![]() |
| Part II ; Fotonya juga 2 |
Ini cerita lanjutan dari kisah sebelumnya, masih tetap
garing dan tak menarik, tapi tetap harus dibaca karena ini bukanlah lagu ataupun
film drama korea. Aku lupa sampai mana waktu itu aku cerita, yang jelas aku
tetap seperti biasa, dan biasanya aku tampan, hanya hari ini saja aku terlihat
jelek, bukan karena apa-apa, tapi karena ada kamu disampingku. Siapa? Pacar
temanku. Ah sudahlah. Apalah ini. Aku potong dulu bagian ini dan berusaha fokus
ke kamu. Maksudku cerita kita. Bukan, maksudku ceritaku yang kan ku ceritakan kepadamu.
1
Tasikmalaya, 04:00 WIB aku terbangun dari lelapku.
Dibangunkan oleh dering ponsel. Lebih tepatnya alarm ponsel. Alarm ponsel makin
berdering nyaring, cukup lama sehingga memaksa tidurku terjaga. Tapi aaah, sial
! Mataku terasa berat dan enggan terangkat. Kenapa ini Tuhan? Apakah ini yang
dinamakan cinta ? Apakah ini yang dinamakan rindu ? Apakah ini yang dinamakan
sayang? Oke skip. Apa cenah ieu teh? Gatau )):
Sampai mana tadi ? Ahiya, sampai mataku terasa berat. Oke,
balik ke cerita. Mataku terasa berat dan enggan terangkat. Pantas saja, itu
mungkin karena tadi malam aku tertidur pulas tepat pada pukul satu lewat dua
belas. Aku sulit tertidur, bukan karena apa-apa. Itu pasti karena sisa kopi
tadi malam ! Bukan, itu karena aku keasikan stalking (baca: kepo-in) timeline
gebetan orang lain hingga akhirnya lupa waktu di twitter. Siapa? Rahasia.
Aku pergi menuju kamar mandi, bukan untuk berwudhu. Bukan
itu, aku tak se religius itu. Percayalah. Aku hanya ingin membuat pancuran berwarna
kuning keemasan di kamar mandi, membuat gayung dan ember berinteraksi disana,
yang tentu ada air didalamnya.
2
Tapi, ceritaku yang ini agak berbeda dari cerita
sebelumnya. Kenapa? Karena ini bukan cerita tentang Firman, maaf Man, bagianmu
sudah ku ceritakan waktu itu dan sekarang bagian teman ku yang lain yang mungkin
kamu kenal. Dialah Cindy. Sudah kubilang ini hanyalah nama samaran dan orang
lain tidak peduli. Tapi, jika kamu menyimak cerita sebelumnya kamu pasti sudah
mengenal Cindy yang ku ceritakan satu bait waktu itu. Ini cerita tentang kasih
asmara yang dia belum ceritakan kepadaku, tapi aku tahu karena temannya
bercerita kepadaku dimalam itu.
Cindy
ini pemeran utama dalam ceritaku, padahal kalau aku mau, aku sendirilah yang
jadi pemeran utamanya. “Tapi ceritamu tak se seru ceritaku” kata Cindy saat
membaca cerita ini, mungkin. Entahlah. Karena saat aku menulis cerita ini,
maksudku mengetik cerita ini dia sudah tidur. Entahlah, aku takut salah, aku
tidak tahu karena tidak satu rumah, kalau satu atap iyah. Karena kita sama-sama
tinggal di bawah langit.
Sebenarnya aku masih ingin bercerita banyak tentang Firman
dan Rida. Tapi buat apa? Cerita cinta mereka bahkan sampai sekarang tidak ada
perkembangan. Masih tetap begitu. Masih di dominasi dengan diam. Diam-diam
memandang, diam-diam tersenyum, diam-diam sedih, diam-diam hitut, diam-diam
busiat. Selalu saja begitu. Kasian yah? Iyah )):
Jadi akhirnya, dengan berat hati aku menceritakan temanku
yang lainnya. Sebenarnya gak berat sih, hanya pura-pura saja agar cerita ini
ada sedihnya padahal enggak. Kisah ini aku tulis, maksudku aku ketik karena aku
mendapat sebuah request dari seorang teman. Jangan bertanya siapa namanya, kalian
tak perlu tahu, dan aku tak ingin membahasnya, maklum dia cantik. Siapa? Sudah
ku bilang jangan diceritakan, nanti dia baca, yang ada dia ke geer an, dan aku
malas jika dia tiba-tiba mengirimkan pesan lewat bbm “makasih, karena aku ada
di ceritamu dan kamu bilang aku cantik.”
3
Aku lupa awal ceritanya bagaimana, yang aku ingat waktu
itu pagi hari dan cuaca sedang cerah, entah bagaimana rasanya yang jelas aku
merasa masih berada di Tasikmalaya sana, namun suasana disini agak berbeda,
apalagi saat bangun subuh tadi, saat ku lihat kanan kiri ternyata sedang
berbaring empat temanku yang lainnya. Lengkap dengan nada khas paduan suaranya.
Pagi
itu, kita di jadwalkan makan pagi di tempat yang sama persis di tempat kita
makan tadi malam. Hanya saja tidak diiringi nyanyian penyanyi berdada besar
itu. Ah tidak, maksudku penyanyi yang di tali pita di pinggangnya itu. Tapi,
ketika semua orang sudah berada di tempat itu, aku malah masih berada di dalam
kamar hotel. Dan sialnya Firman malah curhat kepadaku padahal aku sendiri sama
seperti dia, iyah lapar.
Disitu
lah aku kembali bertemu dengan Cindy, ia sudah berada disana dari tadi. Mungkin
sejak dua puluh menit yang lalu. Dia makan bersama ke sembilan kawannya. Tak
kan kusebutkan siapa saja kawannya, karena terlalu banyak. Kalau kusebutkan,
nanti malah aku yang kebingungan memikirkan nama samaran untuk mereka semua.
Dan aku tak ingin kebingungan ketika mengetik cerita ini, cukup matematika saja
yang membuat aku kebingungan, cerita ini jangan !
Kulihat
dia tidak benar-benar fokus makan, walaupun tangan dan mulutnya berinteraksi,
tapi jelas-jelas tatapan matanya malah menatap ke lelaki yang berada di meja
ujung sana. Lelaki yang sedang bercanda mesra dengan wanita lainnya. Lelaki
yang sedang tertawa dengan wanitanya. Maksudku lelaki yang sedang tertawa
dengan wanita yang berada di sampingnya. Dan wanita itu sebenarnya sahabat
baiknya. Salsa, nama samaran. Dan lelaki yang sedang tertawa dengan Salsa
bernama Rangga, nama samaran juga.
Dari
pandangan matanya terlihat jelas, bahwa ia lapar. Bukan, dia cemburu. Dia
cemburu melihat lelaki yang ia cintai malah mencintai sahabatnya dan cinta yang
ia punya tak dibalas cinta lagi oleh Rangga.
Wajar
saja Cindy cemburu, kenapa? Karena ialah yang lebih dulu dekat dengan Rangga.
Bahkan jauh-jauh hari sebelum Rangga dekat dengan Salsa. Tapi entah bagaimana
ceritanya, Rangga justru malah berpacaran dengan Salsa, ah tidak juga, maksudku
terlihat berpacaran dengan Salsa. Maaf kalau aku terdengar plin plan, aku takut
salah. Karena aku tak pernah melihat Rangga menembak Salsa. Yang kurasa belum
pernah, karena sampai saat aku mengetik cerita ini pun Salsa masih berhembus
nafasnya dan terlihat sehat wal’afiat. Tapi entahlah, biarkan itu menjadi
urusan Tuhan dan malaikat. Aku tidak ingin ikut campur.
4
Sampai mana tadi? Aku lupa. Ahiya, sampai makan pagi.
Setelah makan pagi, aku pun bersama Cindy dan yang lainnya pergi menuju
destinasi selanjutnya. Dan yang aku ingat kami pergi menuju sebuah benteng
pertahanan bekas jajahan dulu. Entah apa itu namanya, kurasa Benteng Gedebrug.
Kalau tidak salah. Dan maaf kalau aku salah. Sudah kubilang aku bukan orang
sana.
Benteng Gedebrug, 14:00 WIB aku sampai setelah duduk ber
jam-jam di Bis berwarna hijau yang dipinggirnya ada kalimat Karunia Bakti, bis
itu ber AC dan aku kedinginan. Andai saja ada kamu mungkin aku akan sedikit
merasa hangat, tapi ah percuma karena sikap mu pun masih dingin terhadapku. Oh
ya, aku dan kawanku sudah turun dari bis yang kurasa dingin tapi kawanku tidak,
karena dia masih merasa kepanasan setelah tahu calon pacarnya diambil orang,
siapa? Cindy. Yang ku ceritakan tadi.
Singkat cerita, kami semua sudah turun dari bis, dan kami
diberi dua pilihan oleh panitia. Memilih pergi menelusuri Benteng Gedebrug itu
dulu atau langsung pergi ke Taman Pintar? Wajar saja kami diberi pilihan itu,
Benteng Gedebrug dan Taman Pintar ternyata berdiri berdampingan, bukan di
pelaminan ! Bukan juga di nikahan teman ! Bukan itu ! Karena keduanya bukan
orang, mereka berdiri berdampingan di Kota Pelajar sana. Keduanya sama-sama
luas, sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengeksplorasi keduanya.
Dan dengan berbagai pertimbangan yang lama serta cukup berat karena telah berdebat
dengan perasaan dan pikiran, aku akhirnya memutuskan, diantara Benteng Gedebrug
dan Taman Pintar, aku lebih memilih pergi ke toilet.
Sialnya, setelah aku kembali dari toilet, semua temanku
termasuk panitia sudah berpencar pergi. Entah kemana. Namun satu yang pasti,
mereka semua meninggalkanku, teman macam apa itu? Apakah itu yang dinamakan
teman? Apakah itu yang dinamakan
persahabatan? Haaaah ? Oke skip. Ini baper.
Beda cerita dengan Cindy, Sarah, dan Silma. Mereka masih
di tempat semula dan masih asik mengobrol satu sama lainnya. Ohiya, aku lupa,
Sarah adalah teman dekat Cindy, bukan nama asli. Silma juga, bukan nama asli
pula.
Mereka bertiga, ah tidak. Maksudku, mereka berlima.
Karena Cindy dihitung tiga, mereka berlima sedang asik bercanda di dekat patung
disekitaran benteng Gedebrug itu, Entah tentang apa mereka bercanda, tapi satu
yang pasti, kurasa secara tidak sadar mereka tidak meninggalkanku dan sengaja
menungguku. Aku terharu karena itu, kalau mereka membaca ceritaku ini, aku
ingin berkata terima kasih kepada Cindy, Sarah, dan Silma ! “Cindy, Sarah,
Silma, terima kasih karena telah menungguku waktu itu !” Baiklah sudah, balik
lagi ke cerita. Dan dengan segala keberanianku akhirnya aku mendekati mereka.
“Siga nu rame yeuh,
keur naraon euy?” (Kayaknya seru nih, lagi ngapain nih?) tanyaku
“Katingalina?”
(Kelihatannya?) sahut Cindy ketus
“Teuing” (Gatau) jawabku
“Heug atuh” (Yaudah)
jawab Silma singkat.
“Ih ): ” ucapku
“Naon?” (apa?) Tanya
Silma
“Teu ! ))):” (Enggak !)
Jawabku singkat.
Dan dengan segala basa-basi yang kulakukan, akhirnya aku
bergabung bersama mereka. Kami pun sepakat untuk mengeksplorasi taman pintar
itu terlebih dahulu, lantas nantinya akan kami lanjutkan menuju benteng
gedebrug itu.
5
Baiklah, disini banyak sekali cerita yang cukup seru,
menurutku. Tapi tunggu, aku mau beli kopi dan segenggam kasih sayang yang tulus
dulu.
Oke,
aku lanjut lagi, tapi ga tau harus mulai dari mana yang pasti saat itu kami
diarahkan menuju satu ruangan yang didalamnya terdapat banyak foto presiden
mulai dari Soekarno sampai Soesilo Bambang Yudhoyono. Joko Widodo? Entahlah,
gak tau ada atau tidak, aku lupa dan aku tidak peduli.
Di sana ternyata sudah ada Rangga dan Salsa yang sedang
bercanda mesra. Dan itu kembali membuat Cindy agak sedikit bete meski ia
berusaha sekuat tenaga menyembunyikannya. Tapi aku tahu dia cemburu, karena
matanya berkata begitu kepadaku. Berdasarkan rasa peduliku yang tinggi terhadap
teman akhirnya aku menghibur ia dengan cara yang biasanya asik menurut mereka
para wanita. Cara apa? Yap benar, popotoan.
Aku
berdua dengan Silma yang difoto dan Cindy yang pangmotokeun. Mulai dari bergaya
gagah ala Soekarno, bergaya bolotot ala BJ Habibie, hingga bergaya tersenyum
lebar ala Megawati. Tapi entah kenapa, caraku ini ternyata tidak berhasil untuk
Cindy, dia jelas masih terlihat bete. Entah kanapa. Aku tak mengerti.
Mungkin
ada yang salah dengan caraku tapi aku tak tahu itu. Atau mungkin juga ini
karena memang Cindy yang salah karena tetap bertahan pada konsep “Jatuh Cinta
Diam-Diamnya?” Atau juga mungkin ini karena Cindy yang terlalu bodoh, karena
berharap terlalu banyak dari lelaki yang ia cintai? Entahlah, namun satu yang
pasti dan kalian harus tahu itu, saat ini aku ngantuk. Sudah itu saja.
6
Dan andai Cindy membaca ini, aku hanya ingin bilang
“Cindy kawanku, Beginilah hidup”. Karena hidup tak selamanya bahagia ! Kadang
ditikung, kadang diharkos, kadang diselingkuhin, dan kadang di kamu terlalu
baik-in. Watir yah? Iyah )):. Dan ketahuilah Cindy, ketahuilah bahwa setiap
manusia pasti pernah mengalami pengalaman sepertimu. Setidaknya sekali dalam
hidupnya. Pasti mereka pernah mengalami bogoh ka kabogoh batur. (kabogoh batur:
pacar orang yang nantinya jadi pacar ku)
Tapi,
dibalik semua itu, aku kagum padanya. Ia tetap tulus mencintai dan tetap setia
mendo’akan meski dia tahu dia tak dicintai. Dan dibalik kekagumanku padanya,
aku juga merasa agak sedikit kasian kepadanya. Kenapa? Karena seharusnya dia
segera berpaling dari Rangga, tapi entah kenapa dia malah panceg di Rangga.
(panceg: gatau artinya apa) . Dan satu lagi, menurutku Cindy belegug. (belegug:
Pintar yang tak jadi).
Namun
memang benar kata orang, belegug is awesome. Cindy lebih memilih tetap bertahan
pada kisah “Jatuh Cinta Diam-diam” nya dibanding mencari orang baru yang
mungkin lebih dapat membuatnya bahagia. Tapi percayalah, pada akhirnya, yang
datang secara tiba-tiba, akan selalu pergi secara tiba-tiba pula. Begitupun
cinta.
Bersambung . . . . . .
. . . . . . . . . .


Tidak ada komentar:
Posting Komentar