Sabtu, 13 Mei 2017

Karaha Punya Cerita


            Saat malam hampir mencapai puncaknya, aku bersembunyi dari lomba lari yang diselenggarakan oleh debar jantungku sendiri. Sebab, aku ingin menceritakan sebuah cerita tentang kamu, tentang kita, dan tentang rasa yang tiap baitnya akan menjadi frasa atas ketegangan tiap nadi yang berdenyut semakin kencang dari detik ke detik.
            Terus terang, aku bingung bagaimana memulai cerita ini, entah kenapa. Mungkin ini memang karena aku yang bukan seorang penulis. Atau, mungkin ini karena aku yang memang payah dalam mengumpulkan puing-puing kenangan yang sudah berceceran karena tidak langsung kurangkai saat itu. Atau, mungkin ini karena fokus otak ku yang kini telah terbelah menjadi dua.
Satu ke tulisan ini. Dua ke Steven, nama samaran pemeran utama dalam cerita ini. Yang anehnya, dia sendirilah yang membuat nama samaran ini untuk dirinya sendiri. Dan perihal itu aku sangat menentang keras usulannya, jelas. Sorry Steve. Nama samaranmu dan parasmu terlalu diluar dugaan, tak logis, tak bermartabat, tak menjelaskan keparalelan sebab akibat, bahkan sama sekali tak menunjukkan itikad baik.   
            Tapi, tapi yang jelas dalam menulis cerita aku tetap seperti biasa, dan biasanya aku tampan, aku tetap menerima permintaan-permintaan teman yang namanya masuk ke dalam ceritaku ini. Terkecuali perihal royalty. Oke teu guys? Teu ! Sip ):
            Sampai mana tadi?  Aku lupa. Ahiyaaa, sampai royalty. Pokoknya jangan meminta royalty padaku ! “Titik”, gapake “dua bintang” ! Kalau tetap saja meminta, maaf-maaf lads aku ek baeud dugika wisuda S2 ! ):
            Oke, sudah dicukupkan dulu intro tak bermoral nya, kita langsung saja masuk ke cerita. Cek dis awt ~
1
            Mungkin kalian saat ini sedang bertanya-tanya di dalam lubuk hati yang paling dalam dan penuh luka akibat sayatan sang masa lalu itu.
“Siapa Steven? Di cerita-ceritamu dahulu tidak ada yang bernama Steven !”
            Mungkin seperti itu pertanyaan yang muncul di dalam benak kalian.
            Iya, memang tidak ada yang namanya Steven dalam ceritaku yang sebelumnya. Tapi sebenarnya dia pernah ku ceritakan beberapa bait dalam ceritaku yang berjudul Sekelumit Kisah di Kota Pelajar IV. Hanya saja, saat itu namanya tidak kusamarkan. Dia adalah orang yang sama yang menemaniku untuk menemani para wanita berbelanja di jalan merk rokok itu. Kamu tahu? M*li*b*r* ! Sengaja kusamarkan nama jalannya biar kalian makin kebingungan.
2
“Daks, besok libur. Hayu ah daks udah lama gak hayu!” Kataku dalam sidang rapat pleno di dalam kelas itu.
“Kamana?” Serentak mereka menjawab.
“Etiopia Barat Daya lah caaaw berangkat ayeuna keneh! ):” Jawabku
“BALEG !!!” Mereka menjawab lagi dengan nada meninggi.
“Karaha atuh Karahaaaa maraneh teh ih kaleum garalak kitu, keur pms kalian teh? ))))”:” Jawabku baeud.
“Dimana eta teh Riy?” Kata Firman salah satu temanku yang pernah ku ceritakan di ceritaku dulu.
“Apal Republik Rakyat China? Tah tidinya ka lebak saalit a! ):”
“Xianjing”
*kemudian aku di smack Booker T oleh Firman * Soblog si Firman mah mangprang wae ih ngeri aku mah da aslina )):
“Udaah cukup-cukup, kalian berantem terus kaya ucing jeung lauk hiu tutul atulaaah apanan sieun dong gue!” Teriak Cindy bermaksud memisahkan.
“Gandeng bisi dikamehameha super saiyan opat!” Kata Firman kepada Cindy
“Iya atuh iyaa ih jangan ampun, serem tau ! Gue mah mau i'tidal we lah disentak terus daritadi perasaan ):” Cindy pun i'tidal sambil melangsingkan diri, sieuneun.
            Aku pun dan Firman kembali melanjutkan kegiatan smackdown kami dugika negara api menyerang warung nasi yang buka pada siang hari di bulan puasa. Tamat.
3
            Eh teu ketang can tamat, ada lanjutannya aikalian. Ulah waka marulang atuih can raramena yeuh. Belum klimaks. Kalau udah klimaks mah mangga berhenti juga. Kita istirahat dulu aja kan bisa. Mongnaon sih ieu? Teuing atulaah konten dewasa ieumah ketang jangan dibaca guys baru nisyfu sya'ban ! ):
“Jadi kumaha Riy? Besok jadi ke Karaha?” kata Steven
“Jadi guys kaleum” Jawabku singkat.
“Jam baraha berangkat na bro besok?” Tanya Firman
“Siap-siap we ti jam 2 janari, febrari, maret, april, mei . . . . ):” Timpalku
“Maxiaaaa bro maxiaaa, bebas ):” Firman pun baeud
4
*Keesokan harinya*
            08.30. Sebuah pesan singkat melalui ponsel telah dikirimkan ke kawan-kawan terkasih)))):
            “Guys, dimarana? Hayu kumpul. Kita ziarah ka makam Presiden Afrika Barat Daya tea!”
            Eh enggak bukan gitu ketang guys asanamah pesannya teh, typo etamah ): . Pokoknya mah gini kurang lebih pesannya teh kalau gak salah, kalau salah ge meunang salapan ketang bae ah.
            “Dak ! Daki ! Hayu kumpul. Jadi moal ngetrip teh? Urang geus siap yeuh, geura marandi. Bisi seungit Naudzubilahimindzalik ! Pokoknya mah aku tunggu kalian yah intinyamah gitu we. geuwat geura ngumpul dak ! Landak ! Kita otw beberapa saat lagi. 4x4 =16. Sempat gak sempat harus dibalas #Sendall” ):
             Kemudian pesan dikirimkan ke khalayak ramai. Beberapa menit setelah itu dan membiarkan diri ditertawakan jam dinding, akhirnya hadirlah jawaban dari orang yang ditunggu-tunggu.
            “Y” Gitu cenah jawabannya teh sanyeeeng nyeri hate tau gak digituin teh ih hati aku tersayat-sayat. *cry *rain* ));
            Lantas, setelah hadir perdebatan hebat di chat room yang melebihi rapat para wakil rakyat anggota DPR dan DPD serta DPRD beberapa saat perihal tempat berkumpul dan waktu berkumpulnya dimana secara tepat. Kami pun sepakat untuk berkumpul di desa Sunagakure pada saat si Gaara diculik Bima sakti untuk dinikahkan dengan nini-nini yang suka nyebut Demi Dewa dina pilem Anandhi nu di antv dan membawanya ke planet Namek. ):
            Akhirnya, beberapa saat setelah itu. Gaara pun teu jadi diculik da Bima Sakti na maot diserang geng cobra. Tapi tak apalah. Kami tetap berkumpul di planet Namek untuk lawas tilawas bersama si Piccolo balad kami ngurek dahulu keur jaman kerajaan siliwangi (ngurek=nyari belut). Si gablag beuki ngacapruk ):
5
            09.00. Aku bersama Steven dan beberapa kawan-kawanku telah berkumpul di halaman depan rumah nya si Uvuvevwe Onyetenyevwe Ugwemubwem Osas (nama samaran) )):. Sembari menunggu kawan lainnya, kami akhirnya memulai perjalanan menuju rumah kawan kami selanjutnya yang rumahnya teh masih sejalur dengan tujuan kami yakni Karaha tea.
            Namun, setelah sampai di rumah kawan kami tersebut, kawan kami yang ditunggu-tunggu belum datang, karena kami sadar kami berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terkenal dengan julukan Negeri Demokrasi, kami pun mulai melakukan musyawarah darurat untuk mencapai mufakat di rumah kawan kami itu dengan mengangkat tema dan garis besar “Langkah Selanjutnya yang Harus Dilakukan Ketika Rerencangan yang Ditunggu-Tunggu Gak Dateng-Dateng dan yang Menunggu Mulai Kehilangan Kesabaran.”
            Mufakat telah tercapai. Kami menemukan kata sepakat. Kami sepakat untuk berangkat terlebih dahulu meninggalkan mereka dalam gelapnya masa lalu yang selalu membayangi waktu dibalik kaca jendela rumah nya saat gulita menyerang semesta.
6
            09.15. (Awal Perjalanan yang Menegangkan dan Menyenangkan)
 . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . .

(to be continued)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar