka makam Presiden Afrika Barat Daya tea!”
Eh enggak bukan gitu ketang guys
asanamah pesannya teh, typo etamah ): . Pokoknya mah gini kurang lebih pesannya
teh kalau gak salah, kalau salah ge meunang salapan ketang bae ah.
“Dak
! Daki ! Hayu kumpul. Jadi moal ngetrip teh? Urang geus siap yeuh, geura
marandi. Bisi seungit Naudzubilahimindzalik ! Pokoknya mah aku tunggu kalian
yah intinyamah gitu we. geuwat geura ngumpul dak ! Landak ! Kita otw beberapa
saat lagi. 4x4 =16. Sempat gak sempat harus dibalas #Sendall” ):
Kemudian pesan dikirimkan ke khalayak ramai.
Beberapa menit setelah itu dan membiarkan diri ditertawakan jam dinding,
akhirnya hadirlah jawaban dari orang yang ditunggu-tunggu.
“Y”
Gitu cenah jawabannya teh sanyeeeng nyeri hate tau gak digituin teh ih hati aku
tersayat-sayat. *cry *rain* ));
Lantas, setelah hadir perdebatan
hebat di chat room yang melebihi rapat para wakil rakyat anggota DPR dan DPD
serta DPRD beberapa saat perihal tempat berkumpul dan waktu berkumpulnya dimana
secara tepat. Kami pun sepakat untuk berkumpul di desa Sunagakure pada saat si
Gaara diculik Bima sakti untuk dinikahkan dengan nini-nini yang suka nyebut
Demi Dewa dina pilem Anandhi nu di antv dan membawanya ke planet Namek. ):
Akhirnya, beberapa saat setelah itu.
Gaara pun teu jadi diculik da Bima Sakti na maot diserang geng cobra. Tapi tak
apalah. Kami tetap berkumpul di planet Namek untuk lawas tilawas bersama si
Piccolo balad kami ngurek dahulu keur jaman kerajaan siliwangi (ngurek=nyari
belut). Si gablag beuki ngacapruk ):
5
09.00.
Aku bersama Steven dan beberapa kawan-kawanku telah berkumpul di halaman depan
rumah nya si Uvuvevwe Onyetenyevwe Ugwemubwem Osas (nama samaran) )):. Sembari
menunggu kawan lainnya, kami akhirnya memulai perjalanan menuju rumah kawan
kami selanjutnya yang rumahnya teh masih sejalur dengan tujuan kami yakni
Karaha tea.
Namun,
setelah sampai di rumah kawan kami tersebut, kawan kami yang ditunggu-tunggu belum
datang, karena kami sadar kami berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang terkenal dengan julukan Negeri Demokrasi, kami pun mulai melakukan
musyawarah darurat untuk mencapai mufakat di rumah kawan kami itu dengan
mengangkat tema dan garis besar “Langkah Selanjutnya yang Harus Dilakukan Ketika
Rerencangan yang Ditunggu-Tunggu Gak Dateng-Dateng dan yang Menunggu Mulai Kehilangan
Kesabaran.”
Mufakat
telah tercapai. Kami menemukan kata sepakat. Kami sepakat untuk berangkat
terlebih dahulu meninggalkan mereka dalam gelapnya masa lalu yang selalu
membayangi waktu dibalik kaca jendela rumah nya saat gulita menyerang semesta.
6
09.15.
(Awal Perjalanan yang Menegangkan dan
Menyenangkan)
. . . . . . .
. . . . .
. . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .
(to be
continued)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar