Jumat, 06 November 2015

Sekelumit Kisah di Kota Pelajar

          
  Sore itu, langit, suhu udara, dan cuaca terasa lebih berbeda dari biasanya. Mendung ! Agak aneh, namun yang jelas aku merasa ada beberapa hal yang sama dengan suasana sore kemarin. Tapi satu yang pasti, suasana disini agak sedikit berbeda. Walaupun di satu sisi aku tetap menganggap suasana sore itu tak berbeda sama sekali dengan sore kemarinnya.
            Tapi aku tidak ingin bercerita tentang semua itu, karena aku bukan pekerja BMKG. Aku ingin bercerita tentang dia, satu dari ribuan orang yang kuanggap kawanku. Kawan baikku, dan entah dia menganggapku apa, itu tidak penting sekarang.
            Malam ini, pukul 22:42 WIT (Waktu Indonesia Tasikmalaya), aku sedang menulis cerita tentangnya, tentang kisah di kota Pelajar. Perkenalkan, namaku Fakhriy, cukup nama saja yang kalian tahu, karena ini bukan cerita tentangku. Ini cerita tentang kawanku. Namanya Firman, itu hanya nama samaran, disini aku tidak ingin memberitahu nama yang sebenarnya. Aku takut di akhir cerita dia malah meminta royalty atas penggunaan namanya.
            Jika kalian ingin tahu, fisiknya cukup tinggi, mungkin agak sepantaran dengan penulis terkenal itu, yang karya-karyanya sangat unik dan keren, aaaah siapa itu namanya? Ohiya Raditya Dika ! Iya kurasa ia memiliki tinggi yang sama dengan Raditya Dika. Cukup tinggi bukan? Oke, itu tidak penting. Tulisan ini akan aku lanjutkan, sampai mana tadi? Ohiya, ciri fisik ! Kulitnya putih, matanya dua, dan dua telinga yang dilengkapi dengan lubangnya. Tidak heran perangainya tak terdengar asing oleh kalian, mungkin itu karena dia manusia atau mungkin hanya sekedar mirip. Entahlah hanya dia, Tuhan, dan orang tuanya yang tahu.
            Sebelumnya, maaf kalau ceritaku tak terstruktur dan terkesan ngaler ngidul, mungkin itu karena aku bukanlah seorang penulis, cerita ini pun aku ketik bukan ku tulis. Baiklah langsung pada awal cerita, eh tapi aku tidak akan memulainya dengan kata “Pada Zaman Dahulu”, karena ini bukan cerita tentang Tutur Tinular ataupun Jaka Tingkir. Lagipula cerita ini terjadi beberapa tahun lalu, di sebuah tempat yang memang sudah disiapkan untuk aku dan mereka kunjungi. Tidak perlu ku sebutkan tempat apa, dan lagipula tempat itu sudah sangat terkenal. Bahkan pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia beberapa tahun ke belakang. Dan menurutku aku tak perlu memaparkan tempat itu secara jelas, aku malas.
1
            Di tempat itu, dia bertemu dengan seorang gadis, bukan gitaris, bukan pula pria berbaju gamis ! Hanya seorang gadis ! Gadis yang sering ia temui pula di sekolahnya. Yang kebetulan ketika berangkat menuju tempat itu mereka masuk dalam satu bus yang sama. Ah tidak ! Maksudku, itu bukan suatu kebetulan. Itu sudah direncanakan. Direncanakan Tuhan dan pihak sekolah yang telah merencanakan hal ini jauh-jauh hari sebelum aku mengetik cerita ini.  Gadis itu bernama Rida, nama samaran juga, nama aslinya tidak tahu. Lagipula kalian pun tak perlu tahu.
Sebenarnya mereka sudah saling kenal, di dunia maya. Dunia nyata juga. Saat itu aku dan banyak temanku termasuk dia dan Rida baru sampai di tempat yang cukup luas. Entah pukul berapa waktu itu, aku malas mengingatnya.
Di sana kami dikumpulkan di satu tempat, entah apa itu namanya, namun yang pasti di tempat tersebut banyak sekali bus dan mobil pribadi yang sedang berhenti. Orang-orang sana bilang tempat itu biasa dinamakan tempat parkir. Entahlah, aku tak tau mengapa tempat tersebut dinamakan tempat parkir. Aku bukan orang sana yang tahu asal-usul tempat itu.
Setelah dikumpulkan dan diberi pengarahan, kami diarahkan untuk langsung pergi berjalan kaki menuju tempat wisata yang terkenal itu. Belum beberapa kaki aku langkahkan. Terlihat ada sepasang kekasih yang kebetulan mereka bule, ah tidak juga, maksudku dua orang bule ! Maaf. Aku takut salah menyebutkan. Aku tak tahu kalau mereka itu pasangan atau bukan. Karena aku sama sekali tak mengenal mereka. Siapa tahu kalau mereka itu sebenarnya hanya sebatas dua orang yang melakukan hubungan pertemanan biasa tapi salah satunya mencinta? Apa itu nama kerennya? Ahiya, friendzone. Atau, siapa tahu kalau mereka itu sebenarnya keluarga, sepasang adik kakak? Atau sepasang teman yang terjebak cerita adik kakak-an? Atau juga mungkin saja mereka memang pasangan? Hanya saja sudah menjadi mantan? Apalah ini. Lanjut ke cerita. Mereka berdua sedang pacatrok huntu (baca: unjuk gigi). Itu hanya ungkapan, jangan diperpanjang nanti kalian makin penasaran, dan heran kenapa aku malah cerita tentang ini.
2
            Setelah melihat fenomena sosial itu, ku bermaksud untuk kembali melanjutkan jalan kaki lagi. Namun betapa kagetnya saat aku melanjutkan jalan, sebenarnya tak kaget sih, hanya pura-pura saja agar cerita ini ada klimaksnya padahal belum. Disana Firman sedang asik mengobrol , dengan siapa kalian pasti tahu. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas itu bukan tentang tulisan yang sedang aku buat ini, karena belum jadi. Oh ya, saat tulisan ini aku buat, playlist musik ku Sheila On 7, dan lagu yang sedang melantun ini judulnya “Yang Terlewatkan” mungkin cocok buat soundtrack ceritaku jika dijadikan film.
            Sampai mana tadi? Maaf barusan aku kehausan, aku harus pergi ke depan sebentar untuk mengambil minum, dan akhirnya ketiduran di depan. Sekarang aku lanjutkan lagi ceritanya. Aku tinggalkan mereka yang sedang asik mengobrol. Makin menjauh ke depan dan akhirnya menghilang dari pandangan mereka. Sampai akhirnya aku sampai di tempat tujuan, disana tak lupa aku mengeluarkan kamera digital ku yang dulu dan kebetulan sekarang sudah hilang untuk melakukan kegiatan yang biasa anak-anak muda lakukan. Yap, popotoan. Karena aku terlalu keasikan popotoan, sampai-sampai aku tak sadar bahwa Firman sudah ada disampingku lagi.
“Man, pangmotokeun aing lah ! Geuwat.” (Man, tolong fotoin saya ! Cepat) pintaku
“Heeuh hok atuh geuwat sia geura ngagaya !” (Iya, yaudah cepat kamu bergaya !) sahut Firman
“Oke” timpal aku lagi sembari bergaya ala pria cool dan keren padahal tidak.
            Waktu kami menikmati hari di tempat itu hampir habis, dan aku bersama mereka yang tadi pagi pergi bersamaku bersiap untuk pergi ke hotel. Jika kalian belum tahu, kami akan melakukan kegiatan yang biasa kami sebut check in. Tidak ditemani wanita, tidak pula ditemani pemandu lagu di sana. Tapi kami beramai-ramai dalam satu kamar. Lima orang dalam satu kamar. Kurang lebih ! Entahlah, aku lupa lagi, tapi aku akan berusaha mengingatnya untuk kalian. Kalau aku tidak lupa, aku akan revisi kalimat pada bagian ini. Jadi kalau kalian kebetulan sedang membaca cerita pada bagian ini, tolong ingatkan aku untuk merevisinya. Itu pun kalau kalian bersedia.
            Aku satu kamar dengan empat orang lainnya, semuanya laki-laki ! Tapi itu bukan berarti kami homo alami, hanya saja kami terpaksa karena penghuni kamar sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan dan pihak sekolah. Ya sudahlah, kami pun pasrah dengan takdir ini. Lagipula kami semua kawan akrab. Ohiya, maaf di cerita ini aku sengaja melewatkan moment dimana aku meluangkan waktu beberapa menit untuk mengobrol dan bercanda ria dengan Cindy, namanya ku samarkan lagi.
3
            Malam hari di kota Pelajar, tepatnya pukul 19:00 itupun kalau tak salah. Aku bersama beberapa kawanku pergi menuju salah satu ruangan di hotel tersebut yang tak ku ketahui namanya. Yang jelas, tujuan kami sama ! Makan malam.  Setibanya di tempat tersebut, ternyata sudah mengantri jejeran orang yang tampak lapar. Aku tidak ikut,karena belum.
            Seperti kata pepatah, sambil berenang tikereleup ! Kami makan sambil dihibur oleh seorang penyanyi yang tidak terkenal. Entah siapa itu, aku pun tak tahu karena tak kenal. Penyanyi itu berjenis kelamin wanita, muda, tapi tak cukup muda untuk aku pacari ! Pakaian yang ia kenakan bagus, warna kuning, ah tidak, maksudku itu berwarna oren. Ah tidak juga, hijau itu. Pakaian yang ia kenakan cukup ketat, bahkan pinggang nya di tali oleh pita yang bagus. Sehingga bagian dadanya terlihat lebih besar. Ah entahlah. Aku tak tahu apakah penyanyi itu merasa sesak atau tidak, tapi satu yang pasti, aku yang sekedar melihatnya saja menjadi sesak.
            Di tempat tadi, teman-temanku dengan lahapnya memakan apa saja yang ada di depannya. Hanya saja mereka tidak memakan meja, gelas dan piringnya, mungkin itu karena mereka sudah wareug (wareug: kenyang) dan takut kabeureuyan awi meja (kabeureuyan: keselek). Sebagian temanku lagi berceloteh tentang apa saja, aku tak tahu, karena tak memerhatikannya. Dan sebagian lagi ikut berjoget bersama penyanyi tadi dan berfoto di depan.
            Aku sendiri asik berbincang dengan Ihza, Nisa dan Imam walau hanya pura-pura agar mereka senang, sedangkan Firman dan Rida tidak membuka percakapan sama sekali, mungkin itu yang dinamakan “Jatuh Cinta Diam-Diam”, “Jatuh Cinta Sendirian”, “Secret Admirer” atau apapun namanya. Kami asik berbincang sampai larut malam, dan datang seseorang, tak akan ku sebut namanya, karena lupa ! Dia telihat bete mungkin karena cape. Lalu berlalu begitu saja.
4
            Waktu itu pukul 22:45 WIB, sebagian orang sudah banyak yang kembali ke kamarnya masing-masing. Sementara kami masih berbincang menikmati suasana dan mendengarkan teman kami yang dengan sejuta kelebihannya pergi ke depan untuk menyumbangkan lagu. Dialah Aco, nama aslinya Putra Fajar. Sengaja tak kusamarkan namanya agar dia bangga nantinya. Dia berduet dengan seorang kawan yang kebetulan merangkap jabatan sebagai guru di sekolah kami. Pak Angga namanya. Daaan, pantas saja mereka ingin sekali menyumbangkan lagu di malam itu, ternyata suara mereka benar-benar sumbang. Kasian mereka.
            Berjam-jam kami disana menghabiskan waktu untuk berbincang dan tertawa. Berbincang tentang apa saja sambil menertawakan sumbangnya suara ke dua teman kami. Ku lihat mata Rida memperhatikan Firman, tapi Firman sendiri malah memperhatikan Aco dan pak Angga. Mata Rida tidak lepas memperhatikan Firman, lalu Firman melirik balik, mata mereka bertemu. Aku tersenyum, bukan karena melihat mereka, tapi aku menguping pembicaraan wanita yang bersama pacarnya itu, kalian tahu lelaki itu bukan pacarnya. Aku senang, tapi buat apa? Hingga akhirnya malam makin malam. Perbincangan kami menemui titik jenuh, dan Aco bersama pak Angga pun sedari tadi sudah tamat memamerkan suaranya. Kami pun akhirnya kembali ke kamar masing masing entah untuk apa, mungkin untuk terlelap. Padahal kami tak ingin terlelap saat itu, setidaknya belum.
            Singkat cerita kami pergi ke kamar masing-masing. Aku diajak oleh beberapa kawanku untuk pergi ke luar hotel, entah untuk apa. Aku tak mau, aku pun ketiduran, tapi tidak jadi karena dibangunkan lagi.
            Malam semakin larut, sebagian banyak orang lebih memilih terlelap di saat langit makin menggelap. Namun tidak dengan aku, Firman, Rida, dan tiga orang lainnya. Kami lebih memilih berdiam di luar kamar, lebih tepatnya di depan kamarku. Tak melakukan perbincangan, hanya memakan beberapa bungkus good time dan meminum kopi yang baru kami beli di loby.
            Tapi ada sedikit cerita tentang Firman dan Rida. Entah mengapa mereka selalu diam saat bertemu, hanya saja selalu dekat. Tak terpisahkan jarak. Tidak seperti di sms dan chat bbm antara mereka. Mereka selalu terbuka, mungkin mereka canggung atau mungkin memang mereka tidak ditakdirkan untuk saling berbincang. Namun ku yakin hati mereka saling bertemu di peraduan rindu. Kuharap. Mereka kelak akan menjadi sepasang kekasih, walau ku tahu Rida masih teringat mantannya di Tasikmalaya sana. Tapi dia bukan orang bego, yang terkadang memang iya. Rida bisa menyembunyikan kesakitannya untuk menjaga perasaan Firman. Firman sendiri ku kira memang lelaki istimewa. Dia memang tidak menunjukan kecemburuannya atau mungkin dia memang tidak cemburu sama sekali. Entahlah, itu rahasia mereka.
            Kuharap malam ini saat ku tulis cerita tentang mereka, Tuhan mendengar apa yang aku harapkan. Iya aku berharap cerita ini cepat selesai, karena aku ngantuk.
5
            Cerita ini memang ku ceritakan singkat dan tidak menarik. Tapi untuk kami yang mengalaminya itu sangat berkesan. Karena apa ? Karena malam itu mengajarkan bahwa jika ingin di foto jangan di malam hari, karena itu terlalu gelap untuk kamera BB Gemini 8250 ku. Kawan saat aku selesai menulis cerita ini, percayalah aku tidak langsung tidur, karena aku harus cuci muka dan cuci kaki dulu. Tidak, percayalah saat aku selesai menulis cerita ini aku sedang mengumpulkan puing-puing kenangan yang sudah berceceran karena tidak langsung kurangkai. Maaf jika tulisan ini tidak bisa mewakili perasaan kalian yang dalam. Sudah kubilang aku bukanlah penulis.

            Ini hanya sebuah cerita monolog. Mungkin. Karena aku tidak mengerti. Maklum aku bukan anak sastra B. Indonesia. Nilai ulangan Indonesia ku pun yang terakhir tak lebih dari 57. Tak seperti mereka. Cerita aslinya sengaja aku simpan rapat agar menjadi rahasia kita. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar