Selasa, 10 November 2015

Sekelumit Kisah di Kota Pelajar II


Part II ; Fotonya juga 2
            Ini cerita lanjutan dari kisah sebelumnya, masih tetap garing dan tak menarik, tapi tetap harus dibaca karena ini bukanlah lagu ataupun film drama korea. Aku lupa sampai mana waktu itu aku cerita, yang jelas aku tetap seperti biasa, dan biasanya aku tampan, hanya hari ini saja aku terlihat jelek, bukan karena apa-apa, tapi karena ada kamu disampingku. Siapa? Pacar temanku. Ah sudahlah. Apalah ini. Aku potong dulu bagian ini dan berusaha fokus ke kamu. Maksudku cerita kita. Bukan, maksudku ceritaku yang kan ku ceritakan kepadamu.
1
            Tasikmalaya, 04:00 WIB aku terbangun dari lelapku. Dibangunkan oleh dering ponsel. Lebih tepatnya alarm ponsel. Alarm ponsel makin berdering nyaring, cukup lama sehingga memaksa tidurku terjaga. Tapi aaah, sial ! Mataku terasa berat dan enggan terangkat. Kenapa ini Tuhan? Apakah ini yang dinamakan cinta ? Apakah ini yang dinamakan rindu ? Apakah ini yang dinamakan sayang? Oke skip. Apa cenah ieu teh? Gatau )):
            Sampai mana tadi ? Ahiya, sampai mataku terasa berat. Oke, balik ke cerita. Mataku terasa berat dan enggan terangkat. Pantas saja, itu mungkin karena tadi malam aku tertidur pulas tepat pada pukul satu lewat dua belas. Aku sulit tertidur, bukan karena apa-apa. Itu pasti karena sisa kopi tadi malam ! Bukan, itu karena aku keasikan stalking (baca: kepo-in) timeline gebetan orang lain hingga akhirnya lupa waktu di twitter. Siapa? Rahasia.
            Aku pergi menuju kamar mandi, bukan untuk berwudhu. Bukan itu, aku tak se religius itu. Percayalah. Aku hanya ingin membuat pancuran berwarna kuning keemasan di kamar mandi, membuat gayung dan ember berinteraksi disana, yang tentu ada air didalamnya.
2
            Tapi, ceritaku yang ini agak berbeda dari cerita sebelumnya. Kenapa? Karena ini bukan cerita tentang Firman, maaf Man, bagianmu sudah ku ceritakan waktu itu dan sekarang bagian teman ku yang lain yang mungkin kamu kenal. Dialah Cindy. Sudah kubilang ini hanyalah nama samaran dan orang lain tidak peduli. Tapi, jika kamu menyimak cerita sebelumnya kamu pasti sudah mengenal Cindy yang ku ceritakan satu bait waktu itu. Ini cerita tentang kasih asmara yang dia belum ceritakan kepadaku, tapi aku tahu karena temannya bercerita kepadaku dimalam itu.
Cindy ini pemeran utama dalam ceritaku, padahal kalau aku mau, aku sendirilah yang jadi pemeran utamanya. “Tapi ceritamu tak se seru ceritaku” kata Cindy saat membaca cerita ini, mungkin. Entahlah. Karena saat aku menulis cerita ini, maksudku mengetik cerita ini dia sudah tidur. Entahlah, aku takut salah, aku tidak tahu karena tidak satu rumah, kalau satu atap iyah. Karena kita sama-sama tinggal di bawah langit.
            Sebenarnya aku masih ingin bercerita banyak tentang Firman dan Rida. Tapi buat apa? Cerita cinta mereka bahkan sampai sekarang tidak ada perkembangan. Masih tetap begitu. Masih di dominasi dengan diam. Diam-diam memandang, diam-diam tersenyum, diam-diam sedih, diam-diam hitut, diam-diam busiat. Selalu saja begitu. Kasian yah? Iyah )):
            Jadi akhirnya, dengan berat hati aku menceritakan temanku yang lainnya. Sebenarnya gak berat sih, hanya pura-pura saja agar cerita ini ada sedihnya padahal enggak. Kisah ini aku tulis, maksudku aku ketik karena aku mendapat sebuah request dari seorang teman. Jangan bertanya siapa namanya, kalian tak perlu tahu, dan aku tak ingin membahasnya, maklum dia cantik. Siapa? Sudah ku bilang jangan diceritakan, nanti dia baca, yang ada dia ke geer an, dan aku malas jika dia tiba-tiba mengirimkan pesan lewat bbm “makasih, karena aku ada di ceritamu dan kamu bilang aku cantik.”
3
            Aku lupa awal ceritanya bagaimana, yang aku ingat waktu itu pagi hari dan cuaca sedang cerah, entah bagaimana rasanya yang jelas aku merasa masih berada di Tasikmalaya sana, namun suasana disini agak berbeda, apalagi saat bangun subuh tadi, saat ku lihat kanan kiri ternyata sedang berbaring empat temanku yang lainnya. Lengkap dengan nada khas paduan suaranya.
Pagi itu, kita di jadwalkan makan pagi di tempat yang sama persis di tempat kita makan tadi malam. Hanya saja tidak diiringi nyanyian penyanyi berdada besar itu. Ah tidak, maksudku penyanyi yang di tali pita di pinggangnya itu. Tapi, ketika semua orang sudah berada di tempat itu, aku malah masih berada di dalam kamar hotel. Dan sialnya Firman malah curhat kepadaku padahal aku sendiri sama seperti dia, iyah lapar.
Disitu lah aku kembali bertemu dengan Cindy, ia sudah berada disana dari tadi. Mungkin sejak dua puluh menit yang lalu. Dia makan bersama ke sembilan kawannya. Tak kan kusebutkan siapa saja kawannya, karena terlalu banyak. Kalau kusebutkan, nanti malah aku yang kebingungan memikirkan nama samaran untuk mereka semua. Dan aku tak ingin kebingungan ketika mengetik cerita ini, cukup matematika saja yang membuat aku kebingungan, cerita ini jangan !
Kulihat dia tidak benar-benar fokus makan, walaupun tangan dan mulutnya berinteraksi, tapi jelas-jelas tatapan matanya malah menatap ke lelaki yang berada di meja ujung sana. Lelaki yang sedang bercanda mesra dengan wanita lainnya. Lelaki yang sedang tertawa dengan wanitanya. Maksudku lelaki yang sedang tertawa dengan wanita yang berada di sampingnya. Dan wanita itu sebenarnya sahabat baiknya. Salsa, nama samaran. Dan lelaki yang sedang tertawa dengan Salsa bernama Rangga, nama samaran juga.
Dari pandangan matanya terlihat jelas, bahwa ia lapar. Bukan, dia cemburu. Dia cemburu melihat lelaki yang ia cintai malah mencintai sahabatnya dan cinta yang ia punya tak dibalas cinta lagi oleh Rangga.
Wajar saja Cindy cemburu, kenapa? Karena ialah yang lebih dulu dekat dengan Rangga. Bahkan jauh-jauh hari sebelum Rangga dekat dengan Salsa. Tapi entah bagaimana ceritanya, Rangga justru malah berpacaran dengan Salsa, ah tidak juga, maksudku terlihat berpacaran dengan Salsa. Maaf kalau aku terdengar plin plan, aku takut salah. Karena aku tak pernah melihat Rangga menembak Salsa. Yang kurasa belum pernah, karena sampai saat aku mengetik cerita ini pun Salsa masih berhembus nafasnya dan terlihat sehat wal’afiat. Tapi entahlah, biarkan itu menjadi urusan Tuhan dan malaikat. Aku tidak ingin ikut campur.
4
            Sampai mana tadi? Aku lupa. Ahiya, sampai makan pagi. Setelah makan pagi, aku pun bersama Cindy dan yang lainnya pergi menuju destinasi selanjutnya. Dan yang aku ingat kami pergi menuju sebuah benteng pertahanan bekas jajahan dulu. Entah apa itu namanya, kurasa Benteng Gedebrug. Kalau tidak salah. Dan maaf kalau aku salah. Sudah kubilang aku bukan orang sana.
            Benteng Gedebrug, 14:00 WIB aku sampai setelah duduk ber jam-jam di Bis berwarna hijau yang dipinggirnya ada kalimat Karunia Bakti, bis itu ber AC dan aku kedinginan. Andai saja ada kamu mungkin aku akan sedikit merasa hangat, tapi ah percuma karena sikap mu pun masih dingin terhadapku. Oh ya, aku dan kawanku sudah turun dari bis yang kurasa dingin tapi kawanku tidak, karena dia masih merasa kepanasan setelah tahu calon pacarnya diambil orang, siapa? Cindy. Yang ku ceritakan tadi.
            Singkat cerita, kami semua sudah turun dari bis, dan kami diberi dua pilihan oleh panitia. Memilih pergi menelusuri Benteng Gedebrug itu dulu atau langsung pergi ke Taman Pintar? Wajar saja kami diberi pilihan itu, Benteng Gedebrug dan Taman Pintar ternyata berdiri berdampingan, bukan di pelaminan ! Bukan juga di nikahan teman ! Bukan itu ! Karena keduanya bukan orang, mereka berdiri berdampingan di Kota Pelajar sana. Keduanya sama-sama luas, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengeksplorasi keduanya. Dan dengan berbagai pertimbangan yang lama serta cukup berat karena telah berdebat dengan perasaan dan pikiran, aku akhirnya memutuskan, diantara Benteng Gedebrug dan Taman Pintar, aku lebih memilih pergi ke toilet.
            Sialnya, setelah aku kembali dari toilet, semua temanku termasuk panitia sudah berpencar pergi. Entah kemana. Namun satu yang pasti, mereka semua meninggalkanku, teman macam apa itu? Apakah itu yang dinamakan teman?  Apakah itu yang dinamakan persahabatan? Haaaah ? Oke skip. Ini baper.
            Beda cerita dengan Cindy, Sarah, dan Silma. Mereka masih di tempat semula dan masih asik mengobrol satu sama lainnya. Ohiya, aku lupa, Sarah adalah teman dekat Cindy, bukan nama asli. Silma juga, bukan nama asli pula.
            Mereka bertiga, ah tidak. Maksudku, mereka berlima. Karena Cindy dihitung tiga, mereka berlima sedang asik bercanda di dekat patung disekitaran benteng Gedebrug itu, Entah tentang apa mereka bercanda, tapi satu yang pasti, kurasa secara tidak sadar mereka tidak meninggalkanku dan sengaja menungguku. Aku terharu karena itu, kalau mereka membaca ceritaku ini, aku ingin berkata terima kasih kepada Cindy, Sarah, dan Silma ! “Cindy, Sarah, Silma, terima kasih karena telah menungguku waktu itu !” Baiklah sudah, balik lagi ke cerita. Dan dengan segala keberanianku akhirnya aku mendekati mereka.
“Siga nu rame yeuh, keur naraon euy?” (Kayaknya seru nih, lagi ngapain nih?) tanyaku
“Katingalina?” (Kelihatannya?) sahut Cindy ketus
“Teuing” (Gatau)  jawabku
“Heug atuh” (Yaudah) jawab Silma singkat.
“Ih ): ” ucapku
“Naon?” (apa?) Tanya Silma
“Teu ! ))):” (Enggak !) Jawabku singkat.
            Dan dengan segala basa-basi yang kulakukan, akhirnya aku bergabung bersama mereka. Kami pun sepakat untuk mengeksplorasi taman pintar itu terlebih dahulu, lantas nantinya akan kami lanjutkan menuju benteng gedebrug itu.
5
            Baiklah, disini banyak sekali cerita yang cukup seru, menurutku. Tapi tunggu, aku mau beli kopi dan segenggam kasih sayang yang tulus dulu.
Oke, aku lanjut lagi, tapi ga tau harus mulai dari mana yang pasti saat itu kami diarahkan menuju satu ruangan yang didalamnya terdapat banyak foto presiden mulai dari Soekarno sampai Soesilo Bambang Yudhoyono. Joko Widodo? Entahlah, gak tau ada atau tidak, aku lupa dan aku tidak peduli.
            Di sana ternyata sudah ada Rangga dan Salsa yang sedang bercanda mesra. Dan itu kembali membuat Cindy agak sedikit bete meski ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikannya. Tapi aku tahu dia cemburu, karena matanya berkata begitu kepadaku. Berdasarkan rasa peduliku yang tinggi terhadap teman akhirnya aku menghibur ia dengan cara yang biasanya asik menurut mereka para wanita. Cara apa? Yap benar, popotoan.
Aku berdua dengan Silma yang difoto dan Cindy yang pangmotokeun. Mulai dari bergaya gagah ala Soekarno, bergaya bolotot ala BJ Habibie, hingga bergaya tersenyum lebar ala Megawati. Tapi entah kenapa, caraku ini ternyata tidak berhasil untuk Cindy, dia jelas masih terlihat bete. Entah kanapa. Aku tak mengerti.
Mungkin ada yang salah dengan caraku tapi aku tak tahu itu. Atau mungkin juga ini karena memang Cindy yang salah karena tetap bertahan pada konsep “Jatuh Cinta Diam-Diamnya?” Atau juga mungkin ini karena Cindy yang terlalu bodoh, karena berharap terlalu banyak dari lelaki yang ia cintai? Entahlah, namun satu yang pasti dan kalian harus tahu itu, saat ini aku ngantuk. Sudah itu saja.
6
            Dan andai Cindy membaca ini, aku hanya ingin bilang “Cindy kawanku, Beginilah hidup”. Karena hidup tak selamanya bahagia ! Kadang ditikung, kadang diharkos, kadang diselingkuhin, dan kadang di kamu terlalu baik-in. Watir yah? Iyah )):. Dan ketahuilah Cindy, ketahuilah bahwa setiap manusia pasti pernah mengalami pengalaman sepertimu. Setidaknya sekali dalam hidupnya. Pasti mereka pernah mengalami bogoh ka kabogoh batur. (kabogoh batur: pacar orang yang nantinya jadi pacar ku)
Tapi, dibalik semua itu, aku kagum padanya. Ia tetap tulus mencintai dan tetap setia mendo’akan meski dia tahu dia tak dicintai. Dan dibalik kekagumanku padanya, aku juga merasa agak sedikit kasian kepadanya. Kenapa? Karena seharusnya dia segera berpaling dari Rangga, tapi entah kenapa dia malah panceg di Rangga. (panceg: gatau artinya apa) . Dan satu lagi, menurutku Cindy belegug. (belegug: Pintar yang tak jadi).
Namun memang benar kata orang, belegug is awesome. Cindy lebih memilih tetap bertahan pada kisah “Jatuh Cinta Diam-diam” nya dibanding mencari orang baru yang mungkin lebih dapat membuatnya bahagia. Tapi percayalah, pada akhirnya, yang datang secara tiba-tiba, akan selalu pergi secara tiba-tiba pula. Begitupun cinta.

Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar