Minggu, 22 November 2015

Ketika Cinta Menjadi Sebuah Kata

Cinta ?

            Terkadang, perpisahan tak benar-benar mengakhiri segalanya. Karena sosok yang sangat harus kau lupakan, begitu menetap abadi dalam ingatan. Kupikir, aku berhasil melupakanmu. Tapi persetan ! Berani-beraninya kenangan itu kembali datang tersenyum sumringah, meskipun jalan kita tak bertemu, tapi bagiku, kau tetap indah.
            Entah sudah berapa puluh jam waktu ku terbuang untuk memperhatikanmu disini. Iya, hanya memperhatikan, sekedar memandang. Tak lebih. Sebab kau tak hargai hadirku sama sekali.
            Padahal jarak kita cukup dekat? Ah iya, kita tak pernah benar-benar bicara meskipun jarak kita tak bersekat. Kita tak pernah benar-benar tertawa meskipun bersama. Kita tak pernah benar-benar saling menatap meskipun berada dalam satu atap. Ya, kita sama-sama menetap bersama dalam satu langit. Satu semesta.
            Kita adalah dua yang tak mungkin disatukan. Kita adalah tanaman layu yang tak mungkin lagi dimekarkan.
             Kita merindu dalam hening, saling mendo’akan masing-masing, menikmati luka, berpura-pura tidak suka. Rasa tak pernah salah, mungkin waktu lah yang bermasalah. Padahal, harapku kita berjalan beriringan, berdampingan, setapak demi setapak. Bukan kau di depan, aku dibelakang, bukan kau berlari, aku tertatih. Bukan kau pergi, aku tergeletak perih.
            Bukan itu ! Bukan kisah seperti itu yang aku inginkan. Percayalah, sayang ! Bukanlah itu ! Untuk apa kamu melakukannya? Menguji besarnya cintaku? Menguji berapa besar kepedulianku terhadapmu? Mempermainkanku? Atau, kau hanya ingin membuatku bosan, kemudian memilih pergi? Kau pasti berada di salah satunya.
            Bisakah kita saling menyingkirkan ego, dan membiarkan rindu ini dilebur dalam satu dekap panjang tanpa perlu banyak berbincang, sayang? Bisakah kamu tak menganggap dirimu terlalu berharga untukku? Bisakah? Aku jenuh, sayang. Dan, aku juga berharga.
            Mau berkata jika itu tidak patut? Lalu apakah kau patut membuatku luka? Kau lucu ! Se-egois itu.
            Tapi benar tentang apa yang dikatakan pujangga diluar sana, kamu tak bisa memilih dengan siapa kamu jatuh cinta. Meskipun tahu tak seharusnya mencintai dia, kadang kamu tetap akan mencintainya. Itu semua benar. Aku tak bisa menyangkalnya.
            Karena, jatuh cinta yang baik bukanlah yang direncanakan. Cinta akan mendatangimu, membuatmu jatuh, sebelum kamu sadar apa yang sedang terjadi. Tapi begitulah, namanya “Jatuh Cinta”, bukan “Meletakkan Cinta”. Jadi, ya harap maklum kalau jatuhnya bisa dimana saja.
            Tetapi, perasaan sayang menyelamatkanku dari jenuhnya kesabaran. Juga cinta dalam dada yang menjadikanmu lebih berharga dari rasa egoisku di kepala. Pergilah ! Jika aku memang bukan pintamu. Mari lakukan hal yang semestinya kita lakukan. Lenyapkan rasa jenuhmu, lenyapkan rasa bersalahmu. Aku akan membunuh cintaku. Tak usah memikirkan perasaanku.
            Aku cukup tabah, aku sudah pernah patah sebegitu parahnya. Menurutku, patah hati terparah adalah ketika yang terpercaya berubah arah. Lepaskan saja jika memang ingin kau lepas. Pergilah saja jika memang ingin kau pergi. Perihal sesaknya, biarlah itu menjadi urusanku.
            Satu yang pasti dan mesti kau tahu, sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi. Dan satu lagi, sebelum kita saling mengabaikan, kita pernah saling mendo’akan. Tapi, ah entahlah. Sialan ! Cinta membuatku keras kepala. Meski tak ditakdirkan bersama, aku tetap meminta hal yang sama dalam setiap do’a.
            Dan satu yang pasti dan yang ku yakini. Tak saling mengungkap rasa, tak saling mempertemukan rindu, tak saling memberi kabar. Tak berarti semua cintanya telah hilang. Aku yakin itu !
            Semua orang tentunya ingin serius, tapi serius saja tidaklah cukup. Hubungan cinta tak bisa selamanya mengalir seperti air. Dan pada akhirnya, realita akan selalu menang, karena wujudnya lebih nyata dari pengharapan.
            Kita hanyalah dua orang yang gagal, gagal bersabar, gagal saling mendengarkan. Kita adalah dua yang tak dipisahkan namun tak pula disatukan. Namun ketahuilah, Sayang, apa-apa yang telah kau buang, kau tak kan pernah bisa pulang. Pikirkan dengan kepalamu, tanyakan pada hatimu, apa kita memang harus berakhir begini? Sebab apa yang kau sudahi, tak kan pernah bisa diulang kembali.
            Satu hal yang harus kamu tahu, aku mencintaimu tidak seperti dia, mereka atau mantanmu. Aku mencintaimu dengan caraku.
            Adakah yang lebih luka, saat kau mencoba tersenyum di hadapan orang yang pernah kau cinta, sementara kau bukan siapa-siapa lagi di hatinya? Adakah yang lebih perih dari nyanyian cinta sambil berdansa di atas piringan serpih? Sedangkan bayangannya telah berubah menjadi ribuan keping yang berserak bertumpuk pedih?
            Teruntuk bodohku. Pergilah. Kau telah tertusuk tajamnya duri sekuntum mawar. Sembuhkan lukamu !
            Dan teruntuk kamu cintaku, kamu ibarat hujan. Awalnya sangat menyenangkan. Tetapi kemudian berubah menjadi dingin tanpa bisa kembali menghangatkan. Untukmu, terima kasih.

4 komentar:

  1. Anjrit si eta mengungkapkan realitta wkwkwk 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah. Realita akan selalu lebih menarik dibandingkan pengharapan mi :v

      Hapus
  2. Anjirr kata katana rada bermakna ayeuna mah, :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah, mungkin benar. Cinta selalu terdengar lebih bermakna dibanding kalimat lain ~

      Hapus