Selasa, 17 November 2015

Sekelumit Kisah di Kota Pelajar III


Ini masih cerita lanjutan dari kisah sebelumnya. Masih bercerita tentang Sekelumit Kisah di Kota Pelajar. Masih tidak berisi. Masih tidak penting. Dan masih tetap tak menarik. Tapi maaf, maaf kalau cerita yang ini sudah tidak garing lagi. Cerita ini sudah basah. Iya. Cerita ini sudah basah, sangatlah basah. Cerita ini dibasahi air mata seseorang yang titajong cingir (cingir:kelingking) nya ke salah satu ujung kaki meja. Siapa? Aku ! Tapi, ah sudahlah, aku skip bagian ini. Meski ku ceritakan pun kalian mungkin takkan peduli. Karena siapa aku untukmu? Aku bukan siapa-siapa.
1
            Eh tapi tunggu dulu, sebelum aku memulai cerita ini, aku ingin makan terlebih dahulu. Aku teramat lapar malam ini. Ohiya, ngomong-ngomong kamu yang disana sudah makan belum? Makan dulu sana ! Entar sakit loh, kalau kamu sakit nanti yang mau nyakitin aku lagi siapa coba? Jadi, makan yaa ! Oke? Teu ! Sip.
            Ah iya, aku hampir lupa. Part ini bukan cerita tentang Rida dan Firman. Bukan pula cerita tentang Cindy, Salsa dan Rangga. Part ini ku khususkan untuk salah satu temanku yang lainnya. Salah satu temanku yang menjadi sahabat dari sahabat temanku yang mempunyai sahabat, sahabat dari sahabat sahabatnya temanku ini akhirnya menjadi sahabatku juga. Siapa? Silma. Siapa dia? Jika kamu menyimak cerita sebelumnya kamu pasti sudah mengenal Silma yang ku ceritakan waktu itu. Iya, ini cerita tentang aku dan Silma.
2
            Saat itu, Kota Pelajar, jam nya aku kurang tahu karena memang tidak tahu. Aku, Cindy, Silma dan Sarah menyusuri ruangan Taman Pintar. Satu persatu, senti demi senti, inci demi inci. Hampir tak ada satu titik pun yang kita lewatkan. Tapi, ah tidak juga, maksudku hampir tidak ada titik yang mereka lewatkan. Karena aku melewatkan semuanya. Kenapa? Karena saat itu aku sibuk mengecek dunia maya yang memang sedang rame-ramenya. Iya, TL twitter saat itu lagi rame-ramenya (TL: Timeline), mulai dari adanya tukang online shop peninggi badan, tukang online shop pemutih wajah, tukang promot, tukang retweetin tweet orang, tukang retweetin tweet orang yang sudah di retweet temannya, tukang skill cewek orang, tukang jawab pertanyaan dari akun yang mengadakan kuis, tukang harkos, tukang phpin anak orang, tukang tikung. Ah banyak deh pokoknya.
            Tapi saat kita sampai di suatu tempat yang kalau tak salah ingat tempat itu banyak ikannya, aku mulai menyadari, bahwa aku telah membuang waktu-waktu berhargaku di kota ini. Seharusnya aku menikmatinya. Bukan membuang-buang waktu ku dengan tertawa sendiri. Seharusnya aku tertawa bersama. Iya, tertawa bersama orang-orang disekitarku. Bersama teman-temanku. Dan akhirnya, aku pun menyimpan ponsel ku di saku baju Silma, ah tidak, maksudku, saku bajuku.
            Setelah itu , eh tunggu dulu, sepertinya aku haus, aku ingin beli orson dulu ke warung Ceu Beti. (orson: minuman yang terkenal pada zamannya). Oke, ku lanjut lagi, tapi gak tahu harus mulai dari mana. Ahiya, mungkin aku akan mulai dari ciri fisik Silma saja. Silma ini orang Tasik bukan orang utan, cantik tapi aku tidak mencintainya, mungkin belum karena disini ada yang lebih dulu menyukainya, siapa? Sebut saja Rian, bukan temanku, aku tidak tahu nama aslinya tapi namanya tetap ku samarkan. Agar ia tidak meminta royalty nantinya.
            Singkat cerita, setelah aku memasukkan ponselku ke saku bajuku, aku tidak sengaja dan tidak sadar menatap wajah Silma. Begitu lama, entah berapa lama waktu itu, mungkin dua kali empat puluh lima menit lamanya. Tapi entahlah. Aku lupa. Aku sadar, ternyata Silma memang benar-benar mempunyai wajah yang cukup menarik, dan cantik. (maaf aku bohong, Silma yang minta). Daaaan, ah sial, tatapannya benar-benar merusak iman. Dan lebih sialnya lagi, imanku yang memang hanya sa tai kukueun Pak Agus (guru Pai) ku di sekolah sana akhirnya runtuh dan luluh. Aku malah keasikan berada didekatnya. Seolah-olah Kota Pelajar ini merupakan tempat dua dari banyak kepala bertemu untuk kemudian dipersatukan rasa yang sama. Padahal sebenarnya tidak.
            Seperti kata Payung Teduh di salah satu lagunya, ia berkata “Adaaaa yang tak sempat tergambarkan, oleh kata ketika kita berduaaa ~”
            Seperti itulah, padahal aslinya tidak. Kita disana berjalan berempat, ah tidak, maksudku ber enam. Karena Cindy dihitung tiga. Mungkin jika ditambah satu orang lagi kita akan resmi menjadi girlband dengan aku sebagai manajer nya.
3
            Di salah satu ruangan yang banyak ikannya di Taman Pintar itu terlihat Silma digoda oleh penjaga tiket disana, tapi tidak jadi. Mungkin karena ia takut kepadaku yang memang kebetulan berada di dekat Silma. Atau mungkin karena ia yang iba kepadaku, melihat mukaku yang teu puguh judul ini. Entahlah, aku tidak tahu, aku tidak bertanya kepadanya waktu itu. Aku lupa, lagipula, kalaupun aku ingat, aku tidak mau bertanya kepadanya.
Tapi akhirnya, setelah melalui berbagai macam gangguan yang tidak penting kami pun melakukan sesi pengabadian moment di tempat itu. Satu, dua, tiga, empat, jepretan telah dilakukan. Setelah kami lihat hasilnya, akhirnya kami memutuskan untuk tidak melanjutkan sesi pemotretan. Kenapa? Ternyata rarai kami hinyai dan tak enak dipandang. Ah sial what a mother fucker men? Eh astagfirullah )):
Selanjutnya, kami pun melanjutkan jalan ke ruangan selanjutnya. Dan sampailah kami di satu ruangan dimana aku merasa berada di zaman yang tak asing lagi bagiku. Yup tepat sekali. Aku masuk ke ruangan prasejarah. Disini banyak sekali sudut-sudut yang perlu diabadikan lewat kamera. Akhirnya sesi pemotretan dilanjutkan disini, mulai dari gaya jongkok ala Pithecanthropus, gaya seram ala Tyrannosaurus, hingga gaya ala madog endog dinosaurus. Banyak sekali gaya yang kami lakukan.
Setelah kami puas menambah ilmu dan berfoto disana, akhirnya kami melanjutkan perjalanan, dan kami masuk ke ruangan besar yang menceritakan tentang seluk beluk ruang angkasa. Scene disini akan ku skip dan takkan ku ceritakan. Mengapa? Karena kurasa disini terlampau membosankan bagi kalian. Menurutku begitu. Entahlah.
4
            Singkat cerita, aku, Silma, Sarah, dan Cindy masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan Scientist, entah apa itu artinya, tapi di tempat inilah, aku bersama ke lima temanku kecapean. Ya, lima (Sarah, Silma, Cindy, Cindy, Cindy).
            Aku menjadikan moment ini sebagai ajang modus ku kepada Silma. Yap modus. Entah apa itu artinya, tapi teman-temanku bilang itu artinya adalah modol na dus, entahlah. Aku kurang mengerti.
            Dengan beberapa trick skill ku dan omong kosong yang kurasa tidak terlalu penting, akhirnya aku makin dekat dan makin rapet dengan Silma. Iya makin rapet. Bukan karena aku dan silma meminum jamu sari rapet untuk merapetkan…. Ngggh ah sudahlah aku lupa mau bicara apa tadi, tapi bukan karena itu. Ini murni karena semua omong kosong ku berhasil membuat Silma sedikit tersenyum.
“Ohiya Silma !” Ucapku membuka percakapan
“Euy” Jawab Silma.
“Tadi pagi kamu mandi pake sabun lekboy gak?”
“Gak !”
“Ohiya atuh oke, ngggh Silma !”
“Euy”
“Teu”
“Sip”
“Kamu suka Persib gak?”
“Gak !”
“Anjis dejek ):”
“Bae” (Biarin)
“Ngggh Silma !”
“Naon atuh? Talapung geura ku aing !” (Apa sayang? Diem ih, nanti di cium geura ku aku)
“Oke-oke siap ):”
“Sip”
“Nggh Silma !”
“Nyaan ieu budak ngajak ribut !” (Bener ini anak cakep banget)
“Hehehe ampun atuh ih ):”
“Deuleu siah mun sakali deui” (Liat aja kalau sekali lagi)
“Oke nyaan ieu mah” (Oke, beneran kalau sekarang mah)
“Ngggh Silma”
“Naon aisia Sarkojaaaaaa ! )):” (Apa ganteng?)
“Kamu mau gak jadi pacar aku?”
“Kamu punya apa?”
“Aku punya motor mio orisinil, bukan punyaku sih, tapi punya si bapa yang akan selalu mengajakmu pergi ke tempat yang kau sukai”
“Lalu?”
“Aku punya dua tangan yang akan selalu menjagamu dari godaan tukang kiridit yang terkutuk”
“Hmmm . . .”
“Dan aku punya cinta yang tulus dari dasar hati yang paling dalam sedalam legok di jalan Cintaraja hareupeun Dishub sana”
“Oh. . .”
“Jadi kamu mau kan jadi pacar aku?”
“Enggak”
“ :’’’(((  ”
             
Bersambung . . . . . . . . . . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar