Sore itu, langit, suhu udara, dan cuaca terasa lebih berbeda dari biasanya. Mendung ! Agak aneh, namun yang jelas aku merasa ada beberapa hal yang sama dengan suasana sore kemarin. Tapi satu yang pasti, suasana disini agak sedikit berbeda. Walaupun di satu sisi aku tetap menganggap suasana sore itu tak berbeda sama sekali dengan sore kemarinnya.
Tapi aku tidak ingin bercerita tentang semua itu, karena
aku bukan pekerja BMKG. Aku ingin bercerita tentang dia, satu dari ribuan orang
yang kuanggap kawanku. Kawan baikku, dan entah dia menganggapku apa, itu tidak
penting sekarang.
Malam ini, pukul 22:42 WIT (Waktu Indonesia Tasikmalaya),
aku sedang menulis cerita tentangnya, tentang kisah di kota Pelajar.
Perkenalkan, namaku Fakhriy, cukup nama saja yang kalian tahu, karena ini bukan
cerita tentangku. Ini cerita tentang kawanku. Namanya Firman, itu hanya nama
samaran, disini aku tidak ingin memberitahu nama yang sebenarnya. Aku takut di
akhir cerita dia malah meminta royalty atas penggunaan namanya.
Jika kalian ingin tahu, fisiknya cukup tinggi, mungkin
agak sepantaran dengan penulis terkenal itu, yang karya-karyanya sangat unik
dan keren, aaaah siapa itu namanya? Ohiya Raditya Dika ! Iya kurasa ia memiliki
tinggi yang sama dengan Raditya Dika. Cukup tinggi bukan? Oke, itu tidak
penting. Tulisan ini akan aku lanjutkan, sampai mana tadi? Ohiya, ciri fisik !
Kulitnya putih, matanya dua, dan dua telinga yang dilengkapi dengan lubangnya. Tidak
heran perangainya tak terdengar asing oleh kalian, mungkin itu karena dia
manusia atau mungkin hanya sekedar mirip. Entahlah hanya dia, Tuhan, dan orang
tuanya yang tahu.
Sebelumnya, maaf kalau ceritaku tak terstruktur dan terkesan
ngaler ngidul, mungkin itu karena aku bukanlah seorang penulis, cerita ini pun aku
ketik bukan ku tulis. Baiklah langsung pada awal cerita, eh tapi aku tidak akan
memulainya dengan kata “Pada Zaman Dahulu”, karena ini bukan cerita tentang Tutur
Tinular ataupun Jaka Tingkir. Lagipula cerita ini terjadi beberapa tahun lalu,
di sebuah tempat yang memang sudah disiapkan untuk aku dan mereka kunjungi.
Tidak perlu ku sebutkan tempat apa, dan lagipula tempat itu sudah sangat
terkenal. Bahkan pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia beberapa
tahun ke belakang. Dan menurutku aku tak perlu memaparkan tempat itu secara
jelas, aku malas.
1
Di
tempat itu, dia bertemu dengan seorang gadis, bukan gitaris, bukan pula pria
berbaju gamis ! Hanya seorang gadis ! Gadis yang sering ia temui pula di
sekolahnya. Yang kebetulan ketika berangkat menuju tempat itu mereka masuk
dalam satu bus yang sama. Ah tidak ! Maksudku, itu bukan suatu kebetulan. Itu
sudah direncanakan. Direncanakan Tuhan dan pihak sekolah yang telah
merencanakan hal ini jauh-jauh hari sebelum aku mengetik cerita ini. Gadis itu bernama Rida, nama samaran juga,
nama aslinya tidak tahu. Lagipula kalian pun tak perlu tahu.
Sebenarnya
mereka sudah saling kenal, di dunia maya. Dunia nyata juga. Saat itu aku dan
banyak temanku termasuk dia dan Rida baru sampai di tempat yang cukup luas.
Entah pukul berapa waktu itu, aku malas mengingatnya.
Di
sana kami dikumpulkan di satu tempat, entah apa itu namanya, namun yang pasti
di tempat tersebut banyak sekali bus dan mobil pribadi yang sedang berhenti.
Orang-orang sana bilang tempat itu biasa dinamakan tempat parkir. Entahlah, aku
tak tau mengapa tempat tersebut dinamakan tempat parkir. Aku bukan orang sana
yang tahu asal-usul tempat itu.
Setelah
dikumpulkan dan diberi pengarahan, kami diarahkan untuk langsung pergi berjalan
kaki menuju tempat wisata yang terkenal itu. Belum beberapa kaki aku
langkahkan. Terlihat ada sepasang kekasih yang kebetulan mereka bule, ah tidak
juga, maksudku dua orang bule ! Maaf. Aku takut salah menyebutkan. Aku tak tahu
kalau mereka itu pasangan atau bukan. Karena aku sama sekali tak mengenal
mereka. Siapa tahu kalau mereka itu sebenarnya hanya sebatas dua orang yang
melakukan hubungan pertemanan biasa tapi salah satunya mencinta? Apa itu nama
kerennya? Ahiya, friendzone. Atau, siapa tahu kalau mereka itu sebenarnya
keluarga, sepasang adik kakak? Atau sepasang teman yang terjebak cerita adik
kakak-an? Atau juga mungkin saja mereka memang pasangan? Hanya saja sudah
menjadi mantan? Apalah ini. Lanjut ke cerita. Mereka berdua sedang pacatrok
huntu (baca: unjuk gigi). Itu hanya ungkapan, jangan diperpanjang nanti kalian
makin penasaran, dan heran kenapa aku malah cerita tentang ini.
2
Setelah melihat fenomena sosial itu, ku bermaksud untuk
kembali melanjutkan jalan kaki lagi. Namun betapa kagetnya saat aku melanjutkan
jalan, sebenarnya tak kaget sih, hanya pura-pura saja agar cerita ini ada
klimaksnya padahal belum. Disana Firman sedang asik mengobrol , dengan siapa
kalian pasti tahu. Entah apa yang mereka obrolkan yang jelas itu bukan tentang
tulisan yang sedang aku buat ini, karena belum jadi. Oh ya, saat tulisan ini
aku buat, playlist musik ku Sheila On 7, dan lagu yang sedang melantun ini
judulnya “Yang Terlewatkan” mungkin cocok buat soundtrack ceritaku jika
dijadikan film.
Sampai mana tadi? Maaf barusan aku kehausan, aku harus
pergi ke depan sebentar untuk mengambil minum, dan akhirnya ketiduran di depan.
Sekarang aku lanjutkan lagi ceritanya. Aku tinggalkan mereka yang sedang asik
mengobrol. Makin menjauh ke depan dan akhirnya menghilang dari pandangan
mereka. Sampai akhirnya aku sampai di tempat tujuan, disana tak lupa aku
mengeluarkan kamera digital ku yang dulu dan kebetulan sekarang sudah hilang
untuk melakukan kegiatan yang biasa anak-anak muda lakukan. Yap, popotoan.
Karena aku terlalu keasikan popotoan, sampai-sampai aku tak sadar bahwa Firman
sudah ada disampingku lagi.
“Man, pangmotokeun aing
lah ! Geuwat.” (Man, tolong fotoin saya ! Cepat) pintaku
“Heeuh hok atuh geuwat
sia geura ngagaya !” (Iya, yaudah cepat kamu bergaya !) sahut Firman
“Oke” timpal aku lagi
sembari bergaya ala pria cool dan keren padahal tidak.
Waktu kami menikmati hari di tempat itu hampir habis, dan
aku bersama mereka yang tadi pagi pergi bersamaku bersiap untuk pergi ke hotel.
Jika kalian belum tahu, kami akan melakukan kegiatan yang biasa kami sebut
check in. Tidak ditemani wanita, tidak pula ditemani pemandu lagu di sana. Tapi
kami beramai-ramai dalam satu kamar. Lima orang dalam satu kamar. Kurang lebih
! Entahlah, aku lupa lagi, tapi aku akan berusaha mengingatnya untuk kalian. Kalau
aku tidak lupa, aku akan revisi kalimat pada bagian ini. Jadi kalau kalian
kebetulan sedang membaca cerita pada bagian ini, tolong ingatkan aku untuk
merevisinya. Itu pun kalau kalian bersedia.
Aku satu kamar dengan empat orang lainnya, semuanya
laki-laki ! Tapi itu bukan berarti kami homo alami, hanya saja kami terpaksa
karena penghuni kamar sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan dan pihak
sekolah. Ya sudahlah, kami pun pasrah dengan takdir ini. Lagipula kami semua
kawan akrab. Ohiya, maaf di cerita ini aku sengaja melewatkan moment dimana aku
meluangkan waktu beberapa menit untuk mengobrol dan bercanda ria dengan Cindy,
namanya ku samarkan lagi.
3
Malam hari di kota Pelajar, tepatnya pukul 19:00 itupun
kalau tak salah. Aku bersama beberapa kawanku pergi menuju salah satu ruangan
di hotel tersebut yang tak ku ketahui namanya. Yang jelas, tujuan kami sama !
Makan malam. Setibanya di tempat
tersebut, ternyata sudah mengantri jejeran orang yang tampak lapar. Aku tidak
ikut,karena belum.
Seperti kata pepatah, sambil berenang tikereleup ! Kami
makan sambil dihibur oleh seorang penyanyi yang tidak terkenal. Entah siapa
itu, aku pun tak tahu karena tak kenal. Penyanyi itu berjenis kelamin wanita,
muda, tapi tak cukup muda untuk aku pacari ! Pakaian yang ia kenakan bagus,
warna kuning, ah tidak, maksudku itu berwarna oren. Ah tidak juga, hijau itu.
Pakaian yang ia kenakan cukup ketat, bahkan pinggang nya di tali oleh pita yang
bagus. Sehingga bagian dadanya terlihat lebih besar. Ah entahlah. Aku tak tahu
apakah penyanyi itu merasa sesak atau tidak, tapi satu yang pasti, aku yang
sekedar melihatnya saja menjadi sesak.
Di tempat tadi, teman-temanku dengan lahapnya memakan apa
saja yang ada di depannya. Hanya saja mereka tidak memakan meja, gelas dan
piringnya, mungkin itu karena mereka sudah wareug (wareug: kenyang) dan takut
kabeureuyan awi meja (kabeureuyan: keselek). Sebagian temanku lagi berceloteh
tentang apa saja, aku tak tahu, karena tak memerhatikannya. Dan sebagian lagi
ikut berjoget bersama penyanyi tadi dan berfoto di depan.
Aku sendiri asik berbincang dengan Ihza, Nisa dan Imam walau
hanya pura-pura agar mereka senang, sedangkan Firman dan Rida tidak membuka
percakapan sama sekali, mungkin itu yang dinamakan “Jatuh Cinta Diam-Diam”,
“Jatuh Cinta Sendirian”, “Secret Admirer” atau apapun namanya. Kami asik
berbincang sampai larut malam, dan datang seseorang, tak akan ku sebut namanya,
karena lupa ! Dia telihat bete mungkin karena cape. Lalu berlalu begitu saja.
4
Waktu itu pukul 22:45 WIB, sebagian orang sudah banyak
yang kembali ke kamarnya masing-masing. Sementara kami masih berbincang
menikmati suasana dan mendengarkan teman kami yang dengan sejuta kelebihannya
pergi ke depan untuk menyumbangkan lagu. Dialah Aco, nama aslinya Putra Fajar. Sengaja
tak kusamarkan namanya agar dia bangga nantinya. Dia berduet dengan seorang
kawan yang kebetulan merangkap jabatan sebagai guru di sekolah kami. Pak Angga
namanya. Daaan, pantas saja mereka ingin sekali menyumbangkan lagu di malam
itu, ternyata suara mereka benar-benar sumbang. Kasian mereka.
Berjam-jam kami disana menghabiskan waktu untuk
berbincang dan tertawa. Berbincang tentang apa saja sambil menertawakan
sumbangnya suara ke dua teman kami. Ku lihat mata Rida memperhatikan Firman,
tapi Firman sendiri malah memperhatikan Aco dan pak Angga. Mata Rida tidak
lepas memperhatikan Firman, lalu Firman melirik balik, mata mereka bertemu. Aku
tersenyum, bukan karena melihat mereka, tapi aku menguping pembicaraan wanita
yang bersama pacarnya itu, kalian tahu lelaki itu bukan pacarnya. Aku senang,
tapi buat apa? Hingga akhirnya malam makin malam. Perbincangan kami menemui
titik jenuh, dan Aco bersama pak Angga pun sedari tadi sudah tamat memamerkan
suaranya. Kami pun akhirnya kembali ke kamar masing masing entah untuk apa,
mungkin untuk terlelap. Padahal kami tak ingin terlelap saat itu, setidaknya
belum.
Singkat cerita kami pergi ke kamar masing-masing. Aku
diajak oleh beberapa kawanku untuk pergi ke luar hotel, entah untuk apa. Aku
tak mau, aku pun ketiduran, tapi tidak jadi karena dibangunkan lagi.
Malam semakin larut, sebagian banyak orang lebih memilih
terlelap di saat langit makin menggelap. Namun tidak dengan aku, Firman, Rida,
dan tiga orang lainnya. Kami lebih memilih berdiam di luar kamar, lebih
tepatnya di depan kamarku. Tak melakukan perbincangan, hanya memakan beberapa
bungkus good time dan meminum kopi yang baru kami beli di loby.
Tapi ada sedikit cerita tentang Firman dan Rida. Entah
mengapa mereka selalu diam saat bertemu, hanya saja selalu dekat. Tak
terpisahkan jarak. Tidak seperti di sms dan chat bbm antara mereka. Mereka
selalu terbuka, mungkin mereka canggung atau mungkin memang mereka tidak
ditakdirkan untuk saling berbincang. Namun ku yakin hati mereka saling bertemu
di peraduan rindu. Kuharap. Mereka kelak akan menjadi sepasang kekasih, walau
ku tahu Rida masih teringat mantannya di Tasikmalaya sana. Tapi dia bukan orang
bego, yang terkadang memang iya. Rida bisa menyembunyikan kesakitannya untuk
menjaga perasaan Firman. Firman sendiri ku kira memang lelaki istimewa. Dia
memang tidak menunjukan kecemburuannya atau mungkin dia memang tidak cemburu
sama sekali. Entahlah, itu rahasia mereka.
Kuharap malam ini saat ku tulis cerita tentang mereka,
Tuhan mendengar apa yang aku harapkan. Iya aku berharap cerita ini cepat
selesai, karena aku ngantuk.
5
Cerita ini memang ku ceritakan singkat dan tidak menarik.
Tapi untuk kami yang mengalaminya itu sangat berkesan. Karena apa ? Karena
malam itu mengajarkan bahwa jika ingin di foto jangan di malam hari, karena itu
terlalu gelap untuk kamera BB Gemini 8250 ku. Kawan saat aku selesai menulis
cerita ini, percayalah aku tidak langsung tidur, karena aku harus cuci muka dan
cuci kaki dulu. Tidak, percayalah saat aku selesai menulis cerita ini aku
sedang mengumpulkan puing-puing kenangan yang sudah berceceran karena tidak
langsung kurangkai. Maaf jika tulisan ini tidak bisa mewakili perasaan kalian
yang dalam. Sudah kubilang aku bukanlah penulis.
Ini hanya sebuah cerita monolog. Mungkin. Karena aku
tidak mengerti. Maklum aku bukan anak sastra B. Indonesia. Nilai ulangan
Indonesia ku pun yang terakhir tak lebih dari 57. Tak seperti mereka. Cerita
aslinya sengaja aku simpan rapat agar menjadi rahasia kita. Terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar