Minggu, 06 Desember 2015

Lantas Aku Harus Bagaimana ?


            Ku hanya membiarkan diriku tersembunyi, berada di sisi gelap, tak nampak, dan tak terlalu terlihat olehmu. Tujuanku? Lupakan soal tujuan, ini hanya masalah antara kita. Ya, kita ! Aku dan waktu !
            Dan benar saja, tidak ada yang benar-benar betah saat menunggu. Tidak ada yang benar-benar betah saat menanti. Namun, entahlah. Ia tak tahu seberapa lama waktu menunggunya, ia tak tahu sampai kapan lama penantiannya. Yang ia tahu, penantiannya tak dibatasi pertanyaan sampai kapan.
            Tapi, selalu saja, entah mengapa. Akhir cerita cinta seorang pemuja rahasia selalu saja begini. Tak pernah berbeda, selalu saja kecewa di akhir cerita. Seolah perjuangannya tak berharga. Seolah kau tak hargai hadirku. Seolah kau sengaja acuhkan harapku. Seolah segala penantiannya hanya sebatas permainan yang perlu dilihat, diamati, kemudian ditinggalkan.
            Bahkan, sampai detik ini. Aku masih mengejar dan terus mengejar, kau berlari dan tetap saja berlari, kau selalu berada pada ambang pandang, tetapi dalam jarak tak mungkin lagi tergapai teriak.
            Hey ! Kamu ! Iya kamu ! Kamu yang dinanti jangan seakan tidak peduli ! Yang kukorbankan memang bukan materi. Tetapi waktu yang tak bisa kembali. Tak usah membalas perasaan ini jika memang tak bisa. Cukup katakan saja sebaiknya aku harus bersikap bagaimana. Tetap menunggumu, atau meneruskan langkah meninggalkanmu.
            Tapi begitulah hidup, beginilah cinta. Ada yang terus menunggu meski ia tahu yang dia tunggu tak akan datang. Dan ada juga yang terus datang, meski ia tahu ia sama sekali tidak ditunggu. Begitulah, tapi, ah entahlah.
            Satu yang perlu dan mesti kau tahu, bertahan dalam tunggu di waktu yang tidak sebentar, itu bukanlah sebuah prestasi, sayang ! Itu sama sekali bukanlah sebuah kebanggaan. Jangan menyia-nyiakan hidup seseorang terlalu lama. Banyak hal yang sebenarnya bisa aku dapatkan, namun memilih membuangnya. Lebih memilih tuk menanti. Penantian atas nama cinta.
            Tapi, ya begitulah. Selamat datang acuh, hadirmu telah beri warna baru dalam corak kehidupan dunia fana ! Dan, baru kusadari, ternyata cinta se-kacida ini ! Ooh cinta !
            Ya ! Aku tahu ! Aku tahu mungkin memang tak akan pernah ada ketepatan waktu untuk mendapatkanmu ! Dan semua itu hanya harapan semu semata. Yaa benar ! Harapan semu !
            Dan, sayang, terkadang aku sangat lelah. Ingin sekali menyerah. Namun ketika kulihat lagi ke belakang, sudah berapa lama aku mengorbankan waktuku untukmu, hatiku seakan menegaskan, “Jangan berhenti sekarang, mungkin harapmu sebentar lagi menjadi nyata !” Sehingga aku memilih, bertahan dalam keterpaksaan.
Tapi, seperti kata pepatah yang tak ku ketahui asalnya dari mana, mereka pernah berkata, “Berhati-hatilah dengan hati, karena hati sering sakit hati oleh hati yang kurang hati-hati.” Mungkin pepatah tersebut sangat pas untuk disematkan kepadamu. Tapi sudahlah, percuma.
Selalu sabar disaat kamu tidak ada kabar, selalu bertahan disaat aku kau abaikan, itulah aku, iya, aku ! Memang begitulah, selalu saja, “serba salah mun nyaah ka jelema anu salah !” Tapi, ah sudahlah !
Bukan aku mengharapkan balasan. Bukan aku tak ikhlas menunggumu. Tetapi, bayangkan saja bila kau menjadi aku. Tunggumu tak dihargai. Korbanmu tak dilihat sama sekali. Dan waktumu terbuang sia-sia. Menurutmu bagaimana? Indah? Mudah? Tak perlu dijawab. Cukup rasakan saja. Bahwa kau seberharga itu. Sedangkan aku semenyedihkan ini.
Andai saja seorang pedagang melewatiku malam ini, tak peduli pedagang apapun itu, mungkin aku dengan berat hati akan dengan ringannya berkata “Mas, aku pesan bakso urat hati dengan kuah air mata. Tolong kirimkan tidak tepat waktu, biar dia tahu lelahnya menunggu.” Mungkin begitulah.
Satu lagi yang mesti kau ketahui, ditiap malam yang melelapkanku, aku dan doa selalu bekerja bersama-sama, untukmu.
Terkadang logika ku mempertanyakan, untuk apa aku melakukan semua ini? Untuk apa aku bertahan dalam diam? Untuk apa aku mengalah kepada sebuah pengacuhan? Untuk apa? Sudahlah, menyerahlah ! Tapi, benar, kadang perasaan jauh lebih unggul dari apapun. Logika ku kalah begitu saja hanya oleh pembelaan lewat sebuah kata, cinta ! Tapi, sayang, satu lagi, hanya satu pesanku untukmu saat ini, “Yang kamu sakiti itu, mungkin sering mendo’akanmu, dengan cinta sebelum dan setelah lelapnya”. Lantas, kamu ingin menyia-nyiakannya begitu saja? Tak perlu dijawab. Cukup pikirkan.
            Dan memang, sayang ! Do’a adalah caraku untuk menjagamu dari kemungkinan terburuk, di luar jangkauan tanganku yang hanya ada dua. Dan memang begitulah, mendo’akanmu adalah sebaik-baiknya caraku menjagamu. Dengan hanya sedikit walau, kau yang saat ini masih belum kumiliki.
            Jadi, sayang. Kali ini aku harus bagaimana? Tetap bertahan atau harus pergi dari hidupmu? Bantu aku memecahkan persoalan ini. Apapun jawabmu, aku terima sepenuhnya. Jangan terbebani dengan rasa takut menyakiti. Hidup kita masih panjang. Masih banyak yang perlu kita urusi. Jadi pastikan pilihanmu tidak berbuah penyesalan. Tapi, ah sudahlah. Selamat tidur, sayang. Semoga esok kita tak ragu untuk saling menegur.
            



7 komentar: