![]() |
| Cinta ? |
Terkadang, perpisahan tak
benar-benar mengakhiri segalanya. Karena sosok yang sangat harus kau lupakan,
begitu menetap abadi dalam ingatan. Kupikir, aku berhasil melupakanmu. Tapi
persetan ! Berani-beraninya kenangan itu kembali datang tersenyum sumringah,
meskipun jalan kita tak bertemu, tapi bagiku, kau tetap indah.
Entah sudah berapa puluh jam waktu
ku terbuang untuk memperhatikanmu disini. Iya, hanya memperhatikan, sekedar
memandang. Tak lebih. Sebab kau tak hargai hadirku sama sekali.
Padahal jarak kita cukup dekat? Ah
iya, kita tak pernah benar-benar bicara meskipun jarak kita tak bersekat. Kita
tak pernah benar-benar tertawa meskipun bersama. Kita tak pernah benar-benar
saling menatap meskipun berada dalam satu atap. Ya, kita sama-sama menetap
bersama dalam satu langit. Satu semesta.
Kita adalah dua yang tak mungkin
disatukan. Kita adalah tanaman layu yang tak mungkin lagi dimekarkan.
Kita merindu dalam hening, saling mendo’akan
masing-masing, menikmati luka, berpura-pura tidak suka. Rasa tak pernah salah,
mungkin waktu lah yang bermasalah. Padahal, harapku kita berjalan beriringan,
berdampingan, setapak demi setapak. Bukan kau di depan, aku dibelakang, bukan
kau berlari, aku tertatih. Bukan kau pergi, aku tergeletak perih.
Bukan itu ! Bukan kisah seperti itu
yang aku inginkan. Percayalah, sayang ! Bukanlah itu ! Untuk apa kamu
melakukannya? Menguji besarnya cintaku? Menguji berapa besar kepedulianku
terhadapmu? Mempermainkanku? Atau, kau hanya ingin membuatku bosan, kemudian
memilih pergi? Kau pasti berada di salah satunya.
Bisakah kita saling menyingkirkan
ego, dan membiarkan rindu ini dilebur dalam satu dekap panjang tanpa perlu
banyak berbincang, sayang? Bisakah kamu tak menganggap dirimu terlalu berharga
untukku? Bisakah? Aku jenuh, sayang. Dan, aku juga berharga.
Mau berkata jika itu tidak patut?
Lalu apakah kau patut membuatku luka? Kau lucu ! Se-egois itu.
Tapi benar tentang apa yang
dikatakan pujangga diluar sana, kamu tak bisa memilih dengan siapa kamu jatuh
cinta. Meskipun tahu tak seharusnya mencintai dia, kadang kamu tetap akan
mencintainya. Itu semua benar. Aku tak bisa menyangkalnya.
Karena, jatuh cinta yang baik
bukanlah yang direncanakan. Cinta akan mendatangimu, membuatmu jatuh, sebelum
kamu sadar apa yang sedang terjadi. Tapi begitulah, namanya “Jatuh Cinta”,
bukan “Meletakkan Cinta”. Jadi, ya harap maklum kalau jatuhnya bisa dimana
saja.
Tetapi, perasaan sayang
menyelamatkanku dari jenuhnya kesabaran. Juga cinta dalam dada yang
menjadikanmu lebih berharga dari rasa egoisku di kepala. Pergilah ! Jika aku
memang bukan pintamu. Mari lakukan hal yang semestinya kita lakukan. Lenyapkan
rasa jenuhmu, lenyapkan rasa bersalahmu. Aku akan membunuh cintaku. Tak usah
memikirkan perasaanku.
Aku cukup tabah, aku sudah pernah
patah sebegitu parahnya. Menurutku, patah hati terparah adalah ketika yang
terpercaya berubah arah. Lepaskan saja jika memang ingin kau lepas. Pergilah
saja jika memang ingin kau pergi. Perihal sesaknya, biarlah itu menjadi
urusanku.
Satu yang pasti dan mesti kau tahu,
sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi. Dan satu lagi, sebelum
kita saling mengabaikan, kita pernah saling mendo’akan. Tapi, ah entahlah.
Sialan ! Cinta membuatku keras kepala. Meski tak ditakdirkan bersama, aku tetap
meminta hal yang sama dalam setiap do’a.
Dan satu yang pasti dan yang ku
yakini. Tak saling mengungkap rasa, tak saling mempertemukan rindu, tak saling
memberi kabar. Tak berarti semua cintanya telah hilang. Aku yakin itu !
Semua orang tentunya ingin serius,
tapi serius saja tidaklah cukup. Hubungan cinta tak bisa selamanya mengalir
seperti air. Dan pada akhirnya, realita akan selalu menang, karena wujudnya
lebih nyata dari pengharapan.
Kita hanyalah dua orang yang gagal,
gagal bersabar, gagal saling mendengarkan. Kita adalah dua yang tak dipisahkan
namun tak pula disatukan. Namun ketahuilah, Sayang, apa-apa yang telah kau
buang, kau tak kan pernah bisa pulang. Pikirkan dengan kepalamu, tanyakan pada
hatimu, apa kita memang harus berakhir begini? Sebab apa yang kau sudahi, tak
kan pernah bisa diulang kembali.
Satu hal yang harus kamu tahu, aku
mencintaimu tidak seperti dia, mereka atau mantanmu. Aku mencintaimu dengan
caraku.
Adakah yang lebih luka, saat kau
mencoba tersenyum di hadapan orang yang pernah kau cinta, sementara kau bukan
siapa-siapa lagi di hatinya? Adakah yang lebih perih dari nyanyian cinta sambil
berdansa di atas piringan serpih? Sedangkan bayangannya telah berubah menjadi
ribuan keping yang berserak bertumpuk pedih?
Teruntuk bodohku. Pergilah. Kau
telah tertusuk tajamnya duri sekuntum mawar. Sembuhkan lukamu !
Dan teruntuk kamu cintaku, kamu ibarat hujan. Awalnya
sangat menyenangkan. Tetapi kemudian berubah menjadi dingin tanpa bisa kembali
menghangatkan. Untukmu, terima kasih.

Anjrit si eta mengungkapkan realitta wkwkwk 😄
BalasHapusBegitulah. Realita akan selalu lebih menarik dibandingkan pengharapan mi :v
HapusAnjirr kata katana rada bermakna ayeuna mah, :v
BalasHapusEntahlah, mungkin benar. Cinta selalu terdengar lebih bermakna dibanding kalimat lain ~
Hapus