Ku hanya membiarkan diriku
tersembunyi, berada di sisi gelap, tak nampak, dan tak terlalu terlihat olehmu.
Tujuanku? Lupakan soal tujuan, ini hanya masalah antara kita. Ya, kita ! Aku
dan waktu !
Dan benar saja, tidak ada yang
benar-benar betah saat menunggu. Tidak ada yang benar-benar betah saat menanti.
Namun, entahlah. Ia tak tahu seberapa lama waktu menunggunya, ia tak tahu sampai
kapan lama penantiannya. Yang ia tahu, penantiannya tak dibatasi pertanyaan
sampai kapan.
Tapi, selalu saja, entah mengapa.
Akhir cerita cinta seorang pemuja rahasia selalu saja begini. Tak pernah
berbeda, selalu saja kecewa di akhir cerita. Seolah perjuangannya tak berharga.
Seolah kau tak hargai hadirku. Seolah kau sengaja acuhkan harapku. Seolah
segala penantiannya hanya sebatas permainan yang perlu dilihat, diamati,
kemudian ditinggalkan.
Bahkan, sampai detik ini. Aku masih
mengejar dan terus mengejar, kau berlari dan tetap saja berlari, kau selalu
berada pada ambang pandang, tetapi dalam jarak tak mungkin lagi tergapai teriak.
Hey ! Kamu ! Iya kamu ! Kamu yang
dinanti jangan seakan tidak peduli ! Yang kukorbankan memang bukan materi.
Tetapi waktu yang tak bisa kembali. Tak usah membalas perasaan ini jika memang
tak bisa. Cukup katakan saja sebaiknya aku harus bersikap bagaimana. Tetap
menunggumu, atau meneruskan langkah meninggalkanmu.
Tapi begitulah hidup, beginilah
cinta. Ada yang terus menunggu meski ia tahu yang dia tunggu tak akan datang.
Dan ada juga yang terus datang, meski ia tahu ia sama sekali tidak ditunggu. Begitulah,
tapi, ah entahlah.
Satu yang perlu dan mesti kau tahu,
bertahan dalam tunggu di waktu yang tidak sebentar, itu bukanlah sebuah
prestasi, sayang ! Itu sama sekali bukanlah sebuah kebanggaan. Jangan
menyia-nyiakan hidup seseorang terlalu lama. Banyak hal yang sebenarnya bisa
aku dapatkan, namun memilih membuangnya. Lebih memilih tuk menanti. Penantian
atas nama cinta.
Tapi, ya begitulah. Selamat datang
acuh, hadirmu telah beri warna baru dalam corak kehidupan dunia fana ! Dan,
baru kusadari, ternyata cinta se-kacida ini ! Ooh cinta !
Ya ! Aku tahu ! Aku tahu mungkin
memang tak akan pernah ada ketepatan waktu untuk mendapatkanmu ! Dan semua itu
hanya harapan semu semata. Yaa benar ! Harapan semu !
Dan, sayang, terkadang aku sangat
lelah. Ingin sekali menyerah. Namun ketika kulihat lagi ke belakang, sudah
berapa lama aku mengorbankan waktuku untukmu, hatiku seakan menegaskan, “Jangan
berhenti sekarang, mungkin harapmu sebentar lagi menjadi nyata !” Sehingga aku
memilih, bertahan dalam keterpaksaan.
Tapi, seperti kata pepatah yang tak ku ketahui
asalnya dari mana, mereka pernah berkata, “Berhati-hatilah dengan hati, karena
hati sering sakit hati oleh hati yang kurang hati-hati.” Mungkin pepatah
tersebut sangat pas untuk disematkan kepadamu. Tapi sudahlah, percuma.
Selalu sabar disaat kamu tidak ada kabar, selalu
bertahan disaat aku kau abaikan, itulah aku, iya, aku ! Memang begitulah, selalu
saja, “serba salah mun nyaah ka jelema
anu salah !” Tapi, ah sudahlah !
Bukan aku mengharapkan balasan. Bukan aku tak ikhlas
menunggumu. Tetapi, bayangkan saja bila kau menjadi aku. Tunggumu tak dihargai.
Korbanmu tak dilihat sama sekali. Dan waktumu terbuang sia-sia. Menurutmu
bagaimana? Indah? Mudah? Tak perlu dijawab. Cukup rasakan saja. Bahwa kau
seberharga itu. Sedangkan aku semenyedihkan ini.
Andai saja seorang pedagang melewatiku malam ini,
tak peduli pedagang apapun itu, mungkin aku dengan berat hati akan dengan
ringannya berkata “Mas, aku pesan bakso urat hati dengan kuah air mata. Tolong
kirimkan tidak tepat waktu, biar dia tahu lelahnya menunggu.” Mungkin
begitulah.
Satu lagi yang mesti kau ketahui, ditiap malam yang
melelapkanku, aku dan doa selalu bekerja bersama-sama, untukmu.
Terkadang logika ku mempertanyakan, untuk apa aku
melakukan semua ini? Untuk apa aku bertahan dalam diam? Untuk apa aku mengalah
kepada sebuah pengacuhan? Untuk apa? Sudahlah, menyerahlah ! Tapi, benar,
kadang perasaan jauh lebih unggul dari apapun. Logika ku kalah begitu saja
hanya oleh pembelaan lewat sebuah kata, cinta ! Tapi, sayang, satu lagi, hanya
satu pesanku untukmu saat ini, “Yang kamu sakiti itu, mungkin sering
mendo’akanmu, dengan cinta sebelum dan setelah lelapnya”. Lantas, kamu ingin
menyia-nyiakannya begitu saja? Tak perlu dijawab. Cukup pikirkan.
Dan memang, sayang ! Do’a adalah
caraku untuk menjagamu dari kemungkinan terburuk, di luar jangkauan tanganku
yang hanya ada dua. Dan memang begitulah, mendo’akanmu adalah sebaik-baiknya
caraku menjagamu. Dengan hanya sedikit walau, kau yang saat ini masih belum
kumiliki.
Jadi, sayang. Kali ini aku harus
bagaimana? Tetap bertahan atau harus pergi dari hidupmu? Bantu aku memecahkan
persoalan ini. Apapun jawabmu, aku terima sepenuhnya. Jangan terbebani dengan
rasa takut menyakiti. Hidup kita masih panjang. Masih banyak yang perlu kita
urusi. Jadi pastikan pilihanmu tidak berbuah penyesalan. Tapi, ah sudahlah.
Selamat tidur, sayang. Semoga esok kita tak ragu untuk saling menegur.

Mani pas gan jeung hate kuring nu keur nungguan :v .
BalasHapusNungguan naon? Nungguan pengumuman remed? :v
HapusLumayan bagus
BalasHapusMakasih om
HapusJangan menunggu karena hatimu bukanlah halte bus ri 😳
BalasHapusSeraaah deh mi seraah -_-
HapusMani pas gan jeung hate kuring nu keur nungguan :v .
BalasHapus